TRENGGALEK – Fakultas Sains dan Teknologi Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Trenggalek menggelar talkshow bertajuk “Digital Kartini: Menembus Batas dengan Teknologi”, Selasa (21/4/2026) di Auditorium kampus Kelutan. Kegiatan ini membahas peran perempuan dalam memanfaatkan teknologi di sektor pendidikan, birokrasi, dan ekonomi kreatif.
Ketua panitia, Nova Sri Istian, mengatakan forum ini mempertemukan tiga narasumber perempuan dari latar belakang berbeda untuk memperkuat pemahaman pemberdayaan perempuan di era kecerdasan buatan (AI). Ia menyebut kegiatan tersebut bertujuan mengakselerasi literasi digital sekaligus mendorong kepemimpinan perempuan berbasis teknologi.
Rektor ITB Trenggalek, Hj. Farikotul Chasanah, menyatakan kampus memiliki peran strategis dalam memaknai semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” melalui tridharma perguruan tinggi di tengah arus digitalisasi.
“Kampus kami diharapkan menjadi acuan dalam proses pembelajaran teknologi di daerah ini, apalagi ini satu-satunya kampus teknologi dan bisnis di Trenggalek,” ujarnya.
Ia memastikan kurikulum berbasis teknologi yang diterapkan mampu menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan digital, sekaligus memperluas jangkauan layanan teknologi hingga ke wilayah pelosok.
Dalam sesi diskusi, Camat Pogalan, Dilly Dwi Kurniasari, menjelaskan penerapan e-government di tingkat kecamatan menjadi strategi untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas melalui media sosial.
“Saya menyadari bagaimana menjangkau masyarakat luas agar semua masalah masyarakat bisa ditangani, makanya kami menggunakan media sosial sebagai alat untuk sosialisasi dan edukasi,” katanya.
Menurut dia, digitalisasi layanan publik dapat menekan biaya administrasi dan memperpendek rantai birokrasi. Warga juga dapat memantau penggunaan anggaran dan proses perizinan secara terbuka.
“Layanan dapat diakses kapan saja dan di mana saja tanpa terikat jam operasional kantor dan memudahkan warga memberikan masukan atau kritik terhadap kebijakan pemerintah melalui kanal digital,” tambahnya.
Sementara itu, mahasiswi Bisnis Digital sekaligus pelaku usaha, Shifa, memaparkan pengalamannya membangun brand kuliner melalui platform media sosial.
“Modal saya kecil tapi menggunakan media sosial saya pelan-pelan membangun bisnis ini. Jadi media sosial adalah alat promosi utama saya,” jelasnya.
Ia mengaku usahanya berkembang hingga mampu memperbarui peralatan kerja dan perangkat pendukung promosi. Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada kemampuan bertransformasi dari konsumen menjadi kreator dan pengelola teknologi.
“Teknologi tidak memiliki jenis kelamin, namun perempuan yang memegang teknologi mampu mengubah arah peradaban,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi secara produktif, sekaligus membuka peluang baru dalam pengembangan diri dan kontribusi sosial di era digital.
Kabar Trenggalek - Advertorial
Editor: Zamz





















