TRENGGALEK - Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai bersiap menghadapi potensi kemarau panjang pada tahun 2026. Langkah antisipasi dilakukan sejak dini dengan memetakan wilayah rawan kekeringan, mengacu pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, kondisi kekeringan pernah terjadi hampir merata di wilayahnya pada 2024, sehingga perlu diantisipasi jika pola serupa kembali terulang.
“Kemungkinan terjadinya musim kering cukup panjang, kalau kita lihat dari data tahun 2025 kami tidak ada kasus kekeringan sama sekali, tetapi di tahun 2024 dari 14 kecamatan ada 13 yang mengalami kekeringan semua yang terdampak sekitar 70 desa,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan kondisi antara 2024 dan 2025 menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah ke depan. Jika situasi kemarau kembali seperti 2024, maka dampaknya bisa cukup luas bagi masyarakat, terutama terkait ketersediaan air bersih.
“Kalau situasinya dari 2024 maka perlu antisipasi,” tegasnya
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur cenderung lebih kering, dengan curah hujan di bawah normal. Awal musim kemarau diperkirakan mulai April hingga Mei, dengan puncak pada Agustus.
Menurutnya, perbedaan kondisi antara 2024 dan 2025 menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah ke depan. Jika situasi kemarau kembali seperti 2024, maka dampaknya bisa cukup luas bagi masyarakat, terutama terkait ketersediaan air bersih.
“Kalau situasinya dari 2024 maka perlu antisipasi,” tegasnya
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur cenderung lebih kering, dengan curah hujan di bawah normal. Awal musim kemarau diperkirakan mulai April hingga Mei, dengan puncak pada Agustus.
Kabar Trenggalek - Peristiwa
Editor: Zamz






















