KBRT - Warga bersama elemen masyarakat pemerhati lingkungan melakukan penanaman bibit pohon buah alpukat di lokasi bekas tambang galian C di RT 22 Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek. Langkah ini dilakukan sebagai upaya reklamasi swadaya untuk mencegah potensi longsor di area tambang yang berdekatan langsung dengan rumah warga.
Penanaman dilakukan di lahan bekas tambang seluas hampir tiga hektare yang diketahui telah dieksploitasi selama puluhan tahun. Aktivitas penambangan tersebut kini telah berhenti setelah mendapat sorotan publik dan viral di media sosial.
Elemen masyarakat pemerhati lingkungan, Sumilih, menegaskan bahwa penanaman ini merupakan bentuk kepedulian warga terhadap kerusakan lingkungan yang ditinggalkan aktivitas tambang.
“Ini dalam rangka untuk penanaman kembali supaya menjaga tidak longsor atau reboisasi kalau menurut penghijauan. Karena ini di bekas tambang galian c ini reklamasi secara swadaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, gerakan tersebut juga sejalan dengan program lingkungan yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Trenggalek.
“Kami menanam ini sebagai menjaga alam, kami juga mencintai alam seperti itu, dan kami juga mendukung pemerintah kabupaten trenggalek yang mana kami punya program net zero carbon,” lanjutnya.
Menurut Sumilih, seluruh bentuk pertambangan pada dasarnya meninggalkan dampak ekologis serius.
“Dengan adanya tambang seperti ini apapun model tambang, baik tambang galian c maupun tambang emas itu tetap merusak alam,” katanya.
Bibit alpukat yang ditanam memiliki tinggi sekitar 60–70 sentimeter. Selain berfungsi memperkuat struktur tanah, tanaman tersebut juga diharapkan memberi nilai ekonomi bagi warga di masa mendatang.
“Mudah-mudahan dengan penanaman ini yang disini bisa kuat lagi dan tidak terjadi longsor,” ujar dia.
Kabar Trenggalek - Lingkungan
Editor: Zamz














