Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Trenggalek Rawan Bencana, MDMC dan Rumah Zakat Latih Guru Muhammadiyah tentang SPAB

Pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Trenggalek siapkan sekolah hadapi 12 ancaman bencana dan perkuat prosedur darurat.

Poin Penting

  • SPAB latih 35 peserta di Trenggalek
  • Sekolah dibekali prosedur darurat bencana
  • Kabupaten Trenggalek Hadapi 12 potensi ancaman bencana

Trenggalek - Tingginya potensi bencana di Kabupaten Trenggalek mendorong penguatan kewaspadaan di dunia pendidikan melalui pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Langkah ini dinilai penting agar aktivitas belajar tetap berlangsung aman di tengah ancaman bencana.

Training of Facilitator SPAB digelar selama lima hari, Senin–Jumat, 13–17 April 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Rumah Zakat, Sekretariat Nasional SPAB Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta BPBD Trenggalek.

Sebanyak 35 peserta dari lembaga pendidikan Muhammadiyah dan BPBD Trenggalek mengikuti pelatihan yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di Trenggalek tersebut.

Ketua panitia, Sugeng Saguh Tatak Hariyanto, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan menyiapkan fasilitator untuk mendorong implementasi SPAB di sekolah.

“Harapan ke depan dari hasil kegiatan ini adalah agar teman-teman yang menjadi peserta menjadi pionering untuk melaksanakan program SPAB di dunia pendidikan di Kabupaten Trenggalek,” ujarnya.

peserta SPAB Trenggalek
Peserta berlatih mendidentifikasi berbagai solusi jika terjadi bencana. KBRT/Tri

Sementara itu, Ketua MDMC Trenggalek, Niko Prasetyo, menjelaskan bahwa sekolah perlu memiliki prosedur baku dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, baik yang datang tiba-tiba maupun yang memiliki peringatan dini.

“Dalam kondisi bahaya yang terjadi cepat tanpa peringatan seperti gempa, kebakaran, atau kekerasan, sekolah harus tahu kapan mengunci diri, kapan evakuasi, dan bagaimana melindungi siswa. Sedangkan untuk ancaman yang datang lebih lambat, harus ada pengkajian apakah bangunan aman atau perlu evakuasi,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan, prosedur tersebut mencakup langkah rinci mulai dari membunyikan tanda bahaya, membantu kelompok rentan, hingga memastikan titik kumpul aman dan proses pemulangan siswa terverifikasi.

“Semua itu penting agar saat bencana terjadi tidak panik, karena sudah ada alur keputusan yang jelas,” kata dia.

Niko berharap kolaborasi antara MDMC Trenggalek dengan Rumah Zakat bisa berlanjut pasca kegiatan ini guna memberikan lebih banyak edukasi kebencanaan terhadap para dunia pendidikan.

“Harapan, semoga kolaborasi antara MDMC dan Rumah zakat tetap berlanjut pasca TOF ini,” terangnya.

SPAB merupakan program pencegahan dan penanggulangan dampak bencana di lingkungan sekolah yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Program ini dirancang untuk melindungi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, dengan fokus pada kesiapsiagaan prabencana, situasi darurat, hingga pascabencana.

Kabupaten Trenggalek sendiri memiliki sedikitnya 12 potensi ancaman bencana, meliputi banjir, gempa bumi, tsunami, kekeringan, kebakaran, gunung meletus, likuifaksi, tanah longsor, angin ribut, cuaca ekstrem, kegagalan teknologi, dan tanah gerak. Keragaman risiko tersebut dinilai berpotensi mengganggu keselamatan siswa serta proses pembelajaran jika tidak diantisipasi.

Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman mitigasi dan peran fasilitator dalam membangun budaya siaga di sekolah. Ke depan, program SPAB diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa, sekaligus meminimalkan risiko saat bencana terjadi.

Kabar Trenggalek - Advertorial

Editor: Zamz