Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Angka Kelahiran di Trenggalek Terkendali, Peran KB Jangka Panjang Kian Menguat

Angka kesuburan total di Trenggalek berada di bawah target nasional. Peningkatan partisipasi KB jangka panjang jadi faktor penting pengendalian penduduk.

Poin Penting

  • Angka TFR Trenggalek berada di bawah target nasional.
  • Peserta KB jangka panjang menunjukkan tren peningkatan.
  • Pil, implan, dan kondom mulai diminati masyarakat.

KBRT - Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Trenggalek dinilai masih dalam kondisi terkendali. Hal ini tercermin dari angka total fertility rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak per perempuan yang berada di level 1,86, lebih rendah dari target nasional sebesar 2,1 anak per perempuan.

Capaian tersebut tidak lepas dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam program keluarga berencana (KB), khususnya penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang di wilayah Trenggalek.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB (Dinkes Dalduk KB) Trenggalek, dr. Bakhtiar Arifin, menjelaskan prevalensi peserta KB aktif dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) terus menunjukkan tren positif.

Pada tahun 2024, prevalensi KB aktif MKJP tercatat sebesar 20,1 persen. Angka tersebut meningkat pada 2025 menjadi 20,91 persen atau naik sekitar delapan persen dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun 2024 pasangan usia subur di Kabupaten Trenggalek berjumlah 116.716, sedangkan peserta MKJP-nya 16.915 pasangan. Lalu tahun 2025, pasangan usia subur 114.111 pasangan dengan peserta MKJP berjumlah 16.887 pasangan,” kata Bakhtiar.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data penggunaan alat kontrasepsi periode 2024 hingga 2025, metode suntik masih menjadi pilihan terbanyak masyarakat. Meski demikian, persentasenya mengalami penurunan dari 55,34 persen pada 2024 menjadi 53,83 persen pada 2025.

Penggunaan pil KB cenderung stabil dengan kenaikan tipis dari 16,90 persen menjadi 16,96 persen. Sementara metode kontrasepsi jangka panjang seperti implan justru menunjukkan peningkatan, dari 9,75 persen pada 2024 menjadi 10,10 persen pada 2025.

Kenaikan juga terjadi pada penggunaan kondom yang meningkat dari 7,72 persen menjadi 8,24 persen. Sebaliknya, pemakaian IUD sedikit menurun dari 7,47 persen menjadi 6,87 persen. Untuk metode operasi wanita (MOW), angkanya relatif stagnan di kisaran 3,2 persen.

Adapun metode operasi pria (MOP) serta metode amenore laktasi (MAL) masih menjadi pilihan paling rendah, dengan persentase di bawah satu persen dan cenderung menurun.

“Dari data ini terlihat bahwa minat masyarakat mulai bergeser. Walaupun metode kontrasepsi suntik masih mendominasi namun trennya mengalami penurunan. Sedangkan (MKJP) pil, implan, dan kondom meningkat,” ujar Bakhtiar.

Kabar Trenggalek - Kesehatan

Editor: Zamz