Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel

Perhutani Buka Fakta, Trenggalek Nihil Praktik Blandong Kayu

Perhutani KPH Kediri Selatan memastikan tidak ada aktivitas blandong kayu di wilayah Trenggalek karena dominasi hutan pinus dan kesadaran lingkungan masyarakat.

Poin Penting

  • Perhutani menyebut hutan Trenggalek didominasi tanaman pinus
  • Aktivitas blandong kayu dinilai tidak ekonomis dan nyaris tidak ada
  • Kesadaran masyarakat menjaga hutan dinilai cukup tinggi

KBRT – Perum Perhutani KPH Kediri Selatan menegaskan tidak adanya aktivitas blandong kayu atau pembalakan liar di wilayah Kabupaten Trenggalek. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh karakteristik hutan yang didominasi tanaman pinus, sehingga tidak menarik secara ekonomis bagi pelaku pencurian kayu.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, menjelaskan bahwa jenis tegakan hutan di wilayah Trenggalek berbeda dengan daerah lain yang kerap menjadi sasaran blandong kayu.

“Kalau di sini jenis tegakan kami pohon pinus, jadi bukan untuk kayu rimbang seperti jati, mewah sonokeling. Mungkin untuk bahan bangunan di sini masyarakat masih menggunakan kayu sengon,” ujarnya.

Menurut Hermawan, intensitas perusakan hutan di Trenggalek tergolong rendah jika dibandingkan dengan wilayah lain di Jawa Timur yang memiliki tegakan kayu bernilai tinggi seperti jati atau sonokeling.

“Kalau di sini perusakan hutan justru cenderung kecil intensitasnya, makanya terkait blandong kayu kalau dilihat seperti daerah lain seperti Saradan atau di Nganjuk memang jenis tanamannya tidak memungkinkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, secara nilai ekonomi, pencurian kayu pinus dinilai tidak sebanding dengan risiko yang harus ditanggung pelaku. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa praktik blandong kayu hampir tidak ditemukan di kawasan hutan Trenggalek.

ADVERTISEMENT

“Misalnya mencuri 10 pohon pinus dengan 1 pohon jati itu tidak seimbang karena nilainya pinus itu kan kecil. Di samping itu, tanaman kayu masyarakat untuk bangunan seperti akasia auri itu lebih kuat-kuat, jadi di hutan kami kan tidak ada,” tegas Hermawan.

Meski demikian, Perhutani mencatat pernah ada kasus pencurian kayu bernilai tinggi beberapa tahun lalu. Namun, kejadian tersebut bersifat sporadis dan tidak berulang.

“Mungkin di tahun 2021 atau 2022 lalu itu pernah sonokeling di Gunung Sawe, Kedungsigit,” ungkapnya.

Hermawan juga menilai kesadaran masyarakat Trenggalek terhadap kelestarian lingkungan cukup tinggi. Hal ini turut mendukung upaya Perhutani dalam menjaga tutupan hutan dan mencegah kerusakan kawasan.

“Di sini masyarakat juga sadar lingkungan," ujar dia. 

Kabar Trenggalek - Peristiwa

Editor: Zamz