Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel
ADVERTISEMENT
ITB

Angkatan Kerja Trenggalek Turun, Pertanian Kehilangan Puluhan Ribu Pekerja

BPS Trenggalek mencatat jumlah angkatan kerja Agustus 2025 menurun dibanding tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi di sektor pertanian, sementara manufaktur dan jasa justru tumbuh.

Poin Penting

  • Angkatan kerja Trenggalek Agustus 2025 tercatat 470.751 orang
  • Penyerapan tenaga kerja pertanian menurun signifikan
  • Pekerja formal mengalami peningkatan dibanding tahun lalu

KBRT - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Trenggalek mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2025 mencapai 470.751 orang. Angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 12.146 orang jika dibandingkan periode yang sama pada Agustus 2024.

Penurunan jumlah angkatan kerja tersebut sejalan dengan merosotnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Trenggalek. TPAK pada Agustus 2025 tercatat sebesar 77,67 persen atau turun 2,41 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua Tim Statistik Sosial BPS Trenggalek, Samsul Ma’arif, menjelaskan bahwa jumlah penduduk usia kerja di Trenggalek justru mengalami kenaikan. Pada Agustus 2025, penduduk usia kerja tercatat sebanyak 606.110 orang, bertambah 3.102 orang dibandingkan Agustus 2024.

“Dari jumlah penduduk usia kerja tersebut, sebanyak 470.751 orang masuk kategori angkatan kerja, sedangkan sisanya merupakan bukan angkatan kerja,” ujar Samsul, Kamis (18/12/2025).

Ia menyebutkan, jumlah penduduk yang bekerja pada Agustus 2025 mencapai 452.598 orang. Angka tersebut berkurang 11.481 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara jumlah pengangguran tercatat sebanyak 18.153 orang.

Perubahan signifikan terlihat pada struktur lapangan pekerjaan. Penurunan tenaga kerja paling besar terjadi di sektor pertanian yang berkurang hingga 55.749 orang. Sebaliknya, sektor manufaktur dan jasa-jasa justru mencatat pertumbuhan tenaga kerja masing-masing sebesar 25.555 orang dan 18.713 orang.

Meski mengalami penurunan, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Trenggalek dengan kontribusi 38,22 persen. Disusul sektor jasa-jasa sebesar 34,05 persen dan sektor manufaktur sebesar 27,73 persen.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2024, peran sektor manufaktur meningkat sebesar 6,19 persen poin, sektor jasa-jasa naik 4,87 persen poin, sedangkan sektor pertanian mengalami penurunan cukup dalam yakni 11,07 persen poin.

ADVERTISEMENT

Dari sisi status pekerjaan, penduduk bekerja di Trenggalek masih didominasi oleh kelompok yang berusaha sendiri dengan proporsi 25,60 persen. Selanjutnya buruh atau karyawan sebesar 23,02 persen, berusaha dibantu pekerja tidak tetap 20,58 persen, serta pekerja keluarga atau tidak dibayar 19,84 persen.

BPS juga mencatat adanya peningkatan pekerja formal. Pada Agustus 2025, jumlah pekerja formal mencapai 123.507 orang atau setara 27,29 persen dari total penduduk bekerja, naik 2,20 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

“Peningkatan pekerja formal sejalan dengan bertambahnya jumlah pekerja berstatus berusaha dibantu pekerja tetap dan buruh atau karyawan,” jelas Samsul.

Ditinjau dari tingkat pendidikan, mayoritas penduduk bekerja masih berasal dari lulusan sekolah dasar atau sederajat ke bawah, yakni sebanyak 178.609 orang atau 39,46 persen. Disusul lulusan SMP atau sederajat sebesar 27,90 persen, SMA kejuruan 12,70 persen, SMA umum 11,58 persen, dan pendidikan tinggi diploma ke atas sebesar 8,35 persen.

Untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), BPS mencatat TPT Trenggalek pada Agustus 2025 berada di angka 3,86 persen. Angka ini turun 0,04 persen poin dibandingkan Agustus 2024. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar tiga hingga empat orang yang menganggur.

“Penurunan TPT ini dipengaruhi oleh sejumlah program pemerintah daerah, termasuk pengangkatan CPNS dan PPPK, serta berkembangnya kegiatan ekonomi kreatif yang menyerap tenaga kerja,” kata Samsul.

Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki masih lebih tinggi dibandingkan perempuan, masing-masing sebesar 4,25 persen dan 3,37 persen. Sementara jika dilihat dari tingkat pendidikan, lulusan SMA kejuruan menjadi kelompok dengan TPT tertinggi yakni 8,93 persen, disusul SMA umum 4,58 persen dan diploma ke atas 4,25 persen.

“Tingginya TPT pada lulusan SMA kejuruan diduga karena belum sepenuhnya terjadi kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya. 

Kabar Trenggalek - Politik

Editor: Zamz