KBRT - Kasus menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berbau menyengat dari SPPG Ngantru 3, Kecamatan Trenggalek, akhirnya menemukan titik terang. Hasil uji laboratorium memang menyatakan makanan tersebut negatif bakteri Escherichia coli (E. coli), namun persoalan utamanya justru ada pada kelalaian sejak awal, yakni pemilihan bahan baku.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek, dr. Sunarto, memastikan sumber bau menyengat berasal dari lauk ayam yang kualitasnya sudah tidak layak diolah.
“Bau itu sudah seperti bahan basi. Biasanya makanan yang dimasak mengeluarkan aroma sedap, tapi menu ini justru mengeluarkan bau anyir yang sangat kuat,” ujar Sunarto.
Dari hasil pengecekan langsung ke dapur SPPG Ngantru 3, Dinkes menemukan fakta yang lebih memprihatinkan. Juru masak disebut sudah mengetahui kondisi ayam tidak segar, namun tetap nekat memasaknya.
“Sumber bau berasal dari ayam. Saat kami mengecek dapur, juru masak mengaku ayamnya memang terlihat tidak segar. Namun mereka tetap memasaknya, dan hasilnya jelas bermasalah,” jelas Sunarto.
Kondisi inilah yang membuat pihak SD Inovatif Trenggalek memilih langkah aman dengan mengembalikan sekitar 400 porsi MBG pada Kamis (05/02/2026). Aroma menyengat sudah tercium sejak makanan tiba di sekolah, sehingga guru tidak berani menyajikannya kepada para siswa.
Kasus ini mencuat setelah orang tua murid menyampaikan laporan ke Dinkes PPKB Trenggalek. Menindaklanjuti aduan tersebut, tim pengawasan MBG langsung diterjunkan ke dapur SPPG Ngantru 3.
Saat tim tiba di lokasi, dapur diketahui tengah bersiap memasak untuk sesi kedua. Melihat potensi risiko yang ada, Dinkes langsung mengambil langkah tegas.
“Kami langsung memerintahkan pengelola menghentikan proses memasak. Kami juga menginstruksikan penarikan seluruh makanan yang sudah terdistribusi,” tegas Sunarto.
Hasil uji laboratorium di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Trenggalek memastikan sampel makanan tidak mengandung bakteri E. coli. Meski demikian, Sunarto menegaskan bahwa hasil tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur keamanan pangan.
“Negatif E. coli bukan berarti makanan ini aman sepenuhnya. Masih ada potensi bakteri lain seperti Staphylococcus, Shigella, atau Salmonella,” paparnya.
Ia menambahkan, keterbatasan peralatan di laboratorium daerah membuat pemeriksaan lanjutan harus dikirim ke laboratorium rujukan di Surabaya untuk memastikan keamanan secara menyeluruh.
Kasus MBG Ngantru ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pengelola SPPG di Trenggalek. Dinkes menekankan bahwa pengawasan MBG tidak cukup hanya mengandalkan uji akhir laboratorium, tetapi harus dimulai sejak proses pemilihan bahan mentah.
Sebagai langkah lanjutan, Dinkes PPKB Trenggalek kini mengintensifkan edukasi standar operasional prosedur (SOP) kepada seluruh pengelola SPPG. Materi yang ditekankan meliputi penilaian kualitas bahan, teknik penyimpanan, hingga pemisahan bahan mentah dan matang.
Kabar Trenggalek - Peristiwa
Editor: Zamz





















