TUGU, TRENGGALEK - Warga Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Trenggalek, kembali melangsungkan tradisi bersih desa bertajuk Sinongkelan pada Jumat (01/05/2026) lalu. Tradisi ini tidak sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarat nilai sejarah, yakni dikaitkan dengan pelarian Susuhunan Paku Buwono II usai peristiwa Kartasura Bedhah tahun 1742.
Kegiatan dipusatkan di Balai Desa Prambon dan dihadiri masyarakat yang antusias menyaksikan rangkaian acara, termasuk pementasan drama tradisional Grebek Sinokel.
Seksi Bidang Kebudayaan Karang Taruna Prambon, Arfirsta Brian Ramadhani, menjelaskan Sinongkelan merupakan bentuk penghormatan terhadap tokoh yang diyakini membuka wilayah Prambon, yakni Kanjeng Sinokel atau Ki Ageng Suryo Lelono.
"Intinya untuk mengenang Kanjeng Sinokel atau Ki Ageng Suryo Lelono yang membuka wilayah di daerah Prambon sini," ujar Arfirsta Brian Ramadhani.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan rezeki yang melimpah.
"Karena warga Prambon telah diberikan karunia rezeki yang melimpah. Panen yang melimpah ruah dan lain sebagainya," tambahnya.
Brian menyebut, salah satu rangkaian utama adalah pementasan drama tradisional yang disebut Grebek Sinokel. Konsepnya menyerupai pertunjukan rakyat, namun dikemas dengan ciri khas lokal Prambon.
"Namanya Grebek Sinokel yang ada di Desa Prambon. Ya intinya drama tradisional untuk mengenang Kanjeng Sinokel atau Ki Ageng Suryo Lelono yang membuka wilayah di daerah Prambon sini," jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, istilah Sinongkelan berasal dari kata “disongkel” atau “dicongkel”, yang merujuk pada kisah pelarian Paku Buwono II dari Keraton Surakarta menuju wilayah yang dianggap aman, termasuk kawasan yang kini menjadi bagian dari Prambon.
"Kenapa ke daerah Ponorogo? Karena dianggap aman dan dulu di sini adalah sebelum Trenggalek di wilayah Prambon ini adalah masuk wilayah Wengker, Ponorogo," akuinya.
Menurut Brian, pelaksanaan tahun ini terasa lebih meriah dibanding sebelumnya karena adanya kolaborasi antara pemerintah desa dan Karang Taruna.
"Jadi lebih meriah dan ada perayaan-perayaan di hari berikutnya," ulasnya.
Ia berharap Sinongkelan bisa terus berkembang dan tetap eksis sebagai identitas budaya lokal.
"Karena baik buruknya martabat suatu bangsa itu tergantung kebudayaan di daerah masing-masing," ulasnya.
Sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2019, Sinongkelan dinilai semakin menguatkan identitas daerah sekaligus menjadi potensi budaya yang bisa dikenalkan lebih luas.
"Kita punya lokal genius yang patut dibanggakan dan kita bersama Pemdes bersama Karang Taruna akan terus bersinergi. Bagaimana mengolah sinongkel ini supaya lebih dikenal masyarakat luas," katanya.
Plt Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Winardi Wahyu Kussubagyo, menilai tradisi seperti Sinongkelan menjadi bukti kuatnya masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
"Ini menunjukkan masyarakat masih memegang teguh adat tradisi, termasuk upacara adat Sinongkelan yang hari ini dilakukan dengan meriah," ujar Winardi Wahyu Kussubagyo.
Ia menambahkan, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk syukur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan identitas masyarakat agraris di Prambon.
"Termasuk kesehatan dan guyub rukun yang kuat. Sehingga terjaga pelestarian kearifan lokal. Apalagi upacara adat Sinongkelan sudah ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)," ulasnya.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz





















