TRENGGALEK – Warga di tiga kecamatan wilayah selatan Trenggalek, yakni Panggul, Pule, dan Dongko, sempat kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram atau gas melon selama Ramadan. Pemerintah Kabupaten Trenggalek langsung menelusuri penyebab kelangkaan tersebut sekaligus mengantisipasi lonjakan kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Perekonomian Setda Trenggalek, Agus Subchi, menyebut konsumsi LPG 3 kilogram memang meningkat selama bulan puasa. Selain kebutuhan memasak rumah tangga yang bertambah, muncul pula banyak pedagang takjil musiman yang ikut menggunakan gas subsidi tersebut.
“Jadi pada saat ini Ramadan, sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, kemudian tren penggunaan LPG 3 Kg di Trenggalek terutama ibu rumah tangga itu untuk penggunaan LPG 3 Kg mengalami peningkatan,” ujar Agus.
Menurutnya, aktivitas memasak selama Ramadan jauh lebih intens dibanding hari biasa. Warga tidak hanya menyiapkan makanan sahur dan berbuka, tetapi juga membuat berbagai hidangan tambahan termasuk takjil.
“Karena apa? karena selama ini hari-hari biasa masak rutinitas, bulan ramadan tambah masakan dan untuk memasak takjil itu bisa mempengaruhi jumlah penggunaan LPG 3 Kg. Kemudian ada banyak pedagang UMKM Takjil Musiman,” jelasnya.
Mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, Pemkab Trenggalek sebenarnya sudah lebih dulu mengajukan tambahan kuota LPG 3 kilogram ke Pertamina Kediri pada Februari 2026.
“Langkah anisipasi pemkab kemarin, pada saat ramadan Bulan Februari 2026 meminta tambahan kuota LPG 3 Kg ke Pertamina Kediri, untuk mengantisipasi hal tersebut, kami mengirim surat,” katanya.
Selain itu, pemerintah daerah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) juga melakukan pemantauan langsung ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Karangsoko untuk memastikan distribusi berjalan normal.
“Langkah kedua minggu kemarin kami bersama Forkopimda, melakukan pemantauan di SPBE Karangsoko,” ujarnya.
Dari hasil pemantauan tersebut diketahui pasokan LPG di Trenggalek mencapai sekitar 80 ton per hari yang berasal dari dua SPBE, yakni SPBE Karangsoko dan SPBE Kedungurah.
“Untuk kuota perhari itu 40 ton, dan di Trenggalek ada 2 SPBE di Kedungurah juga kuotanya 40 ton perhari, jadi totalnya 80 ton perhari atau 26.666 tabung yang didistribusikan di 14 Kecamatan di Trenggalek,” terang Agus.
Meski secara total pasokan masih tersedia, distribusi di wilayah dataran tinggi sempat terkendala. Hal itu diduga berkaitan dengan jalur pengiriman LPG yang sebagian melalui jalur laut.
“Kenapa di dataran tinggi mengalami kelangkaan di Kecamatan Panggul, Pule dan Dongko dari SPBE Karangsoko katanya karena pasokan LPG itu lewat jalur laut, dan beberapa hari kemarin ada informasi gelombang tinggi akhirnya menjadi kendala,” katanya.
Akibat kendala tersebut, distribusi LPG ke beberapa wilayah sempat tersendat dan memicu kelangkaan sementara di tingkat pangkalan.
“Imbasnya mengalami kelangkaan di beberapa daerah, selain itu konsumsi meningkat selama Ramadan,” lanjutnya.
Pemkab Trenggalek pun kembali mengupayakan tambahan kuota LPG khusus untuk periode Ramadan dan Idul Fitri, di luar kuota reguler tahunan.
“Antisipasi 2, pemantauan di SPBE dan meminta tambahan untuk Ramadan dan Idul Fitri selain kuota 1 tahun,” ujar Agus.
Namun, hingga kini belum ada kepastian jumlah tambahan kuota yang akan diberikan. “Untuk tambahan tidak menyebut jumlah berapa ton, cuman disarankan membuat tambahan kuota Ramadan, dan Idul Fitri,” katanya.
Terkait harga, Agus menjelaskan distribusi LPG memiliki tahapan harga dari SPBE hingga pangkalan.
“Untuk harga HET itu dari SPBE ke Agen Rp.16.000 kemudian dari Agen ke Pangkalan Rp. 18.000, di sekitaran saya cek Rp.20,000 tapi kalau di dataran tinggi Rp.22.000,” jelasnya.
Sebelumnya, Pemkab Trenggalek juga telah mengusulkan kebutuhan LPG 3 kilogram untuk tahun 2026 kepada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur. Usulan tersebut diajukan sejak Oktober 2025 untuk memastikan ketersediaan gas subsidi selama satu tahun.
“LPG 3 Kg kami mengajukan bulan Oktober 2025 untuk kuota digunakan 2026, usulan kami itu 10.767.204 tabung 3 Kg yang diusulkan ke ESDM untuk estimasi penggunaan satu tahun,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, kebutuhan LPG 3 kilogram di Trenggalek tidak hanya digunakan oleh rumah tangga, tetapi juga sektor pertanian dan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
“Peruntukannya untuk pertanian, karena warga Trenggalek yang petani sudah ada yang menggunakan diesel dengan LPG 3 Kg, kemudian untuk sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” jelasnya.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor: Zamz





















