KBRT - Petani Trenggalek kini makin realistis menghadapi risiko cuaca dan hama. Alih-alih pasrah saat panen bermasalah, mereka mulai memilih langkah aman lewat Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Hasilnya, target kepesertaan AUTP tahun 2025 justru berhasil dilewati.
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek mencatat, dari target awal 1.000 hektare lahan sawah yang diasuransikan, realisasi di lapangan tembus hingga 1.050,8 hektare. Angka ini menunjukkan kesadaran petani soal perlindungan usaha tani makin meningkat.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek, Imam Nurhadi, menyebut capaian tersebut tak lepas dari upaya edukasi intensif kepada petani terkait manfaat AUTP, terutama saat terjadi gagal panen.
“Alhamdulillah kita sudah melebihi target, kita memang harus banyak memberikan pengertian kepada petani bahwasanya apabila nanti petani mengalami gagal panen terutama terkait dengan iklim, kekeringan, banjir, hama, penyakit, tikus, dan wereng bisa diklaimkan untuk mendapatkan ganti,” kata Imam.
Ia menjelaskan, faktor lain yang bikin petani tertarik ikut AUTP adalah premi yang relatif ringan karena adanya subsidi pemerintah. Dari total premi Rp 180 ribu per hektare, petani hanya perlu merogoh kocek Rp 36 ribu. Sisanya, sebesar Rp 144 ribu, ditanggung pemerintah.
Premi tersebut dibayarkan setiap awal masa tanam. Sebagai gantinya, petani memiliki jaring pengaman jika terjadi gagal panen, dengan nilai klaim mencapai Rp 6 juta per hektare.
Menariknya, sepanjang tahun 2025 tidak ada satu pun peserta AUTP di Trenggalek yang mengajukan klaim.
“Tapi Alhamdulillah tahun 2025 tidak ada yang mengajukan klaim (asuransi), berarti hasil panennya cukup baik atau minim gagal panen,” lanjut Imam.
Memasuki tahun 2026, Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek kembali memasang target serupa, yakni 1.000 hektare sawah terlindungi AUTP. Target tersebut disesuaikan dengan peta kerawanan gagal panen di berbagai wilayah.
“Target kita tetap di angka 1.000 hektare, menyesuaikan pemetaan kita yang rawan gagal panen, baik rawan banjir, rawan terdampak kekeringan dan kemudian lahan endemik wereng dan tikus,” ujar dia.
Dengan tren ini, AUTP tak lagi dipandang sebagai beban tambahan, melainkan sebagai langkah antisipatif agar usaha tani tetap aman di tengah cuaca yang makin sulit ditebak.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor: Zamz















