Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

PMK Kembali Menyerang Sapi di Trenggalek, Puluhan Ternak Terdampak

Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali ditemukan di Trenggalek sejak akhir 2025. Dinas Peternakan mencatat puluhan sapi terdampak di beberapa kecamatan.

Poin Penting

  • PMK terdeteksi sejak Desember 2025 di Kecamatan Dongko
  • Total 29 sapi terdampak, satu ekor pedhet dilaporkan mati
  • Lalu lintas jual beli ternak diduga jadi pemicu penularan

KBRT - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Trenggalek kembali terdeteksi menyerang ternak sapi. Penyebaran penyakit menular tersebut mulai terpantau sejak akhir tahun 2025 dan berlanjut hingga Januari 2026 di sejumlah wilayah.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek, drh. Ririn Hari Setiani, mengungkapkan kasus awal PMK muncul di Desa Siki, Kecamatan Dongko, pada Desember 2025.

“Di bulan Desember sudah mulai muncul beberapa kasus. Di Desa Siki tercatat tujuh ekor sapi milik lima peternak yang terjangkit PMK,” ujar Ririn.

Dari total tujuh ekor sapi tersebut, satu di antaranya merupakan sapi anakan atau pedhet yang tidak tertolong dan dinyatakan mati akibat PMK.

Memasuki Januari 2026, jumlah kasus kembali bertambah dan penyebaran meluas ke wilayah lain. Ririn menyebut terdapat 22 kasus baru yang seluruhnya menyerang sapi potong.

“Untuk Januari, satu kasus kembali muncul di Desa Siki dan sudah sembuh. Di Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, ada 11 ekor sapi yang masih dalam proses penyembuhan. Sedangkan di Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, tercatat 10 ekor sapi yang juga masih menjalani perawatan,” jelasnya.

Ririn menilai pola penularan PMK erat kaitannya dengan mobilitas dan aktivitas jual beli ternak antarwilayah. Menurutnya, kambing kerap menjadi perantara penularan karena gejala PMK pada kambing cenderung lebih ringan dibandingkan sapi.

ADVERTISEMENT

“Setelah ternak dibeli, kemudian ditempatkan satu kandang atau berdekatan dengan ternak lain, termasuk sapi. Dari situ penularan bisa terjadi,” katanya.

Sebagai langkah pengendalian, Dinas Peternakan dan Perikanan Trenggalek kembali menggencarkan vaksinasi PMK. Saat ini, masih tersedia sisa vaksin dari anggaran tahun 2025 yang diperuntukkan bagi sekitar 600 ekor sapi.

“Vaksinasi sebelumnya sebenarnya sudah cukup merata. Namun karena aktivitas jual beli ternak antar daerah terus berlangsung, vaksinasi ulang memang diperlukan. Terakhir vaksinasi dilakukan Juli 2025,” tegas Ririn.

Ia memastikan ketersediaan vaksin relatif aman. Pemerintah pusat, kata dia, akan menyalurkan vaksin PMK ke Jawa Timur dengan total 1 juta 510 ribu dosis.

Meski demikian, Ririn mengingatkan peternak dan pedagang ternak agar lebih waspada dalam melakukan transaksi. Pasalnya, gejala PMK tidak selalu langsung terlihat saat ternak diperdagangkan.

“Saran kami, ternak yang baru dibeli dikarantina dulu selama dua minggu. Jika tidak muncul gejala, baru boleh dicampur dengan ternak lain. Kalau ada tanda-tanda PMK, segera laporkan,” kata dia.

Kabar Trenggalek - Peristiwa

Editor: Zamz