Kabar Trenggalek – Di tengah menguatnya isu krisis demokrasi, ketimpangan sosial, dan tekanan terhadap ruang hidup warga, Trenggalek akan menjadi salah satu titik diskusi bergengsi melalui acara Bedah Buku #RESETINDONESIA. Forum ini dijadwalkan berlangsung di Hutan Kota Trenggalek, Senin, 22 Desember 2025, dan terbuka untuk umum.
Diskusi ini menghadirkan langsung empat penulis buku #RESETINDONESIA yang mewakili lintas generasi, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Keempatnya menawarkan sudut pandang berbeda dalam membaca kondisi Indonesia, mulai dari pengalaman panjang jurnalisme lapangan hingga keresahan generasi muda terhadap masa depan demokrasi dan lingkungan.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, dijadwalkan hadir sebagai keynote speaker. Kehadiran kepala daerah dalam forum ini menempatkan diskusi buku tidak semata sebagai agenda literasi, tetapi juga ruang dialog antara gagasan kritis dan praktik kebijakan publik di tingkat daerah.
Tidak hanya hadir, Bupati juga secara khusus mengajak para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk turut serta dalam diskusi tersebut. Langkah menghadirkan birokrasi dalam forum yang diisi oleh empat penulis ini disebut Mas Ipin sebagai upaya introspeksi bagi pemerintah daerah.
"Dasar berpikirnya adalah kita mudah untuk menilai orang lain, kita mudah untuk menghakimi orang lain, kita mudah untuk mencaci, mengkritik, mencari kekurangan orang lain. Tetapi yang lebih sulit dilakukan adalah kita mengkritik diri kita sendiri," ujar Mas Ipin memberikan keterangan terkait acara tersebut.
Mas Ipin menekankan pentingnya pola pikir yang adil bagi pemangku kebijakan. Mengutip sastrawan Pramoedya Ananta Toer, ia menyebut bahwa sikap "adil sejak dalam pikiran" adalah keberanian untuk menggugat gagasan sendiri.
Terkait judul buku #RESETINDONESIA yang akan dibedah, Bupati meminta agar hal itu tidak dimaknai sebagai sesuatu yang menakutkan. Justru, menurutnya, perbaikan Indonesia sangat bergantung pada tata kelola pemerintahan.
"Kalau mau kita membawa Indonesia lebih baik, ya mesin utamanya adalah birokrasi, the governance system. Maka perlu untuk setiap orang yang bekerja melayani harus terus-menerus, bahasanya muhasabah, atau ya itu tadi, mengkritik diri sendiri," tegasnya.
Ia berharap diskusi nanti berjalan produktif. Ia juga menegaskan bahwa forum ini tidak dirancang untuk menyerang pihak luar, melainkan fokus pada evaluasi internal birokrasi.
"Diskusi ini tidak untuk menyerang siapapun, karena saya hanya berniat saya ingin menyerang diri saya sendiri, menyerang sisi-sisi yang mungkin perlu diperbaiki dari saya sebagai pribadi maupun pemerintah sebagai instrumen tata kelola daerah," pungkas Mas Ipin.
Tentang Buku #RESETINDONESIA
Buku #RESETINDONESIA lahir dari perjalanan tim Ekspedisi Indonesia Baru yang berkeliling Indonesia menggunakan sepeda motor. Dalam perjalanan tersebut, para penulis merekam langsung realitas sosial warga, kerusakan ekologis, serta ketimpangan pembangunan yang kerap luput dari perhatian publik. Catatan lapangan tersebut kemudian dirangkai menjadi refleksi kritis tentang arah bernegara.
Melalui pendekatan catatan perjalanan dan dialog lintas generasi, buku ini mengangkat isu oligarki, ketimpangan ekonomi, krisis iklim, dan melemahnya partisipasi warga. Perbedaan pandangan antargenerasi menjadi bagian penting dalam buku ini, sekaligus membuka ruang debat tentang kemungkinan menata ulang sistem yang dianggap mengalami kegagalan.
Panitia penyelenggara menyiapkan 100 eksemplar buku #RESETINDONESIA sebagai doorprize bagi peserta. Masyarakat yang ingin mengikuti diskusi dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh E-Sertifikat melalui tautan s.id/trenggalekreset.
Kabar Trenggalek - Nasional
Editor: Zamz









