KBRT - Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 2027 di Kabupaten Trenggalek diprediksi tak seramai sebelumnya. Dewan Pimpinan Cabang Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (DPC PKDI) Trenggalek menilai, minat warga untuk maju sebagai calon kepala desa berpotensi menurun.
Prediksi itu bukan tanpa alasan. Pemangkasan Dana Desa (DD) hingga kisaran 83 persen dari pemerintah pusat disebut menjadi faktor utama yang bisa membuat warga berpikir ulang sebelum mendaftar.
Ketua DPC PKDI Trenggalek, Puryono, mengatakan bahwa dinamika anggaran desa saat ini berbeda jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dengan ruang fiskal yang semakin sempit, calon kepala desa ke depan akan menghadapi tantangan lebih berat dalam menjalankan pemerintahan.
“Saya kira ada arah kesitu (minatnya turun untuk daftar Pilkades), karena banyak warga akan berpikir ulang nanti akan membangunnya pakai, apa, dan kalau tidak lebih baik dari Kades sebelumnya akan menjadi pertimbangan, karena di tahun sebelumnya berjalan lancar,” ujarnya.
Sebelumnya, Dana Desa di Trenggalek rata-rata bisa mencapai kisaran Rp1 miliar per desa. Namun kini, desa hanya menerima sekitar Rp200 juta hingga Rp375 juta.
“Kalau DD di Trenggalek rata-rata Rp 200 juta sampai Rp 375 juta per desa,” kata Puryono.
Ia menegaskan, pemangkasan dilakukan langsung oleh pemerintah pusat melalui APBN, sehingga dana tersebut tidak lagi masuk ke rekening desa.
“DD jelas ada 83 persen dipotong oleh pusat secara langsung. Itu langsung dari pusat lewat APBN dan tidak masuk ke rekening desa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Puryono menjelaskan bahwa sisa Dana Desa yang diterima saat ini sebagian besar sudah teralokasi untuk program mandatori dari pusat, seperti Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD), penanganan stunting, serta program lain dengan persentase anggaran yang telah ditentukan.
“Program-program itu sudah ditentukan dari pusat dan harus dibiayai dari Dana Desa,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, ruang untuk pembangunan fisik maupun program inovatif desa menjadi semakin terbatas. Situasi ini dinilai bisa memengaruhi psikologis calon kepala desa. Mereka akan dihadapkan pada ekspektasi warga yang tinggi, sementara anggaran yang tersedia jauh lebih kecil.
Meski begitu, PKDI Trenggalek memastikan tetap solid mengawal proses Pilkades 2027. Organisasi yang mewadahi kepala desa itu menyebut siap menjaga suasana tetap kondusif, baik bagi petahana maupun calon baru.
“PKDI mempunyai persaudaraan solid, baik di nasional maupun di wilayah Jawa Timur, dan di Trenggalek sebagai anak ragil pembentukan DPC di Jawa Timur, saya yakin, akan solid untuk mengawal Pilkades 2027,” ujar Puryono.
Ia menambahkan, PKDI memberi ruang bagi kepala desa petahana maupun warga yang ingin mencalonkan diri, dengan tetap mengedepankan prinsip persaudaraan.
“Kami memberikan ruang yang sudah ada (Inkamben), dan apabila ada yang baru mau mendaftar atau mencalonkan kami mengantisipasi dari seluruh teman-teman yang menjabat,” jelasnya.
Kabar Trenggalek - Politik
Editor: Zamz





















