PANGGUL, TRENGGALEK - Di saat banyak sektor harus menahan laju karena efisiensi anggaran, RSUD Tipe D Panggul justru tetap tancap gas memperkuat layanan kesehatan. Rumah sakit ini memilih “berbenah sambil jalan”, mulai dari penataan tenaga medis hingga penambahan fasilitas baru.
Direktur RSUD Panggul, Rendra Andriawan, menyebut saat ini sejumlah layanan dokter spesialis sudah tersedia, seperti spesialis anak, kebidanan dan kandungan (obgin), serta bedah. Bahkan, rumah sakit ini tengah bersiap membuka layanan baru di poli saraf.
“RSUD Panggul itu sudah punya beberapa pelayanan dokter spesialis. Cuma saat ini karena memang ada efisiensi anggaran, ada beberapa dokter yang mungkin akan kita efisiensikan juga untuk memaksimalkan pelayanan,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan, pihak rumah sakit justru memprioritaskan layanan yang paling dibutuhkan masyarakat, terutama poli bedah dan obgin. Keduanya dinilai memiliki tingkat kunjungan yang cukup tinggi.
“Di bulan Mei atau Juni insyaallah kita bisa ada obgin full di sana, supaya pelayanan ibu dan anak bisa maksimal,” jelasnya.
Saat ini, dokter spesialis yang tersedia penuh setiap hari baru mencakup layanan anak dan penyakit dalam. Sementara layanan obgin masih terbatas, yakni hanya sekitar dua minggu dalam satu bulan.
“Yang standby full itu dokter anak sama internis. Untuk obgin memang belum full, tapi sudah cukup membantu,” katanya.
Secara keseluruhan, RSUD Panggul memiliki sekitar 10 dokter spesialis, termasuk layanan penunjang seperti radiologi dan patologi klinik. Jumlah ini dinilai sudah memenuhi standar rumah sakit tipe D, bahkan membuka peluang untuk pengembangan ke tipe C.
Tak hanya dari sisi SDM, penguatan juga dilakukan pada fasilitas. RSUD Panggul mengalokasikan anggaran untuk pengadaan alat kesehatan, seperti radiografi diagnostik dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) senilai sekitar Rp1,5 miliar, serta ventilator ICU dengan anggaran sekitar Rp800 juta.
“Insyaallah dengan SDM dan sarana prasarana yang ada, kami berusaha semaksimal mungkin memaksimalkan pelayanan pasien,” tambahnya.
Ke depan, rumah sakit ini juga menargetkan layanan yang lebih spesifik, yakni poli hemodialisa atau cuci darah. Layanan ini dianggap penting karena kebutuhan pasien di wilayah Panggul dan Munjungan cukup tinggi.
“Mudah-mudahan ke depan bisa segera berproses ke arah sana,” ujarnya.
Langkah RSUD Panggul ini menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukan berarti pelayanan ikut terhenti. Justru, strategi prioritas dan penyesuaian jadi kunci agar layanan kesehatan tetap berjalan dan berkembang.
Kabar Trenggalek - Kesehatan
Editor: Zamz





















