KBRT - Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Trenggalek dinilai perlu penyesuaian. Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Trenggalek menyarankan agar waktu pengolahan dan distribusi makanan digeser mengikuti jadwal berbuka puasa.
Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Virgianto, menjelaskan bahwa selama Ramadan target konsumsi anak berpindah ke waktu berbuka. Karena itu, skema distribusi yang biasanya dilakukan pagi hari perlu ditinjau ulang agar makanan tetap aman dan layak konsumsi.
“Untuk MBG di bulan ramadhan, target konsumsinya saat buka puasa. Berarti sebaiknya dilakukan pergeseran waktu pemrosesan dan distribusi makanan. Jika biasanya distribusi pagi, maka perlu disesuaikan dengan jadwal berbuka,” ujarnya.
Menurut Rio, penyesuaian jadwal tentu memiliki tantangan, terutama dalam koordinasi dengan pihak sekolah. Mekanisme pengambilan makanan oleh siswa harus diselaraskan agar tidak mengganggu aktivitas belajar maupun ketertiban di lingkungan sekolah.
Jika pergeseran waktu distribusi dinilai sulit diterapkan, PERSAGI menawarkan alternatif berupa penggantian menu menjadi makanan kering yang lebih fleksibel dari sisi penyimpanan dan ketahanan.
“Kalau tantangan pergeseran waktu sulit dilakukan, alternatifnya penggantian menu ke menu kering. Namun yang terpenting tetap memenuhi kebutuhan gizi anak-anak,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan protein tetap bisa dipenuhi melalui bahan seperti abon ikan atau abon daging. Sementara sumber energi dapat diperoleh dari roti, gandum, maupun bahan kering lainnya. Kurma juga dinilai relevan menjadi bagian dari menu Ramadan karena daya simpannya cukup baik tanpa pendinginan.
“Kurma juga bagus, kurma memang termasuk bahan makanan yang tahan tanpa pendinginan,” tambahnya.
Meski begitu, Rio mengingatkan dapur penyedia MBG agar selektif dalam memilih bahan makanan kering. Ia menyoroti produk ultra-proses yang telah melalui banyak tahapan pengolahan serta tambahan zat tertentu, sehingga kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa prinsip utama program MBG tetap pada keamanan pangan. Ada tiga faktor yang harus dijaga, yakni suhu, waktu, dan kebersihan. Ia kembali mengingatkan soal rentang suhu lima hingga enam puluh derajat Celsius yang dikenal sebagai “zona bahaya”, karena pada suhu tersebut bakteri dapat berkembang biak dengan cepat.
“Sekitar setiap 20 menit, bakteri bisa berkembang biak berlipat ganda pada suhu itu. Rekomendasi WHO, makanan matang yang berada pada suhu tersebut tanpa pemanasan atau pendinginan lanjutan idealnya dikonsumsi maksimal dua jam setelah matang,” paparnya.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz




















