TRENGGALEK - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek kembali menuai sorotan. Penerima manfaat dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangsoko 3 mengeluhkan kualitas menu yang dinilai tidak konsisten, bahkan cenderung menurun dalam beberapa waktu terakhir.
Keluhan ini datang dari warga, termasuk wali murid dan penerima manfaat lain, yang mengaku sudah berulang kali menyampaikan protes. Namun, hingga kini mereka belum melihat perubahan signifikan dari pengelola dapur.
Seorang ibu menyusui asal Desa Sambirejo, yang meminta identitasnya dirahasiakan dan disebut Monic, mengaku kualitas makanan yang diterima tidak lagi seperti di awal program berjalan.
"Awalnya memang cukup baik, tapi semakin ke sini menunya makin kurang layak. Potongan ayamnya sangat sedikit, bahkan kondisi buahnya kadang kurang bagus," keluh Monic.
Menurutnya, keluhan tidak hanya datang dari dirinya. Ia menyebut banyak wali murid di SDN 1 Sambirejo yang juga menerima jatah dari dapur yang sama turut menyampaikan protes.
"Wali murid sudah sering protes dan memberikan penilaian buruk, tapi pengelola tidak melakukan perubahan nyata. Kualitasnya mungkin membaik sehari, tapi setelah itu kembali buruk lagi," cetusnya.
Perbandingan dengan wilayah lain semakin memperkuat kekecewaan warga. Monic mengaku mengetahui kualitas menu di wilayah Pogalan yang dinilai lebih baik.
"Teman saya di wilayah Pogalan mendapatkan menu yang enak dan sangat layak. Kalau dibandingkan, perbedaannya sangat mencolok," ungkapnya.
Perbedaan kualitas antar dapur ini memunculkan pertanyaan di kalangan penerima manfaat, mengingat program tersebut berasal dari sumber anggaran yang sama.
"Dananya sama, tapi kenapa hasilnya bisa berbeda-beda antar wilayah?" imbuhnya.
Selain porsi yang dinilai minim, kualitas bahan makanan juga menjadi sorotan. Monic mengaku beberapa kali menerima buah yang sudah tidak layak konsumsi.
"Beberapa kali buah pepaya atau semangka sudah tidak enak saat kami konsumsi. Ini jelas mengkhawatirkan dari sisi kesehatan," tegasnya.
Ia menduga persoalan ini berkaitan dengan lemahnya kontrol kualitas di tingkat dapur, serta perbaikan yang tidak dilakukan secara konsisten.
"Mereka hanya memperbaiki sebentar, lalu kembali lagi ke pola lama. Ini terus terjadi," ujarnya.
Keluhan ini menjadi perhatian bagi Satgas MBG Trenggalek. Sebelumnya, pada 11 April 2026, Satgas telah menyiapkan sistem pengawasan baru yang lebih terukur untuk memastikan kualitas program tetap terjaga.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto, menjelaskan bahwa ke depan setiap dapur SPPG akan dinilai menggunakan sistem skor layaknya rapor.
“Selama ini monitoring masih per sektor. Ke depan kita buat komprehensif, sehingga nanti SPPG ini bisa kita beri skor kualitas, seperti A, B, C. Ibaratnya kita beri rapor,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, kualitas masing-masing dapur dapat diukur secara lebih jelas, sekaligus memudahkan evaluasi.
“Kalau sudah ada scoring, kita bisa tahu secara kuantitatif. Misalnya nilainya sekian, berarti kekurangannya di mana. Dari situ keluar rekomendasi,” jelasnya.
Warga berharap evaluasi ini tidak hanya menjadi rencana, tetapi benar-benar diterapkan secara konsisten agar kualitas makanan yang diterima merata di semua wilayah.
"Harapan kami sederhana, pemerintah harus menjamin kualitas makanan yang layak dan setara di semua titik distribusi," kata Monic.
Kabar Trenggalek - Peristiwa
Editor: Zamz




















