Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

MBG Ramadan Tak Cukup Ganti Menu, Ahli Gizi Trenggalek Soroti Zona Bahaya Suhu Makanan

PERSAGI Trenggalek menekankan keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis saat Ramadan, terutama soal suhu, waktu distribusi, dan kebersihan.

Poin Penting

  • PERSAGI minta MBG Ramadan fokus pada keamanan pangan, bukan hanya menu.
  • Zona suhu 5–60 derajat Celsius disebut rawan pertumbuhan bakteri.
  • Distribusi makanan disarankan mendekati waktu berbuka puasa.

KBRT - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan diminta tidak hanya fokus pada perubahan jenis makanan. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Trenggalek menilai penyesuaian waktu pengolahan dan distribusi jauh lebih penting demi menjaga keamanan pangan, terutama karena makanan dikonsumsi saat berbuka puasa.

Ketua DPC PERSAGI Trenggalek, Rio Ardi Virgianto, menegaskan aspek utama dalam program tersebut tetap pada keamanan makanan.

“Keamanan pangan itu dipengaruhi suhu, waktu, dan kebersihan. Dalam suhu sendiri ada yang disebut zona bahaya, yaitu 5 derajat Celsius sampai 60 derajat Celsius,” ujarnya.

Pada rentang suhu itu, bakteri dapat berkembang dengan cepat. Rio menjelaskan, dalam kondisi zona bahaya, bakteri bisa berlipat ganda sekitar setiap 20 menit.

Merujuk rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), makanan matang yang berada pada suhu 5–60 derajat Celsius tanpa pemanasan atau pendinginan lanjutan sebaiknya dikonsumsi maksimal dua jam setelah dimasak.

Karena MBG selama Ramadan dikonsumsi saat berbuka, Rio menyarankan agar jadwal pengolahan dan distribusi digeser mendekati waktu buka puasa.

“Kalau biasanya distribusi pagi, sebaiknya digeser mendekati jadwal buka puasa,” jelasnya.

Ia mengakui, skema tersebut memerlukan koordinasi dengan pihak sekolah, terutama bila pengambilan makanan dilakukan di lingkungan sekolah.

Jika pergeseran waktu sulit diterapkan, barulah opsi penggantian menu menjadi alternatif. Ia menyinggung wacana penggunaan menu kering seperti yang pernah disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

ADVERTISEMENT

“Menu kering itu alternatif. Tapi yang utama tetap pergeseran waktu pemrosesan dan distribusi,” tegasnya.

Menurut Rio, menu kering tetap harus memenuhi kebutuhan gizi anak, khususnya protein dan energi. Protein bisa diperoleh dari abon ikan atau abon daging, sedangkan energi dari roti atau gandum. Namun ia mengingatkan agar dapur MBG selektif dalam memilih bahan.

“Beberapa bahan makanan kering sudah termasuk ultra proses, melalui tahapan berulang dan tambahan zat kimia. Itu juga kurang baik,” ujarnya.

Ia juga menyebut kurma sebagai salah satu opsi yang relatif aman selama Ramadan karena tahan tanpa pendinginan dan tetap bernilai gizi.

Terkait ketahanan makanan, Rio kembali menegaskan batas aman konsumsi pada suhu 5–60 derajat Celsius adalah maksimal dua jam. Jika disimpan pada suhu di atas 60 derajat Celsius, makanan dapat bertahan sekitar tiga hingga empat jam.

Sedangkan pada suhu ruang sekitar 20 derajat Celsius, makanan non-kering tetap disarankan dikonsumsi dalam waktu dua jam setelah matang.

Menanggapi penggunaan wadah tertutup atau ompreng dalam distribusi MBG, ia menyebut hal itu tidak menjadi persoalan selama mengikuti standar operasional yang berlaku.

“Di MBG setahu saya tidak langsung dimasukkan ke ompreng lalu ditutup. Ada standar kapan setelah matang di-pack dan ditutup,” jelasnya.

Kabar Trenggalek - Peristiwa

Editor: Zamz