Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Total Sampah di Trenggalek Makin Meroket, Tahun 2025 Capai 37.000 Ton

Volume sampah di Trenggalek meningkat tajam dari 2024 ke 2025, TPA Srabah kini menampung lebih dari 37 ribu ton

Poin Penting

  • Sampah Trenggalek naik hampir 4 ribu ton dalam setahun
  • Lonjakan dipicu momen Ramadan dan perubahan gaya hidup praktis
  • DLH dorong pengurangan plastik sekali pakai

TRENGGALEK - Jumlah sampah di Kabupaten Trenggalek mengalami lonjakan signifikan dalam setahun terakhir. Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah naik dari 33.469 ton pada 2024 menjadi 37.427 ton pada 2025.

Kenaikan ini menunjukkan tambahan hampir 4 ribu ton sampah dalam satu tahun, sekaligus menjadi sinyal meningkatnya beban pengelolaan sampah di daerah.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan B3 DLH Trenggalek, Fahmi Rizab Syamsudi, menyebut peningkatan tersebut berasal dari kiriman sampah di berbagai Tempat Penampungan Sementara (TPS).

“Secara umum terjadi peningkatan sampah yang masuk dari TPS-TPS di Kabupaten Trenggalek ke TPA Srabah,” jelasnya.

Fahmi mengungkapkan, lonjakan sampah ini tidak lepas dari tingginya aktivitas masyarakat pada momen tertentu. Periode Ramadan dan Lebaran menjadi penyumbang terbesar peningkatan volume sampah.

“Yang paling utama itu saat puasa Ramadan dan Lebaran terjadi peningkatan di TPS-TPS kita,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Selain faktor musiman, tren kenaikan juga dipengaruhi perubahan pola konsumsi masyarakat yang cenderung praktis. Banyaknya penggunaan kemasan sekali pakai ikut menyumbang peningkatan volume sampah.

“Sekarang budaya praktis, makanan dan minuman banyak dikemas plastik. Layanan seperti GrabFood atau ShopeeFood memang positif untuk ekonomi, tapi juga menambah volume sampah,” paparnya.

Untuk merespons kondisi ini, DLH Trenggalek mendorong pembatasan penggunaan plastik sekali pakai yang sulit didaur ulang, seperti kantong kresek, styrofoam, dan sedotan plastik.

“Kresek itu nilai ekonominya sangat kecil. Styrofoam juga tidak laku di industri daur ulang dan berdampak buruk bagi kesehatan. Sedotan plastik juga tidak bisa didaur ulang,” katanya.

DLH juga terus mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar mulai beralih ke bahan ramah lingkungan guna menekan laju kenaikan sampah di Trenggalek.

“Setiap tahun kita terus sampaikan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai,” katanya. 

Kabar Trenggalek - Lingkungan

Editor: Zamz