Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Dibanding 2024, Bencana 2025 di Trenggalek Berkurang Tapi Lebih Mematikan

Jumlah kejadian bencana di Trenggalek menurun dari 413 kasus pada 2024 menjadi 192 kejadian di 2025, namun korban meninggal dunia justru meningkat.

Poin Penting

  • Kejadian bencana turun signifikan dari 2024 ke 2025
  • Korban meninggal naik dari 3 orang menjadi 12 orang
  • Longsor dan gerak tanah masih menjadi ancaman utama

KBRT - Kabupaten Trenggalek mengalami penurunan jumlah kejadian bencana alam sepanjang tahun 2025 dibandingkan 2024. Namun di balik penurunan tersebut, jumlah korban jiwa justru meningkat tajam, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek.

Pada tahun 2024, BPBD Trenggalek mencatat 413 kejadian bencana yang tersebar di 14 kecamatan dan 126 desa. Sementara pada tahun 2025, jumlah kejadian turun menjadi 192 kejadian yang terjadi di 14 kecamatan dan 104 desa/kelurahan.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono atau yang akrab disapa Triadi, menyebut bencana pada 2025 masih didominasi oleh longsor dan gerak tanah.

“Sepanjang 2025, total kejadian bencana di Trenggalek mencapai 192 kejadian. Paling banyak adalah tanah longsor dan gerak tanah sebanyak 109 kejadian,” kata dia.

Pada 2024, jenis bencana paling dominan juga berasal dari faktor hidrometeorologi dan geologi. Data BPBD mencatat 170 kejadian longsor dan gerak tanah, 82 kejadian cuaca ekstrem, 52 banjir, 72 kekeringan, serta 37 kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sementara pada 2025, selain 109 kejadian longsor dan gerak tanah, BPBD juga mencatat 45 kejadian banjir, 36 kejadian cuaca ekstrem, dan dua kejadian gelombang laut yang berdampak pada wilayah pesisir.

Dari sisi korban jiwa, perbandingan dua tahun tersebut menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 2024, BPBD mencatat 3 orang meninggal dunia, 1 orang luka berat, dan 4 orang luka ringan. Sedangkan pada 2025, korban meninggal meningkat menjadi 12 orang, dengan 1 orang luka sedang dan 2 orang luka ringan.

ADVERTISEMENT

Dampak kerusakan infrastruktur juga terjadi pada kedua tahun tersebut. Pada 2024, tercatat 308 rumah rusak ringan, 46 rumah rusak sedang, dan 2 rumah rusak berat. Sementara pada 2025, kerusakan rumah didominasi kategori ringan dengan 203 rumah rusak ringan, 15 rusak sedang, dan 15 rusak berat.

Kerusakan jalan dan jembatan juga mengalami dinamika. Pada 2024, terdapat tujuh jembatan rusak dengan berbagai tingkat kerusakan, sedangkan pada 2025 tercatat 13 jembatan terdampak, termasuk delapan jembatan rusak berat.

Triadi menegaskan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan dari sisi fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi masyarakat.

“Dampak bencana ini tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat,” ujar Stefanus Triadi.

Pada 2024, dampak sosial paling besar berasal dari kekeringan, dengan 21.740 kepala keluarga atau 56.173 jiwa terdampak. Sementara pada 2025, BPBD mencatat 4.313 kepala keluarga atau 13.782 jiwa terdampak, serta 226 kepala keluarga sempat mengungsi meski kini telah kembali ke rumah masing-masing.

BPBD Trenggalek mencatat total kerugian material tahun 2025 mencapai Rp12.279.402.900. Data tersebut, menurut Triadi, menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat mitigasi bencana ke depan.

“Data ini menjadi bahan evaluasi penting bagi kami dalam memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di Trenggalek ke depan,” ujar dia.

Kabar Trenggalek - Trenggalekpedia

Editor: Zamz