Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Bukan Cuma Rokok, Gula Berlebih Picu Lonjakan Diabetes di Trenggalek

Konsumsi minuman manis berlebih disebut sama berbahayanya dengan rokok. Dinkes Trenggalek mencatat lebih dari 10 ribu kasus diabetes melitus.

Poin Penting

  • Diabetes melitus di Trenggalek capai 10.714 kasus
  • Konsumsi gula berlebih dinilai setara bahaya rokok
  • Dinkes perkuat skrining dan edukasi pencegahan

KBRT – Konsumsi minuman manis bergula berlebihan kini menjadi perhatian serius di Kabupaten Trenggalek. Dinas Kesehatan setempat mencatat, pola konsumsi gula yang tidak terkendali mulai memicu lonjakan penyakit kronis, bahkan menyerang kelompok usia muda hingga berujung pada komplikasi berat seperti gagal ginjal.

Risiko kesehatan akibat minuman manis dinilai tidak kalah berbahaya dibandingkan rokok. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa pengendalian, dampaknya disebut bisa sama fatalnya terhadap tubuh.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Trenggalek, dr Sunarto, menyampaikan bahwa gula dan rokok sama-sama membawa risiko besar bagi kesehatan masyarakat. Namun, konsumsi gula berlebih menjadi salah satu faktor dominan pemicu diabetes melitus.

“Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi kombinasi faktor genetik dan gaya hidup, seperti kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi gula dan lemak, obesitas, serta stres,” ujar Sunarto.

Berdasarkan data Diskesdalduk KB Trenggalek hingga cut off 22 Desember 2025, jumlah penderita diabetes melitus tercatat mencapai 10.714 orang. Seluruh penderita berasal dari kelompok usia 15 tahun ke atas.

“Proporsi penderita perempuan lebih tinggi, yakni 64,16 persen, sedangkan laki-laki 35,84 persen,” ungkapnya.

Untuk menekan angka diabetes, Dinkes Trenggalek menjalankan berbagai langkah pencegahan. Upaya tersebut meliputi edukasi melalui penyuluhan, skrining gula darah sejak usia dini, pemeriksaan anak sekolah, hingga penduduk usia produktif melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Selain itu, penderita diabetes mendapatkan layanan rutin setiap bulan berupa konseling, pemeriksaan kadar gula darah, serta rujukan medis apabila diperlukan.

ADVERTISEMENT

Tak hanya gula, Sunarto juga menyoroti dampak konsumsi rokok yang masih tinggi. Rokok diketahui menjadi pemicu berbagai penyakit serius seperti kanker paru, kanker mulut dan tenggorokan, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan pernapasan kronis.

“Rokok juga berdampak pada kesehatan mulut, mata, kesuburan, serta meningkatkan risiko diabetes dan komplikasi kehamilan,” jelasnya.

Data Januari–November 2025 mencatat sebanyak 983 kasus baru Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) di Trenggalek. Kelompok usia di atas 69 tahun mendominasi dengan 42,93 persen, dan mayoritas penderita berjenis kelamin laki-laki sebesar 66,51 persen.

Sementara itu, kasus kanker paru tercatat sebanyak 18 orang, dengan kelompok usia terbanyak 55–69 tahun dan sebagian besar berjenis kelamin perempuan.

Sebagai langkah pengendalian, Diskesdalduk KB Trenggalek melakukan skrining PPOK pada laki-laki usia 40 tahun ke atas dengan capaian 69,75 persen dari target. Skrining kanker paru pada laki-laki usia 45–70 tahun juga dilakukan, meski baru mencapai 26,64 persen.

Selain itu, skrining perilaku merokok pada kelompok usia 10–21 tahun menunjukkan masih ada 6.834 orang atau 6,03 persen yang merokok. Program Upaya Berhenti Merokok (UBM) pun terus digencarkan melalui konseling intensif.

“Hingga 22 Desember 2025, sebanyak 1.527 orang telah menjadi klien UBM. Pemerintah daerah juga menerapkan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, tempat bermain anak, transportasi umum, dan ruang publik lainnya,” pungkas dr Narto, sapaan akrabnya.

Kabar Trenggalek - Kesehatan

Editor: Zamz