Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel
ADVERTISEMENT
ITB

Bukan Melon Pasaran, Kebun Ubai di Parakan Trenggalek Jadi Buruan Pecinta Buah Segar

Petani Trenggalek, Ubai Mustakhim, panen melon premium di atas 15 brix. Kebunnya ramai pembeli untuk takjil manis buka puasa.

Bukan Melon Pasaran, Kebun Ubai di Parakan Trenggalek Jadi Buruan Pecinta Buah Segar

Poin Penting

  • Ubai tanam tiga varietas melon premium dalam satu lahan.
  • Standar panen minimal 14 brix, rata-rata tembus 15 brix.
  • Kebun ramai pembeli jelang Buka Puasa, banyak yang pre-order.

PARAKAN, TRENGGALEK - Di tengah tren berburu buah segar untuk berbuka puasa, kebun melon milik Ubai Mustakhim di Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, justru jadi incaran. Bukan tanpa alasan, melon yang ia tanam diklaim punya tingkat kemanisan di atas rata-rata pasaran.

Memasuki Ramadhan, pelanggan mulai berdatangan, bahkan memesan jauh hari sebelum masa panen. Ubai menerapkan sistem panen tiga bulan sekali, dengan pemberitahuan lima hingga sepuluh hari sebelumnya kepada pelanggan tetap.

Yang bikin beda, Ubai tidak hanya menanam satu jenis. Dalam satu lahan, ia membudidayakan tiga varietas sekaligus: kuning Petra Fani, hijau Jeblus atau Hami, serta putih Sani.

“Setiap pembeli punya selera berbeda. Ada yang suka hijau, kuning, atau putih. Tidak ada patokan mana yang paling ramai, semuanya punya ciri khas,” ujarnya.

Bagi Ubai, kunci utama ada di kualitas. Ia menetapkan standar minimal 14 persen brix sebelum buah dipetik. Jika belum mencapai angka tersebut, panen ditunda beberapa hari hingga satu minggu.

“Kalau belum sampai 14 persen, biasanya saya tunda panen. Untuk melon premium ini rata-rata di atas 15 persen. Beda dengan melon pasaran yang biasanya 9 sampai 11 persen,” jelasnya.

ADVERTISEMENT
ubai-merawat-melon-dengan-edukasi-wisata-petik.jpeg
Wisata petik melon di kebun ubai Desa Parakan, Trenggalek. KBRT/Zamz

Secara rasa, ketiga varietas ini tidak berbeda jauh. Namun tekstur jadi pembeda utama. Ada yang renyah, ada yang lembut dan sedikit kering. Varietas putih bahkan baru pertama kali ia tanam untuk menjawab permintaan pasar.

Melon tersebut dipasarkan ke supermarket dengan harga Rp25.000 per kilogram.

Salah satu pelanggan, Tamara Anisa Zain, mengaku sudah berlangganan lebih dari enam bulan. Ia memilih membeli langsung dari kebun karena bisa memastikan kualitasnya.

“Kami suka beli di sini karena bisa lihat langsung kualitasnya. Jadi tidak ragu. Kalau di pasar kadang khawatir ada pemanis tambahan,” katanya.

Menurutnya, masing-masing varietas punya karakter rasa berbeda. Hijau terasa crunchy dan manis, putih lebih lembut, sedangkan kuning mirip melon pada umumnya namun tetap segar.

Di bulan puasa, melon jadi favorit untuk takjil karena terasa ringan dan menyegarkan setelah seharian berpuasa. Tak heran, kebun Ubai mulai ramai jelang waktu panen.

Kabar Trenggalek - Sosial

Editor: Zamz