KBRT - Kabupaten Trenggalek memiliki pesona budaya yang sangat khas dalam merayakan bulan Ramadan. Hal ini, dapat terlihat pada antusiasme setiap masyarakat, saat menjalankan berbagai tradisi rutin yang digelar pada bulan Ramadan.
Berhubung kita sedang berada di pertengahan bulan Ramadan, masyarakat Bumi Menak Sopal mulai bersiap menyambut rangkaian tradisi turun-temurun yang memadukan nilai spiritualitas, gotong royong, dan keramah-tamahan yang luar biasa.
Tradisi rutin ini bukan hanya sekedar perayaan agama, melainkan sebuah identitas kultural yang mempererat tali silaturahmi antar warga. Berikut adalah sedikit ulasan mengenai ragam tradisi Lebaran khas Trenggalek yang telah kami rangkum:
Kupatan Durenan yang Ikonik
Puncak perayaan Lebaran di Trenggalek, secara teknis tidak jatuh pada tanggal 1 Syawal, melainkan pada tanggal 8 Syawal yang dikenal sebagai Kupatan Durenan. Dikutip melalui laman NU Online, tradisi ini dipelopori oleh keluarga besar Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan, yang secara historis berpuasa sunnah enam hari berturut-turut setelah hari raya pertama.
Keunikan utama dari tradisi ini, adalah konsep open house massal, di mana hampir setiap rumah di sepanjang jalan raya Durenan menyediakan hidangan ketupat sayur secara gratis bagi siapa saja yang melintas.
Wisatawan maupun pemudik, dapat langsung mampir ke rumah warga tanpa perlu mengenal pemiliknya terlebih dahulu, menciptakan suasana persaudaraan yang sangat kental dan jarang ditemukan di daerah lain.
Kampung LED dan Lampion
Dalam satu dekade terakhir, muncul sebuah tradisi modern yang cukup unik, dimana desa-desa di Trenggalek berlomba-lomba menghias lingkungan mereka dengan instalasi lampu LED yang megah.
Kawasan seperti Kelutan dan Widoro, biasanya menjadi pusat perhatian berkat gang-gang sempit mereka yang dirubah menjadi terowongan cahaya estetik. Tradisi ini, mencerminkan semangat gotong royong yang tinggi, karena seluruh biaya pengadaan lampu dan dekorasi berasal dari swadaya masyarakat setempat.
Kampung LED ini tidak hanya mempercantik suasana malam hari raya, tetapi juga menjadi destinasi wisata dadakan bagi masyarakat, untuk menciptakan suasana Lebaran yang penuh warna.
Ziarah Makam
Sebelum kemeriahan kupatan dimulai, masyarakat Trenggalek menjaga sisi religius mereka melalui ritual ziarah ke makam para leluhur dan ulama besar. Fokus utama peziarah, biasanya tertuju pada makam Mbah Mesir (K.H. Abdul Masir) yang ada di Durenan.
Ribuan orang dari berbagai daerah, akan memadati area pemakaman untuk mengirim doa dan mengenang jasa beliau. Ritual ini menjadi pengingat bagi warga, bahwa di balik kegembiraan hari raya, terdapat akar sejarah dan nilai-nilai keteladanan dari para pendahulu.
Tradisi Megengan
Sebagai pembuka rangkaian bulan suci, masyarakat Trenggalek memegang teguh tradisi Megengan yang dilakukan tepat sebelum tanggal 1 Ramadan. Secara filosofis, Megengan berasal dari kata "megeng" yang berarti menahan diri, sebagai simbol kesiapan memasuki bulan puasa.
Inti dari tradisi ini, adalah kenduri atau selamatan di masjid dan rumah-rumah warga, dengan menyajikan Kue Apem sebagai menu wajib, yang melambangkan permohonan ampun.
Selain doa bersama untuk arwah para leluhur, Megengan di Trenggalek juga identik dengan saling bertukar berkat, menunjukkan bahwa semangat berbagi sudah tertanam kuat bahkan sebelum ibadah puasa dimulai.
Kabar Trenggalek - Trenggalekpedia
Editor: Zamz





















