Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel
ADVERTISEMENT
ITB

Cerita Petani Muda Trenggalek yang Sukses Kembangkan Kebun Melon Premium

Ubai Mustakhim, petani di Desa Parakan Trenggalek, mengembangkan kebun melon premium yang kini jadi tempat wisata petik buah dan spot ngabuburit warga.

Poin Penting

  • Ubai Mustakhim mengembangkan kebun melon di Desa Parakan Trenggalek menjadi wisata petik buah.
  • Ia memilih melon karena masa panennya relatif cepat, sekitar 65–70 hari.
  • Selama Ramadan, kebun melon tersebut ramai pengunjung yang ngabuburit sambil memetik buah.

TRENGGALEK – Di balik ramainya pengunjung yang datang untuk memetik melon langsung dari kebun di Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, ada cerita seorang petani yang pelan-pelan membangun kebunnya dari nol. Ia adalah Ubai Mustakhim, petani lokal yang kini dikenal karena berhasil mengubah greenhouse sederhana menjadi destinasi wisata agro yang ramai dikunjungi warga.

Bagi Ubai, kebun itu awalnya hanya tempat bekerja seperti petani pada umumnya. Ia menanam, merawat, dan menunggu panen seperti rutinitas petani lain. Namun perjalanan itu tidak langsung mulus.

Sebelum menanam melon, Ubai sempat mencoba membudidayakan buah tin. Tanaman itu memang menjanjikan, tetapi ia merasa waktu panennya terlalu lama untuk kebutuhan perputaran usaha.

Dari situlah Ubai mulai melirik melon sebagai komoditas utama. Selain lebih cepat dipanen, perawatannya menurutnya juga lebih terukur.

“Masa panen melon hanya 65 sampai 70 hari. Kalau dibandingkan anggur yang butuh tiga sampai empat bulan, melon jauh lebih efektif untuk perputaran modal,” jelas Ubai.

Keputusan itu ternyata menjadi titik balik. Ubai mulai serius mengembangkan kebun melon di dalam greenhouse agar tanaman lebih terlindungi dari cuaca dan hama.

Di dalam greenhouse itulah berbagai varietas melon premium tumbuh. Ada Petra Fani dengan warna kuning cerah, Jeblus atau Hami yang berwarna hijau, hingga Sani yang memiliki daging buah putih. Ia juga mencoba beberapa varietas impor seperti DB75, Sweetness, dan Itanon.

ubai-petani-melon-sukses-trenggalek.jpeg
Ubai merawat melon premium yang siap panen. KBRT/Zamz

Namun bagi Ubai, menanam melon bukan sekadar soal panen. Ia punya standar sendiri sebelum buah dipetik dari pohon.

Setiap melon harus mencapai tingkat kemanisan minimal 14 hingga 15 persen Brix. Jika belum memenuhi standar itu, ia memilih menunda panen.

Untuk menjaga kualitas tanaman, Ubai juga rutin memantau kondisi kebunnya. Greenhouse memang membantu melindungi tanaman dari hujan dan serangan hama, tetapi ia tetap melakukan pengecekan secara berkala.

ADVERTISEMENT

“Greenhouse sangat membantu menekan serangan hama. Tapi saya tetap wajib melakukan pengecekan rutin supaya tanaman tetap sehat,” tuturnya.

Seiring waktu, kebun melon miliknya mulai dikenal warga. Banyak orang datang bukan hanya untuk membeli buah, tetapi juga ingin melihat langsung proses budidayanya.

Melihat antusiasme itu, Ubai akhirnya membuka kebunnya untuk umum. Pengunjung bisa datang langsung dan memetik melon dari pohonnya.

Dengan harga Rp25.000 per kilogram, orang tidak hanya membawa pulang buah segar, tetapi juga pengalaman memanen sendiri.

Selama Ramadan, kebun itu bahkan sering ramai menjelang waktu berbuka. Banyak warga memilih datang untuk ngabuburit sambil berburu melon segar yang bisa langsung dinikmati saat berbuka.

Tamara Anisa Zain, salah satu pelanggan yang rutin datang, mengaku lebih percaya membeli melon langsung dari kebunnya.

“Saya lebih yakin beli di sini karena bisa melihat langsung kualitasnya. Kita petik sendiri, buahnya segar, dan rasanya manis alami tanpa pemanis buatan,” ujar Tamara.

Saat ini Ubai baru memiliki satu unit greenhouse. Ke depan, ia berencana menambah hingga tiga unit lagi agar masa tanam dan panen bisa diatur bergantian sepanjang tahun.

Bagi Ubai, menjadi petani bukan sekadar soal menghasilkan buah. Ia ingin kebunnya juga menjadi ruang belajar sekaligus tempat orang menikmati hasil pertanian secara langsung.

“Kepuasan pengunjung jadi prioritas saya. Saya ingin mereka tidak hanya membeli buah, tapi juga membawa pulang pengalaman yang manis,” katanya.

Kabar Trenggalek - Feature

Editor: Zamz