Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Kunjungi Museum Nasional, DPRD Pastikan Prasasti Kampak Terawat Aman

Ketua DPRD Trenggalek memastikan Prasasti Kampak tersimpan aman dan terawat di Museum Nasional dengan sistem pengamanan dan konservasi khusus.

Poin Penting

  • DPRD Trenggalek mengecek langsung kondisi Prasasti Kampak di Museum Nasional
  • Artefak bersejarah disimpan di gudang khusus berstandar tinggi di kawasan TMII
  • Daerah diperbolehkan membuat replika dan meminjam prasasti untuk agenda tertentu

KBRT - Keberadaan Prasasti Kampak, salah satu peninggalan sejarah penting asal Kabupaten Trenggalek, kembali menjadi perhatian publik. Menyikapi kekhawatiran masyarakat, Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi memastikan prasasti tersebut berada dalam kondisi aman, terawat, dan berada di bawah pengelolaan ketat Museum Nasional di Jakarta.

Kepastian itu disampaikan Doding usai melakukan kunjungan langsung ke Museum Nasional untuk melihat secara langsung kondisi fisik sekaligus sistem penyimpanan Prasasti Kampak.

“Kami datang langsung ke Museum Nasional untuk memastikan kondisi Prasasti Kampak. Alhamdulillah, kondisinya sangat baik dan terawat,” ujar Doding.

Ia menjelaskan, Prasasti Kampak tidak ditempatkan di ruang pamer utama sebagaimana anggapan sebagian masyarakat. Artefak bersejarah tersebut disimpan di fasilitas penyimpanan khusus Museum Nasional yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Menurut Doding, fasilitas tersebut justru memiliki sistem keamanan dan konservasi yang lebih memadai dibandingkan ruang pamer umum.

“Gudang penyimpanan Museum Nasional memiliki fasilitas yang sangat bagus. Dengan sistem seperti itu, prasasti benar-benar aman dan terjaga dari potensi kerusakan,” jelasnya.

Doding menambahkan, sistem penyimpanan tersebut dirancang secara khusus untuk melindungi ribuan benda cagar budaya milik negara yang jumlahnya terus bertambah setiap tahun, sehingga aspek keamanan dan perawatan jangka panjang menjadi prioritas utama.

Ia menegaskan, Prasasti Kampak memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi Trenggalek. Keberadaannya setara dengan Prasasti Kamulan yang saat ini telah kembali ke daerah dan ditempatkan di kawasan Pendopo Manggala Praja Nugraha.

“Trenggalek memiliki dua prasasti penting, yaitu Prasasti Kamulan dan Prasasti Kampak. Karena itulah kami merasa perlu memastikan kondisi Prasasti Kampak secara langsung,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan catatan sejarah, Prasasti Kampak ditemukan pada tahun 1862. Prasasti batu tersebut memuat penetapan wilayah Kampak sebagai sima swatantra atau daerah otonom bebas pajak oleh Mpu Sindok sekitar tahun 929 Masehi. Prasasti ini menjadi bukti administratif tertua tentang otonomi lokal di Trenggalek sekaligus menandai pergeseran pusat kekuasaan Mataram Kuno ke Jawa Timur.

Meski banyak pihak berharap Prasasti Kampak dapat kembali ke Trenggalek, Doding menyebut hal tersebut sulit direalisasikan karena terbentur regulasi.

“Prasasti Kampak sudah lama menjadi koleksi Museum Nasional. Aturan tidak memungkinkan museum mengembalikan koleksi tersebut ke daerah,” tegasnya.

Sebagai solusi alternatif, DPRD Trenggalek mendorong langkah agar masyarakat tetap dapat mengakses nilai sejarah Prasasti Kampak.

“Kami sudah berdiskusi dengan pihak Museum Nasional. Mereka mengizinkan Trenggalek membuat replika Prasasti Kampak,” ungkap Doding.

Selain itu, Museum Nasional juga membuka peluang peminjaman prasasti untuk kegiatan tertentu, seperti pameran atau agenda kebudayaan berskala khusus.

Doding menambahkan, keputusan menyimpan Prasasti Kampak di Jakarta didasarkan pada pertimbangan keamanan dan konservasi jangka panjang.

“Pihak museum khawatir terjadi risiko jika prasasti dipindahkan ke daerah. Karena itu, mereka memilih menyimpannya di Museum Nasional,” kata dia. 

Kabar Trenggalek - Sosial

Editor: Zamz