Trenggalek- Banyak media massa yang umurnya sudah matang malah melakukan efisiensi—yang sejujurnya lebih tepat disebut pemecatan karyawan—tepat ketika kabartrenggalek.com menginjak usia empat tahun. Disrupsi memang kejam bagi yang tidak siap menghadapi perubahan.
Tidak perlu mencari contoh yang jauh-jauh. HP BlackBerry, yang dulu sangat laris manis, harus terjungkal bahkan sebelum kami sempat membelinya. Kabarnya, kejatuhan itu akibat terlalu percaya diri dengan kehebatannya sendiri. Kisahnya bisa dilihat di film BlackBerry.
Kondisi semacam ini ternyata juga menjangkiti media massa. Sepanjang 2025, Kompas TV, CNN Indonesia, tvOne, grup Emtek, SEA Today, RRI, hingga TVRI melakukan pemecatan karyawan besar-besaran. Terus terang, sebagai pendiri media lokal yang masih seumur jagung, kami sempat ketar-ketir.
Apakah disrupsi akibat pergeseran konsumsi digital ini juga akan menular sepenuhnya ke media berita lokal? Lantas, apa guna kami mendirikan media jika ujung-ujungnya hanya menunggu giliran tumbang?
Kabar Trenggalek lahir dari idealisme jurnalistik, begitulah niatnya. Sejak awal berdiri, tidak terhitung iming-iming yang datang, baik lewat ancaman maupun bujuk rayu yang menggiurkan. Namun sampai hari ini, kami masih berusaha kekeh untuk tidak “melacurkan” diri. Tidak menukar arah berita hanya karena beberapa juta rupiah. Tidak membelokkan judul hanya karena permintaan halus dari orang yang merasa punya kuasa.
Tetapi kami juga sadar, memicingkan mata terhadap kebutuhan hidup para awak media adalah kezaliman yang nyata. Jurnalisme tidak bisa hidup dari idealisme kosong. Maka bisnis harus tetap berjalan, namun tidak harus dengan cara menjual diri.
Kepada adik-adik mahasiswa dan kawan, kami sering mengatakan “idealisme itu harus berani menjamin kebutuhan dirinya sendiri, agar tidak tergoda untuk melacur”. Sebaliknya, jika hanya mengejar kebutuhan hidup tanpa idealisme, manusia mudah berubah menjadi perusak—rakus dan tidak bermoral.
Pergulatan batin soal masa depan media lokal ini jujur saja sangat menyita pikiran. Namun ketika melihat capaian dan laporan kinerja Kabar Trenggalek—terlebih setelah media ini mendapatkan verifikasi faktual Dewan Pers—rasa-rasanya kami masih punya alasan untuk tetap optimistis.
Terus terang, ini capaian yang di luar dugaan. Kalau mau sok keren, istilahnya beyond the limit.
Daftar Isi [Show]
100 Juta Tayangan Berita dalam Setahun
Kami tidak memproduksi dan mendistribusikan berita secara asal-asalan. Ada metode. Ada percobaan. Ada evaluasi. Semua disesuaikan dengan perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi di ruang digital.
kami justru belajar satu hal, jangan terlalu percaya diri dengan anggapan bahwa media massa itu pasti dicari. Ketika kita ke-PD-an dengan posisi itu, di luar sana ribuan akun homeless bertebaran, memproduksi konten, berebut engagement, meski dengan cara comot sana comot sini. Pada akhirnya, publik hanya melihat apa yang muncul di layar ponsel mereka saat scrolling.
Karena itu, Kabar Trenggalek menjadikan kabartrenggalek.com sebagai rumah utama berita. Dari sana, konten disebarkan ke mana-mana, TikTok, Instagram, Facebook, X, saluran WhatsApp, dan kadang-kadang YouTube.
Orang mau membaca dari mana, itu urusan mereka. Yang penting, berita sampai. Terutama kepada orang Trenggalek.
Dari kerja harian redaksi dan admin media sosial itulah, sepanjang 2025 Kabar Trenggalek mencatat sekitar 100 juta tayangan di seluruh jaringan yang kami kelola. Angka ini tidak datang dari satu platform, tetapi dari akumulasi lintas kanal digital.
Facebook menjadi penyumbang terbesar dengan sekitar 64,6 juta tayangan. TikTok menyusul dengan sekitar 19 juta tayangan. Instagram berada di kisaran 13,3 juta tayangan. Website kabartrenggalek.com sendiri mencatat sekitar 1,59 juta pageviews.
Di luar itu, masih ada distribusi lewat WhatsApp, YouTube, X dan video pendek lain yang tidak seluruhnya tercatat dalam satu sistem analitik yang rapi.
Jika semuanya digabung, total tayangan memang melampaui 100 juta.

Bagi kami, angka ini bukan sekadar statistik. Ia merupakan ukuran kerja, ukuran lelah dan ukuran konsistensi dalam menuangkan ide-ide.
Artinya, selama setahun ini, isu-isu Trenggalek—dari desa, kecamatan, kebijakan daerah, sampai peristiwa sehari-hari—telah muncul puluhan juta kali di layar gawai orang. Nama Trenggalek dieja, dibaca, ditonton, dan tidak hanya lewat begitu saja di ibu jari orang-orang yang sedang rebahan, menunggu, atau bosan.
Dalam konteks promosi daerah, angka seperti ini biasanya baru dibanggakan lewat program komunikasi publik berbiaya besar, atau lomba-lomba tahunan pemkab Trenggalek. Di sini, ia lahir dari kerja redaksi kecil dengan rutinitas yang itu-itu saja: liputan, verifikasi, menulis, mengemas ulang, lalu menyebarkan.
Agar tidak terdengar mengarang, kami sertakan ringkasan sumber tayangan tersebut dalam tabel tersendiri. Jika digabung dengan WhatsApp, YouTube, dan format video pendek lainnya, total tayangan Kabar Trenggalek sepanjang 2025 memang berada di atas 100 juta.
Satu-satunya Media Lokal Trenggalek yang Terverifikasi Dewan Pers
Di tengah derasnya arus konten serba cepat dan serba instan, satu hal yang bagi kami tetap penting adalah legitimasi. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi sebagai penanda bahwa kerja jurnalistik yang kami lakukan masih berada di koridor yang benar.
Pada 2025, Kabar Trenggalek dinyatakan terverifikasi faktual oleh Dewan Pers. Bagi media kecil di daerah, proses ini tampak sangat mustahil, karena faktanya, media massa lokal di Trenggalek, baru kabar Trenggalek yang sudah terverifikasi faktual. Proses ini bukan sekadar formalitas administrasi. Ia menuntut pembenahan dari hulu ke hilir, struktur redaksi, standar kerja jurnalistik, badan hukum, transparansi pengelolaan, etika pemberitaan hingga manajemen karyawan.
meski status ini tidak otomatis membuat kami kebal dari kesalahan, tetapi setidaknya menjadi pagar awal agar kami tidak tergelincir terlalu jauh ketika godaan pragmatis datang silih berganti. Di tengah maraknya media abal-abal dan akun anonim yang sulit dipertanggungjawabkan, verifikasi ini kami anggap sebagai komitmen terbuka bahwa Kabar Trenggalek memilih jalan yang lebih terang meski melelahkan.
Bedah Buku Reset Indonesia

Sukses mengundang Rocky Gerung pada tahun 2024, Kegiatan bedah buku Reset Indonesia ini menjadi salah satu capaian penting Kabar Trenggalek di luar kerja rutin pemberitaan di Tahun 2025. Forum tersebut menghadirkan langsung empat penulis nasional—Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu—serta diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegiat komunitas, hingga aparatur sipil negara. Acara yang digelar di ruang terbuka Hutan Kota Trenggalek itu tidak hanya berlangsung penuh, tetapi juga memantik diskusi terbuka lintas generasi tentang demokrasi, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan daerah.
Kehadiran Bupati Trenggalek sebagai keynote speaker, sekaligus ajakan terbuka kepada ASN untuk ikut berdiskusi, menjadikan forum ini tidak berhenti sebagai agenda literasi, melainkan berubah menjadi ruang dialog antara gagasan kritis dan praktik birokrasi. Bagi kami, capaian ini penting, media lokal tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi mampu menjadi fasilitator pertemuan ide, bahkan ketika topiknya sensitif dan tidak selalu nyaman bagi penguasa. di momen inilah Bupati mengatakan mengakui kalau kabar trenggalek selalu obyektif
“Kabar trenggalek tidak selalu membaik-baikkan saya atau kabupaten trenggalek, namun karena keobyektifan merekalah kami sayang” kata Mas Ipin
Dalam ukuran media daerah dengan sumber daya terbatas, keberhasilan menyelenggarakan forum publik dengan skala, narasumber, dan atensi seperti ini adalah penanda bahwa Kabar Trenggalek mulai beranjak dari sekadar mesin distribusi berita, menuju peran yang lebih substantif dalam ekosistem pengetahuan dan diskursus publik lokal.
Jika semua capaian itu dibaca utuh—dari upaya menjaga idealisme, menata keberlanjutan bisnis media, menembus 100 juta tayangan, memperoleh verifikasi Dewan Pers, hingga berani membuka ruang diskusi publik—maka Kabar Trenggalek sesungguhnya bukan hanya soal sebuah website berita. Ia adalah rangkaian percobaan yang dijalankan dengan segala keterbatasan, keraguan, dan kesalahan. Tidak selalu rapi, tidak selalu berhasil, tetapi dikerjakan dengan kesadaran bahwa ruang publik di tingkat lokal tetap perlu dirawat, agar tidak sepenuhnya dikuasai oleh kebisingan dan kepentingan sesaat.
Pada titik ini, kami melihat Kabar Trenggalek sebagai bagian dari ikhtiar kecil pemuda-pemuda Trenggalek yang memilih bekerja di jalur sunyi: membangun sesuatu yang mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi setidaknya menambah satu simpul yang waras di tengah hiruk-pikuk zaman. Bukan untuk mengklaim paling benar, apalagi merasa paling berjasa, melainkan sekadar berusaha agar kabupaten ini memiliki ruang informasi yang layak, kritis, dan tetap berpijak pada akal sehat.
Kabar Trenggalek - Editorial
Editor: Tri















