KBRT - Kabar baik datang dari sektor kesehatan Trenggalek. Sepanjang tahun 2025, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di trenggalek, tercatat menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, warga diminta tidak lengah karena pola gejala DBD saat ini dinilai makin sulit dikenali.
Data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek menunjukkan, total kasus DBD pada 2025 tercatat 537 kasus, turun hampir separuh dari tahun 2024 yang mencapai 1.070 kasus dan menjadi puncak siklus lima tahunan.
Kepala Diskesdalduk KB Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan penurunan ini patut disyukuri, namun tantangan baru justru muncul dari perubahan karakter gejala DBD yang tidak lagi khas seperti sebelumnya.
“Pemeriksaan NS1 sangat membantu untuk mendeteksi virus pada fase awal. Dengan begitu, meskipun gejalanya mirip infeksi biasa, DBD bisa diketahui lebih cepat,” ujar dr. Sunarto.
Ia menjelaskan, saat ini demam berdarah tidak selalu ditandai dengan demam naik-turun atau munculnya bintik merah. Pada sejumlah kasus, pasien justru mengalami demam menetap, batuk, pilek, hingga perut kembung, sehingga sering disangka penyakit ringan.
“Gejalanya bisa seperti infeksi lain, disertai batuk, pilek, atau perut kembung. Ini yang membuat masyarakat sering tidak menyangka bahwa itu demam berdarah,” paparnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya deteksi dini, terutama pada anak-anak yang mengalami demam. Menurutnya, setiap demam sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan, terlebih jika berlangsung lebih dari dua hingga tiga hari.
“Dengan pemeriksaan lebih awal, kita bisa mengetahui adanya DBD sebelum kondisi memburuk,” jelasnya.
Secara bulanan, lonjakan kasus tertinggi terjadi pada Januari 2025 dengan 259 kasus. Setelah itu, angka kasus terus melandai hingga November tercatat hanya lima kasus dan Desember sembilan kasus.
“Alhamdulillah, tahun ini relatif terkendali dibandingkan tahun lalu,” kata dr. Sunarto.
Meski tren kasus menurun, Diskesdalduk KB mencatat dua kasus kematian akibat DBD sepanjang 2025. Kedua korban merupakan anak-anak yang berasal dari wilayah kerja Puskesmas Trenggalek dan Puskesmas Karangan.
Menurut dr. Sunarto, keterlambatan penanganan dan kondisi syok menjadi faktor utama penyebab kematian. Selain itu, infeksi dengue sekunder dengan jenis virus berbeda juga bisa memicu reaksi berat yang sulit diprediksi.
“Pada beberapa kasus, kondisi anak saat datang ke fasilitas kesehatan masih terlihat baik. Namun dalam hitungan jam bisa langsung drop,” ungkapnya.
Untuk sebaran wilayah, kasus DBD terbanyak tercatat di Kecamatan Bendungan dengan 50 kasus, disusul Kecamatan Trenggalek sebanyak 48 kasus. Dari sisi usia, penderita masih didominasi anak-anak, meski jumlah kasus pada kelompok dewasa hampir seimbang.
Di akhir, dr. Sunarto kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan demam, terutama pada anak. Dengan ketersediaan pemeriksaan NS1 di puskesmas, ia berharap kasus DBD bisa dideteksi lebih cepat dan risiko kematian dapat ditekan semaksimal mungkin.
Kabar Trenggalek - Kesehatan
Editor: Zamz















