Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Menu Kering MBG Dihapus, UMKM Roti di Trenggalek Mulai Galau

Kebijakan BGN hapus menu kering MBG berdampak ke UMKM roti di Trenggalek. Produksi turun, puluhan pekerja terpaksa dirumahkan.

Poin Penting

  • Kebijakan BGN hapus menu kering MBG berdampak ke UMKM roti
  • Produksi turun, tenaga kerja berkurang drastis pasca Lebaran
  • Pemerintah fokus tingkatkan kualitas gizi lewat menu basah

TRENGGALEK - Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menghapus menu kering dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berdampak ke pelaku UMKM di Trenggalek. Salah satu yang paling terasa adalah usaha roti yang selama ini menjadi pemasok untuk dapur MBG.

Ketua Asosiasi UMKM Trenggalek, Muhammad Sulhan, mengaku kondisi pelaku usaha roti saat ini tidak dalam situasi baik setelah adanya perubahan kebijakan tersebut.

“Saya sampaikan untuk kali ini untuk UMKM kami, termasuk roti tidak baik-baik saja, karena dengan informasi keputusan dari Badan Gizi Nasiona (BGN), bahwasanya menu kering di MBG di tiadakan. Cukup berimbas UMKM roti yang mensuplai SPPG di Trenggalek,” ujarnya.

Sebelumnya, permintaan roti dari dapur MBG disebut cukup besar dan menjadi salah satu penopang ekonomi pelaku usaha. Bahkan, Sulhan menyebut lebih dari 10 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di Trenggalek menjadi mitra suplai.

“Banyak dari SPPG yang kami supply, lebih dari 10, untuk perkembangan ekonomi cukup membantu,” katanya.

Menurutnya, sebelum Lebaran, dampak program MBG terhadap perputaran ekonomi UMKM cukup signifikan. Pesanan menu kering seperti roti menjadi salah satu sumber pendapatan utama.

“Sebelum lebaran itu sangat signifikan pengaruh terhadap keuangan UMKM yang bersumber dari dapur MBG, terkait menu kering di order ke kami,” imbuhnya.

Namun setelah kebijakan baru diterapkan, kondisi berbalik drastis. Produksi menurun tajam dan berdampak pada tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi.

ADVERTISEMENT

“Kami ada 68 karyawan untuk kami masukkan dalam proses pembuatan menu untuk MBG, dan untuk setelah lebaran tinggal 12 itu masih menunggu perkembangan 1 bulan lagi,” ungkap Sulhan.

Saat ini, pelaku usaha masih menunggu perkembangan kebijakan ke depan, sambil berharap ada solusi agar usaha mereka tetap bisa berjalan.

“Kami masih menunggu, berharap nasib dari kelangsungan pelaku usaha roti yang mensuplai SPPG bisa diperjuangkan,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah melalui Satgas MBG menjelaskan bahwa perubahan kebijakan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas gizi dan keamanan pangan bagi penerima manfaat.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, mengatakan menu kering dihapus dan diganti dengan makanan basah agar lebih segar dan sesuai standar gizi.

“Untuk menjamin kualitas makanan kepada anak-anak kita, nilai gizinya harus sesuai. Salah satu kebijakan adalah menggunakan menu basah, jadi tidak ada lagi yang dikemas plastik,” ujarnya.

Ia menambahkan, makanan kini disajikan menggunakan wadah khusus agar lebih higienis. Selain itu, sistem distribusi rapel juga dihentikan untuk menjaga kualitas makanan tetap layak konsumsi.

“Menu rapel tidak diizinkan supaya makanan benar-benar fresh. Kalau dirapel, dikhawatirkan bisa basi atau dingin,” jelasnya.

Kabar Trenggalek - Peristiwa

Editor: Zamz