Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Trenggalek Tak Ada Pesta Kembang Api Sambut Tahun Baru 2026, Warga Diajak Nonton Film Tambang Emas Ra Ritek

Pemkab Trenggalek memilih menyambut Tahun Baru 2026 secara sederhana lewat doa bersama dan pemutaran film dokumenter peraih Piala Citra FFI 2025 di Pendopo Manggala Praja Nugraha.

Poin Penting

  • Pergantian tahun 2026 di Trenggalek tanpa pesta kembang api dan konser musik
  • Pemkab gelar doa bersama dan nonton film dokumenter peraih Piala Citra
  • Momentum akhir tahun dimaknai sebagai refleksi dan empati bencana nasional

KBRT - Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengambil langkah berbeda dalam menyambut pergantian tahun baru 2026. Tanpa hiruk-pikuk pesta kembang api maupun hiburan musik, malam penutup tahun 2025 akan diisi dengan doa bersama serta pemutaran film dokumenter karya sineas lokal.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Pendopo Manggala Praja Nugraha dan terbuka untuk masyarakat umum. Film yang diputar berjudul Tambang Emas Ra Ritek, sebuah dokumenter produksi putra daerah Trenggalek yang baru saja meraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2025 untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik.

Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Edy Soepriyanto, mengatakan peringatan malam tahun baru kali ini sengaja dikemas sederhana dengan pendekatan reflektif dan edukatif.

“Malam akhir tahun nanti Pemkab Trenggalek akan menggelar doa bersama, dilanjutkan dengan nonton bareng film dokumenter tambang emas yang kemarin meraih Piala Citra,” kata Edy.

Selain pemutaran film, agenda tersebut juga akan dirangkai dengan diskusi serta pameran karya seni. Seluruh rangkaian acara dapat diikuti masyarakat secara gratis tanpa pungutan biaya.

ADVERTISEMENT

Edy menjelaskan, ada sejumlah pertimbangan yang melatarbelakangi keputusan pemerintah daerah untuk tidak menggelar perayaan tahun baru secara meriah. Salah satunya adalah bentuk empati terhadap masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia yang tengah dilanda bencana alam.

“Kita ingin menunjukkan empati kepada saudara-saudara kita yang saat ini tertimpa musibah banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujarnya.

Selain faktor empati, malam pergantian tahun juga dimanfaatkan sebagai momentum introspeksi bagi jajaran pemerintah daerah. Menurut Edy, refleksi di akhir tahun penting agar ke depan pelayanan publik di Trenggalek dapat berjalan lebih baik.

“Malam pergantian tahun kita gunakan untuk introspeksi diri, mensyukuri apa yang telah dicapai, sekaligus memperbanyak doa demi kebaikan pribadi, keluarga, dan masyarakat Trenggalek,” kata dia. 

Kabar Trenggalek - Sosial

Editor: Zamz