Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Temuan Jambangan Kuno di Trenggalek, Pegiat Sejarah: Kemungkinan Bukan Tempat Aslinya

Jambangan batu kuno ditemukan di Trenggalek, diduga berasal dari luar lokasi. Angka tahun 1168 M jadi petunjuk penting.

Poin Penting

  • Jambangan batu kuno ditemukan di area BPR Jwalita Trenggalek
  • Memiliki inskripsi tahun 1090 Saka atau 1168 Masehi
  • Diduga bukan dari lokasi asli karena minim artefak pendukung

TRENGGALEK - Sebuah jambangan kuno berbahan batu yang ditemukan di area perkantoran BPR Jwalita Trenggalek memunculkan teka-teki baru. Benda yang diduga sebagai objek cagar budaya (ODCB) itu diperkirakan bukan berasal dari lokasi penemuan, melainkan dipindahkan dari tempat lain.

Temuan ini menarik perhatian karena memiliki inskripsi angka tahun yang jelas, yakni 1090 Saka atau setara dengan 1168 Masehi, yang mengarah pada masa klasik Jawa Timur.

Ketua Pegiat Sejarah Trenggalek (PESAT), Harmadji, menyebut keberadaan angka tahun tersebut menjadi nilai penting dalam kajian arkeologi.

“Penemuan ini bagus karena ada angka tahun pasti yang menunjukkan kapan benda itu dibuat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tahun 1168 Masehi berada pada masa peralihan kekuasaan di era Kerajaan Panjalu, sebelum dikenal sebagai Kediri. Namun, hingga kini belum ditemukan catatan pasti terkait siapa raja yang berkuasa pada tahun tersebut.

“Saat ini kami masih mencari tahun itu (1168 Masehi) masa kekuasaan raja siapa, sebab sementara ini masih belum ditemukan catatannya,” jelasnya.

Dari sisi fungsi, jambangan tersebut belum bisa dipastikan. Namun, berdasarkan ukuran, Harmadji menduga benda itu digunakan untuk kepentingan ritual.

“Kalau melihat ukurannya, kemungkinan untuk ritual karena tidak terlalu besar. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari biasanya lebih besar,” ungkapnya.

Secara fisik, jambangan memiliki diameter lubang sekitar 42 sentimeter, diameter luar 70 sentimeter, tinggi 46,5 sentimeter, serta ketebalan bibir sekitar 8 sentimeter. Materialnya berupa batu breksi berwarna abu-abu, dengan kondisi bagian mulut yang sudah mengalami kerusakan.

ADVERTISEMENT

Teknik pembuatan lubang yang terlihat dipahat menjadi indikasi kuat bahwa benda tersebut berasal dari masa klasik.

Meski begitu, lokasi penemuan dinilai tidak menunjukkan konteks arkeologis yang utuh. Tidak ditemukan artefak lain di sekitar lokasi, yang biasanya menjadi satu kesatuan dalam situs asli.

“Kemungkinan besar ini bukan di tempat aslinya. Kalau di lokasi asli, biasanya ditemukan juga benda lain sebagai satu kesatuan,” tegasnya.

Ia menambahkan, area perkantoran tempat temuan itu berada tergolong baru. Tidak ada laporan temuan serupa saat proses pembangunan berlangsung.

“Tidak ada laporan temuan lain dari masyarakat maupun saat pembangunan. Ini menguatkan dugaan benda ini dipindahkan,” imbuhnya.

Harmadji juga menyebut, berdasarkan penelusuran awal, benda tersebut belum tercatat dalam dokumentasi resmi, baik dari era kolonial Belanda maupun data Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah Jawa Timur.

“Ini termasuk temuan baru karena belum ada dalam buku induk, baik dari zaman Belanda maupun data BPK wilayah XI Jawa Timur,” jelasnya.

Saat ini, penelusuran lebih lanjut masih dilakukan untuk mengungkap asal-usul jambangan tersebut. Minimnya petunjuk di lokasi menjadi tantangan dalam proses identifikasi.

“Masih kami telusuri, karena secara konteks belum ditemukan petunjuk lain yang mengarah ke asalnya,” kata dia. 

Kabar Trenggalek - Sosial

Editor: Zamz