KBRT - Di saat cuaca ekstrem masih rawan terjadi, kesiapan sistem peringatan dini di Kabupaten Trenggalek belum sepenuhnya ideal. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mencatat, dari total 16 unit Early Warning System (EWS) yang terpasang, baru delapan unit yang berfungsi dengan baik.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan EWS tersebut tersebar di wilayah rawan bencana dengan fungsi yang berbeda-beda, mulai dari peringatan banjir, tanah longsor atau tanah gerak, hingga tsunami.
“Sampai saat ini ada 16 EWS yang terpasang di Kabupaten Trenggalek. Dari jumlah itu, baru delapan yang berfungsi dengan baik,” ujar Triadi.
Sementara delapan EWS lainnya masih bermasalah dan belum bekerja secara optimal. Kondisi tersebut sudah dilaporkan ke berbagai pihak agar segera ditangani.
“Yang belum berfungsi sudah kami laporkan ke para pihak, termasuk ke provinsi, agar segera dilakukan perawatan,” jelasnya.
Triadi menjelaskan, setiap EWS memiliki sistem kerja yang disesuaikan dengan jenis ancaman bencana di wilayah masing-masing. Untuk EWS banjir, misalnya, alat dilengkapi sensor ketinggian air yang terhubung dengan sirine serta dipantau melalui CCTV milik Dinas Komunikasi dan Informatika.
“Jika ketinggian air sudah mencapai ambang batas tertentu, sirine akan otomatis berbunyi dan memberikan peringatan kepada warga,” terangnya.
Sementara itu, EWS untuk tanah longsor atau tanah gerak memiliki mekanisme serupa, meski indikator pengukuran disesuaikan dengan standar dari instansi teknis terkait.
Di tengah keterbatasan tersebut, BPBD Trenggalek mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi cuaca ekstrem masih berlangsung pada 21 hingga 30 Januari 2026.
“Sesuai informasi BMKG, angin kencang masih dimungkinkan terjadi dan berpotensi disertai hujan lebat, terutama pada malam hari,” kata Triadi.
BPBD bersama unsur pentahelix mengajak warga untuk tetap tenang, namun tidak lengah. Masyarakat diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika angin kencang melanda.
Warga yang berada di jalan diimbau menepi dan mencari tempat aman, serta menghindari area yang terdapat baliho atau papan reklame yang berisiko roboh.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Trenggalek bersama pihak terkait juga terus melakukan pemangkasan ranting dan penebangan pohon kering yang berpotensi membahayakan.
“Kami secara bertahap melakukan perampingan ranting dan pemotongan pohon kering atas permintaan dari desa-desa yang terdampak,” ujarnya.
Kabar Trenggalek - Peristiwa
Editor: Zamz






















