Masyarakat Trenggalek sepatutnya bangga atas dimenangkannya Film Tambang Emas Ra Ritek dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) sebagai film dokumenter panjang terbaik Indonesia Tahun 2025. Selain karena film tersebut dengan apik berhasil mencatat kronik perlawanan masyarakat Trenggalek dari ancaman tambang emas, juga karena filmnya digarap oleh anak-anak muda Trenggalek, yakni Wahyu AO, Vina, Beni, Jati, dan Thalia. Film ini diproduksi di Trenggalek atas upaya dan kemampuan mereka dalam merajut kisah.
Stereotip ndeso dan telo untuk Trenggalek setidaknya bisa dianulir dengan karya-karya mentereng yang bisa menjebol gerbang nasional yang selama ini boleh jadi hanya dikuasai oleh orang-orang kota. Dan kita boleh berasumsi ini berkat anugerah lautan yang kerap menyuguhkan teri dan tongkol sebagai penyuplai omega 3 yang konon kata ahli dapat menyuplai otak supaya lebih encer berpikir.
Namun kemenangan itu juga jangan terlalu diromantisasi dengan hanya diraihnya piala citra, karena sesungguhnya bukan itu substansi dari film Tambang Emas Ra Ritek. Berdasarkan penjelasan muda-mudi sineas yang membuat film itu, mereka tidak rela kalau masyarakat terjebak akan rasa bangganya saja, lebih dari itu, kata mereka, film ini lebih menyasar pada penyadaran.
“Kalau masyarakat sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan mereka, itu penghargaan tertinggi yang berhasil kami raih,” begitu kira-kira intisari dari mereka pada diskusi suatu malam.
Daftar Isi [Show]
Masih Ingat Film G30S?

Secara pribadi, sudah sejak lama saya menginginkan ada semacam audio visual yang bisa membantu masyarakat mengimajinasikan tentang kerusakan lingkungan di sekitarnya. Keinginan itu muncul seusai ada tokoh masyarakat di Kecamatan Kampak yang mengimajinasikan bahwa Tambang Emas itu ibarat seperti njebol telo, setelah selesai mengambil barang lalu bisa ditimbun kembali seperti sedia kala.
“Saya kira cuma seperti njebol telo mas, tidak tahu kalau sampai ada ledakan (blasting) seperti itu,” kata tokoh tersebut setelah diperlihatkan video blasting sebagai upaya peleburan tanah di lokasi tambang metode open pit.
Imajinasi sederhana itu tidak lahir tiba-tiba, melainkan sudah disusupi oleh penjelasan perusahaan –yang dalam praktiknya– hanya menjelaskan tentang kesejahteraan, baik lapangan pekerjaan atau tentang pembangunan. Penjelasan tentang dampaknya apa, memang sering kali tidak dijelaskan secara gamblang –sesuai pengalaman penulis waktu jadi pekerja tambang di Kalimantan.

Maka ketika cah-cah enom berinisiatif membuat film tersebut, rasanya senang sekali. Ini akan jadi medium lebih mudah untuk mengedukasi masyarakat tentang apa yang mereka miliki dan apa yang bakal hilang. Maklum saja, sebagian besar dari kita ini bisa menyadari arti memiliki setelah kehilangan. Namun apa pentingnya getun mburi semacam itu.
Pada era Indonesia masa lalu, negara pernah meyakini bahwa film bisa menjadi alat mempengaruhi masyarakat yang baik dan cepat, maka dibuatlah film G30S. Film tersebut diputar di sekolah-sekolah setiap bulan September, orang-orang milenial tentu pernah mengalami hal ini karena ketika SD, kerap dicekoki tentang bahaya gerakan kiri tersebut.
Maka Film Tambang Emas Ra Ritek, bisa saja menjadi media yang tepat untuk membuka cakrawala pengetahuan masyarakat Trenggalek untuk dapat menentukan pilihan terbaik bagi kehidupan mereka sendiri. Ketika perusahaan hanya berbicara soal baiknya tambang, maka film ini berbicara tentang buruknya tambang. Agar setiap keputusan mendapatkan pertimbangan akan manfaat dan mudaratnya. Dengan begitu masyarakat menjadi objektif.
Apa yang Terjadi Setelah Masyarakat Melihat Film Ini?

Durasi film kurang lebih 1 jam dan sampai artikel ini ditulis, saya sudah menontonnya 6 kali, pemutaran di Balai Desa Bendoagung Kampak, di Balai Desa Sumberbening Dongko, di Dusun Ponggok Desa Ngepeh Tugu, di Pondok Pesantren Qomarul Hidayah Tugu dan di Balai Desa Sobo Munjungan.
Anehnya, meski sudah diputar beberapa kali, saya tetap menonton sampai habis. Mungkin karena saya suka mengamati bagian scene mana orang-orang akan terusik dan berseloroh. Misal, orang akan banyak berbicara ketika scene siapa bupati yang telah berperan meloloskan izin eksplorasi. Scene animasi gaya patah-patah yang dibuat Vina ini memang bagian favorit, termasuk saya.
Masyarakat menjadi berani berdiri dan ikut mendeklarasikan tolak tambang emas usai menonton film tersebut. Itu poin yang sangat penting dan perlu digarisbawahi, bahwa ketika masyarakat mendapatkan pemahaman yang seimbang, mereka akan menolak bisnis ekstraktif tersebut.
Maka di sini, impian anak-anak muda pembuat film untuk mengejar substansi dari film tersebut sedikit banyak telah terwujud. Mereka telah membantu masyarakat mengimajinasikan dampak buruk lingkungannya dan membantu membuat keputusan, menerima atau menolak tambang emas.
Catatan Untuk Para Pejabat

Film Tambang Emas Ra Ritek pada akhirnya tidak hanya berhenti sebagai catatan tentang perlawanan warga. Di dalamnya juga tersimpan rekam jejak bagaimana kebijakan lahir, bagaimana izin diproses, dan bagaimana pemerintah—dari level desa hingga nasional—ikut hadir dalam cerita yang membawa tambang emas ke Trenggalek.
Barangkali inilah bagian yang kerap luput disadari, bahwa setiap keputusan penguasa, meski dibuat di ruang tertutup dan dibingkai dengan bahasa pembangunan, selalu meninggalkan jejak. Film ini membuktikan, jejak itu tidak hanya tercatat dalam dokumen negara, tetapi juga dalam ingatan masyarakat, disimpan dalam bentuk gambar, suara, dan cerita yang kelak bisa diputar ulang.
Karena itu, kehati-hatian menjadi hal yang niscaya. Karena pejabat bisa diadili rakyat kapan saja, suatu saat keputusan-keputusan itu akan dibaca kembali. Bahkan di level desa sekalipun, pernyataan, sikap, dan keberpihakan bisa menjadi arsip yang bisa dibuka kapan saja.
Di titik ini, apa yang dilakukan anak-anak muda Trenggalek menjadi penting. Mereka menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan mencatat realitas. Kamera dan film mereka bekerja sebagai pengingat bahwa masyarakat memiliki cara sendiri untuk menjaga ruang hidupnya.
Maka Tambang Emas Ra Ritek bisa dibaca sebagai pesan bagi para pengambil kebijakan, ingatan rakyat jauh berumur panjang dibandingkan umur jabatan. Mungkin saat berkuasa mereka kebal, tapi ingat, ada anak cucu yang melanjutkan kisah hidupnya kelak, yang mungkin akan menanggung keputusan buruk hari ini.
Seperti kata Saga –salah satu narasumber film– mengatakan bahwa “Karya itu abadi, selama diarsipkan”. Dan masyarakat terus mencatat kronik peristiwa hari ini hingga nanti.
Kabar Trenggalek - Feature
Editor: Tri















