TRENGGALEK - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek belum bisa memastikan kapan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah akan mencapai kapasitas maksimal. Di tengah tren kenaikan volume sampah, DLH justru mengaku belum memiliki data terbaru terkait daya tampung maupun lahan yang sudah terpakai.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan B3 DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi, menyebut perhitungan kapasitas masih bergantung pada kajian pihak ketiga yang saat ini belum rampung.
"Jadi sebenarnya kalau lahan kami itu, masih banyak ada beberapa spot, jadi kalau perhitungan dan masih dihitung dengan kajian oleh PT SMI itu menghitung kembali pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah," kata Fahmi.
Ia mengungkapkan, hingga kini DLH belum melakukan pengukuran terbaru terhadap kondisi TPA Srabah. Kajian yang sedang berjalan masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan kesimpulan.
"Saat ini masih tahap awal, belum keluar. Termasuk opsi untuk menambah landfill dengan membuka landfill lama," ujarnya.
Selain menghitung kapasitas, kajian tersebut juga diarahkan untuk menentukan teknologi pengolahan sampah yang paling sesuai dengan karakteristik sampah di Trenggalek.
"Jadi di TPA Srabah teknologi pengolahan sampah yang paling cocok diterapkan soal karakteristik sampah di Trenggalek," jelasnya.
Sejumlah opsi tengah dipertimbangkan, mulai dari pengolahan menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai pengganti batu bara, hingga metode non-RDF seperti konversi sampah menjadi bahan bakar minyak atau produk turunan.
"Jadi kalau sekarang itu teknologi pengolahan sampah itu ada tentang RDF, jadi itu sebagai bahan untuk pengganti batu bara di pabrik semen, ada beberapa tempat di luar daerah, beberapa kota bisa produksi Refuse Derived Fuel (RDF)," terang Fahmi.
"Atau bisa non RDF bisa digunakan untuk pengolahan sampah diubah menjadi BBM, ada juga di cetak untuk paving, bikin kursi, meja, dari hasil nyetak sampah," imbuhnya.
Kajian tersebut dijadwalkan berlangsung selama delapan bulan. "Waktunya itu untuk kajian sesuai schedule selama 8 bulan," katanya.
Meski belum memiliki data terkini, DLH masih mengacu pada proyeksi lama yang menyebut TPA Srabah berpotensi penuh sebelum 2030. Namun, proyeksi tersebut belum diperbarui berdasarkan kondisi terbaru di lapangan.
"Kami itu, belum tahu dengan yang sekarang dan belum ukur, kalau di tahun 2023 rencananya, kayanya dengan tren yang sekarang itu, sebelum 2030 sudah mengalami penuh TPA," ujarnya.
Di sisi lain, volume sampah yang masuk ke TPA Srabah menunjukkan tren peningkatan. Dari 33.469 ton pada 2024, jumlahnya naik menjadi 37.427 ton pada 2025.
Kabar Trenggalek - Lingkungan
Editor: Zamz




















