Untuk memahami secara utuh kontribusi dan posisi strategis buku Biodiversitas Trenggalek 2025, pembacaan tidak cukup dilakukan secara sepintas atau parsial. Buku ini perlu ditelusuri secara berlapis, baik dari segi struktur penulisan, cakupan substansi, hingga konteks sosial-kebijakan yang melingkupinya. Setiap bab yang disusun penulis bukan sekadar pembagian teknis, melainkan rangkaian narasi yang saling terhubung dalam satu tujuan besar, yakni menghadirkan basis data keanekaragaman hayati daerah sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan dan pendukung agenda Net Zero Carbon Kabupaten Trenggalek.
Pembahasan dalam resensi ini disusun mengikuti alur logis buku, dengan menempatkan setiap subbab sebagai bagian dari mozaik besar gagasan. Dimulai dari kerangka konseptual dan metodologis yang dibangun dalam pendahuluan, pembaca diajak memahami latar belakang pentingnya pendataan biodiversitas di tingkat daerah.
Selanjutnya, uraian hasil dan pembahasan menjadi jembatan antara konsep dan realitas lapangan, sebelum pembaca dibawa menelusuri empat lokasi utama yang menjadi fokus kajian: Hutan Kota Trenggalek, Perkebunan Dilem Wilis, Jalur Pendakian Boto Putih, dan Mangrove Cengkrong.
Pemilihan lokasi-lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Masing-masing merepresentasikan tipologi ekosistem yang berbeda, sekaligus menunjukkan keragaman tantangan pengelolaan lingkungan di Kabupaten Trenggalek. Melalui pendekatan ini, buku tidak hanya menampilkan data biodiversitas, tetapi juga menyiratkan relasi antara manusia, ruang, dan kebijakan pembangunan. Dengan kata lain, pembahasan tiap bab menyuguhkan potret mikro yang merefleksikan persoalan makro pembangunan daerah.
Resensi ini tidak semata-mata bertujuan merangkum isi setiap bab, tetapi juga membaca buku secara kritis dan kontekstual. Oleh karena itu, setiap subbab akan dikaji dengan menempatkan substansi buku dalam bingkai yang lebih luas. Perencanaan pembangunan daerah, partisipasi publik, serta komitmen menuju pembangunan hijau. Di titik inilah buku Biodiversitas Trenggalek 2025 diposisikan bukan hanya sebagai karya dokumentatif, melainkan sebagai instrumen pengetahuan yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan.
Melalui tulisan ini, pembaca diharapkan memiliki kerangka awal sebelum memasuki pembahasan per subbab. Kerangka tersebut penting agar uraian yang disajikan tidak dibaca secara terpisah-pisah, melainkan sebagai satu kesatuan gagasan yang utuh. Melalui pembacaan yang terstruktur inilah nilai, kekuatan, sekaligus keterbatasan buku dapat ditangkap secara lebih jernih dan proporsional
Daftar Isi [Show]
- Mengarsipkan Alam di Tengah Krisis Iklim
- Profil Penulis dan Latar Sosial-Gagasan
- Legitimasi Ilmiah dan Kebijakan Publik
- Arsitektur Pengetahuan yang Mudah Diakses Publik
- Biodiversitas sebagai Basis Pengetahuan dan Kebijakan
- Kelebihan Buku
- Kekurangan Buku
- Dari Data Biodiversitas ke Arah Pembangunan Hijau
- Dari Buku ke Aksi Nyata
Mengarsipkan Alam di Tengah Krisis Iklim
Dunia saat ini sedang berada pada fase krisis ekologis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan iklim tidak lagi menjadi wacana ilmiah yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan telah menjelma menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat global. Peningkatan suhu bumi, perubahan pola curah hujan, bencana hidrometeorologi, hingga degradasi ekosistem terjadi secara simultan dan saling berkaitan.
Di balik krisis iklim tersebut, terdapat persoalan yang kerap luput dari perhatian publik, yakni hilangnya keanekaragaman hayati atau biodiversity loss. Padahal, biodiversitas merupakan fondasi utama keberlanjutan kehidupan dan penyangga stabilitas ekosistem bumi.
Dalam berbagai forum internasional, isu kehilangan biodiversitas kini disejajarkan dengan krisis iklim sebagai ancaman serius bagi masa depan manusia. Laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) menyebutkan bahwa lebih dari satu juta spesies flora dan fauna di dunia terancam punah.
Hilangnya spesies tidak hanya berarti berkurangnya kekayaan alam, tetapi juga melemahkan fungsi ekosistem dalam menyerap karbon, menjaga siklus air, dan menopang sistem pangan. Dengan kata lain, krisis biodiversitas dan krisis iklim adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Di tengah situasi tersebut, konsep Net Zero Carbon atau nol emisi bersih karbon menjadi agenda global yang diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia.
Target ini menuntut adanya keseimbangan antara emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dengan kemampuan alam dan teknologi untuk menyerapnya kembali. Namun, pencapaian Net Zero Carbon tidak mungkin dilakukan hanya dengan pendekatan teknologi semata. Alam, melalui hutan, lahan basah, mangrove, dan ekosistem pesisir, memiliki peran krusial sebagai penyerap karbon alami. Tanpa menjaga biodiversitas, target Net Zero Carbon akan kehilangan pijakan ekologisnya.
Dalam konteks nasional dan daerah, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks. Pembangunan sering kali berhadapan dengan dilema antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Banyak daerah kaya sumber daya alam justru mengalami degradasi ekosistem akibat pembangunan yang tidak berbasis data ekologis.
Di sinilah pentingnya upaya pendokumentasian dan pengarsipan keanekaragaman hayati sebagai dasar pengambilan kebijakan. Mengarsipkan alam bukan sekadar mencatat jenis flora dan fauna, tetapi juga merupakan upaya menyelamatkan masa depan dengan menyediakan basis pengetahuan yang akurat dan terukur. Kabupaten Trenggalek merupakan contoh menarik dalam dinamika tersebut.
Secara geografis, Trenggalek memiliki bentang alam yang relatif lengkap, mulai dari kawasan pegunungan, hutan, perkebunan, wilayah perkotaan, hingga pesisir selatan Jawa dengan ekosistem mangrove yang penting. Keanekaragaman lanskap ini menjadikan Trenggalek sebagai wilayah dengan potensi biodiversitas tinggi sekaligus sebagai daerah yang strategis dalam agenda mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Namun, seperti banyak daerah lain di Indonesia, kekayaan ekologis tersebut belum sepenuhnya terdokumentasi secara sistematis dalam satu basis data terpadu.
Selama ini, kebijakan pembangunan daerah kerap berjalan dengan keterbatasan data ekologis yang memadai. Akibatnya, banyak keputusan pembangunan diambil tanpa mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan secara komprehensif.
Padahal, keberadaan data biodiversitas yang akurat dapat menjadi landasan penting dalam perencanaan tata ruang, pengembangan ekonomi hijau, serta penyusunan kebijakan mitigasi perubahan iklim di tingkat daerah. Dalam konteks inilah buku Biodiversitas Trenggalek 2025 (Database Keanekaragaman Hayati Kabupaten Trenggalek Sebagai Pendukung Keberhasilan Net Zero Carbon) menemukan relevansinya.
Buku ini hadir bukan sekadar sebagai publikasi ilmiah, melainkan sebagai ikhtiar strategis untuk menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi krisis ekologis. Dengan menjadikan biodiversitas sebagai titik pijak, buku ini menawarkan perspektif bahwa pembangunan berkelanjutan harus dimulai dari pemahaman yang utuh terhadap alam yang dimiliki.
Lebih dari itu, buku ini juga mencerminkan perubahan paradigma dalam perencanaan pembangunan daerah. Selama bertahun-tahun, pembangunan sering dipahami sebagai proses top-down yang didominasi oleh logika teknokratis. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 justru lahir dari proses partisipatif melalui Festival Gagasan dan Aksi (Galaksi), sebuah forum yang mempertemukan pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan praktisi. Dengan demikian, buku ini tidak hanya mengarsipkan alam, tetapi juga mengarsipkan semangat partisipasi publik dalam perencanaan pembangunan.
Mengarsipkan alam di tengah krisis iklim juga berarti mengakui bahwa alam memiliki nilai strategis yang melampaui sekadar komoditas ekonomi. Hutan kota, jalur pendakian, perkebunan, dan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi atau sumber daya ekonomi, tetapi juga sebagai penyerap karbon, penyangga keanekaragaman hayati, dan pelindung masyarakat dari dampak perubahan iklim. Dengan mendokumentasikan kekayaan tersebut secara sistematis, buku ini berupaya menempatkan alam sebagai subjek utama dalam pembangunan daerah.
Pada level yang lebih luas, kehadiran buku ini dapat dibaca sebagai bentuk resistensi terhadap pembangunan yang abai terhadap lingkungan. Di tengah laju pembangunan infrastruktur dan eksploitasi sumber daya alam, upaya mendokumentasikan biodiversitas merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa pembangunan tidak berjalan di atas kehancuran ekosistem. Buku ini menjadi pengingat bahwa setiap keputusan pembangunan memiliki konsekuensi ekologis yang harus diperhitungkan secara serius.
Krisis iklim menuntut adanya perubahan cara pandang dalam melihat hubungan manusia dengan alam. Alam tidak lagi dapat diposisikan sebagai objek yang dieksploitasi tanpa batas, melainkan sebagai mitra yang harus dijaga keberlanjutannya. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 mencoba menegaskan pesan tersebut melalui pendekatan berbasis data dan pengalaman lapangan. Dengan memadukan aspek ilmiah dan kebijakan, buku ini berusaha menjawab tantangan krisis iklim dari tingkat lokal.
Maka mengarsipkan alam adalah tindakan politis dan moral. Ia mencerminkan keberpihakan pada masa depan yang berkelanjutan. Dalam konteks Trenggalek, buku ini menjadi langkah awal yang penting untuk memastikan bahwa pembangunan daerah tidak tercerabut dari akar ekologisnya. Di tengah krisis iklim global, upaya lokal semacam ini justru memiliki makna strategis yang besar.
Dengan demikian, Biodiversitas Trenggalek 2025 tidak hanya layak dibaca sebagai buku dokumentasi keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai manifesto kecil tentang bagaimana daerah dapat berkontribusi dalam agenda global Net Zero Carbon melalui pendekatan berbasis biodiversitas. Mengarsipkan alam hari ini berarti membuka peluang untuk menyelamatkan masa depan, tidak hanya bagi Trenggalek, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.
Profil Penulis dan Latar Sosial-Gagasan
Salah satu kekuatan utama buku Biodiversitas Trenggalek 2025 terletak pada sosok penulisnya. Akhmad David Kurnia Putra, pria kelahiran Tuban, 22 Oktober 1984 bukanlah akademisi yang bekerja sepenuhnya di ruang seminar atau laboratorium kampus. Beliau adalah seorang Polisi Kehutanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur yang sehari-hari bergulat langsung dengan realitas lapangan. Posisi ini memberi keunggulan epistemik tersendiri, pengetahuan yang dihasilkan lahir dari perjumpaan langsung dengan ekosistem, konflik ruang, serta dinamika konservasi di tingkat tapak.
Keunggulan tersebut semakin diperkuat oleh latar belakang pendidikan penulis yang relevan dan berjenjang. Pendidikan formalnya dimulai dari jenjang Diploma III Manajemen Hutan Produksi di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang membekali penulis dengan dasar teknis pengelolaan hutan dan sumber daya alam secara sistematis.
Selanjutnya, penulis menempuh pendidikan sarjana melalui Universitas Terbuka di Ternate, sebuah pengalaman akademik yang ditempuh bersamaan dengan aktivitas profesional di lapangan, sehingga memperkaya perspektif teoritik dengan pengalaman empiris. Pendidikan S-2 juga ditempuh di Universitas Khairun Ternate, yang semakin memperkuat wawasan keilmuan penulis dalam konteks kawasan timur Indonesia yang kaya biodiversitas namun sarat tantangan konservasi.
Latar belakang pendidikan dan pengalaman tersebut membentuk karakter buku ini tidak terjebak pada abstraksi teoritik yang kering, tetapi juga tidak kehilangan kerangka ilmiah yang diperlukan. Buku ini bergerak di antara dua dunia, praktik lapangan dan pengetahuan akademik, yang jarang berhasil dipertemukan secara seimbang. Inilah yang menjadikan Biodiversitas Trenggalek 2025 memiliki daya tawar lebih sebagai rujukan awal kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah.
Sebagai aparat fungsional kehutanan, penulis tidak hanya berhadapan dengan persoalan teknis konservasi, tetapi juga dengan kompleksitas sosial yang menyertainya. Pengawasan kawasan, perlindungan satwa, hingga mitigasi konflik manusia dan alam adalah bagian dari rutinitas yang membentuk cara pandang penulis terhadap biodiversitas. Perspektif inilah yang kemudian tercermin dalam buku ini. Biodiversitas tidak dipahami sebagai daftar spesies semata, melainkan sebagai sistem hidup yang saling terkait dengan manusia, kebijakan, dan arah pembangunan.
Latar profesional tersebut menjadikan buku Biodiversitas Trenggalek 2025 berbeda dari banyak publikasi sejenis. Alih-alih bersifat normatif atau terlalu teoritik, buku ini tampil sebagai dokumen kerja yang berangkat dari kebutuhan nyata daerah. Penulis menyadari bahwa tanpa basis data biodiversitas yang jelas, kebijakan konservasi dan pembangunan berkelanjutan akan selalu berada dalam posisi spekulatif. Oleh karena itu, penyusunan database keanekaragaman hayati menjadi langkah strategis yang dipilih.
Lebih menarik lagi, buku ini tidak lahir dari ruang kerja birokrasi semata, melainkan dari proses partisipatif melalui Festival Galaksi Tahun 2025. Festival ini diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Trenggalek bekerja sama dengan Komunitas Bagimu Trenggalek. Kolaborasi ini menjadi penanda penting perubahan arah perencanaan pembangunan daerah menuju model yang lebih inklusif dan partisipatif.
Komunitas Bagimu Trenggalek sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam mendorong pembangunan berbasis partisipasi masyarakat. Sejak tahun 2018 dan 2020, komunitas ini telah menginisiasi Festival Gagasan sebagai ruang alternatif bagi warga untuk menyampaikan ide-ide pembangunan. Namun, meskipun kedua festival tersebut berhasil menghimpun banyak gagasan inovatif, implementasi gagasan di tingkat kebijakan daerah belum berjalan sesuai dengan komitmen awal. Banyak ide berhenti pada tataran wacana tanpa tindak lanjut nyata.
Kegagalan implementasi pada periode sebelumnya justru menjadi refleksi penting dalam perjalanan Festival Gagasan. Ia menunjukkan bahwa partisipasi publik tidak cukup hanya difasilitasi dalam bentuk forum, tetapi harus diikuti dengan mekanisme kelembagaan yang menjamin gagasan warga benar-benar diintegrasikan ke dalam kebijakan. Dalam konteks inilah Festival Gagasan dan Aksi 2025 memperoleh makna baru. Penambahan kata “aksi” bukan sekadar simbolik, melainkan penegasan komitmen pemerintah daerah untuk mengimplementasikan gagasan terpilih.
Festival Galaksi 2025 dirancang dengan skema yang lebih ketat dan terstruktur. Dari total 174 gagasan yang masuk, hanya 154 yang dinyatakan lolos seleksi administrasi dan substansi awal. Tahap berikutnya menyaring 20 gagasan terbaik untuk dipresentasikan di hadapan dewan juri yang terdiri dari unsur akademisi, aktivis, pemerintah dan praktisi pada tanggal 14-15 Mei 2025. Proses ini kemudian dikerucutkan menjadi 10 gagasan terbaik yang tidak hanya dinyatakan sebagai pemenang, tetapi juga mendapatkan kepastian implementasi melalui PAK-APBD 2025.
Dalam proses tersebut, gagasan yang diusung oleh Akhmad David Kurnia Putra berhasil menembus sepuluh besar untuk katagori lingkungan. Keberhasilan ini tidak lepas dari relevansi gagasan yang diajukan dengan kebutuhan strategis daerah. Di tengah komitmen pemerintah daerah terhadap agenda pembangunan berkelanjutan dan Net Zero Carbon, kebutuhan akan database biodiversitas menjadi sangat mendesak. Gagasan ini dinilai tidak hanya inovatif, tetapi juga aplikatif dan selaras dengan arah kebijakan daerah.
Menariknya, posisi penulis dalam konteks ini tidak hanya sebagai peserta festival, tetapi juga sebagai praktisi negara yang memahami logika birokrasi dan implementasi kebijakan. Hal ini menjadikan gagasan yang diajukan realistis dan mudah diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 kemudian menjadi manifestasi konkret dari proses tersebut. Gagasan warga yang diformalkan, dilembagakan, dan diimplementasikan oleh pemerintah daerah.
Latar sosial-gagasan buku ini menunjukkan bahwa pengetahuan ekologis dapat lahir dari ruang-ruang partisipasi publik yang dikelola dengan baik. Buku ini menjadi bukti bahwa masyarakat, praktisi, dan pemerintah dapat berkolaborasi menghasilkan kebijakan berbasis sains jika tersedia mekanisme yang mendukung. Dalam konteks ini, Festival Galaksi 2025 dapat dibaca sebagai eksperimen kebijakan yang patut diapresiasi.
Lebih jauh, keberhasilan implementasi gagasan ini juga memiliki makna simbolik yang kuat. Ia menjadi koreksi terhadap pengalaman masa lalu, di mana partisipasi publik kerap berhenti pada tataran konsultatif tanpa daya ikat kebijakan. Dengan menjadikan gagasan peserta sebagai bagian dari program kerja pemerintah daerah menunjukkan keberpihakan pada model perencanaan pembangunan yang lebih demokratis dan responsif.
Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 dengan demikian tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-politik lahirnya. Ia bukan sekadar karya individual penulis, tetapi juga produk kolektif dari proses partisipasi yang melibatkan banyak aktor. Penulis berperan sebagai penggerak ide, sementara pemerintah daerah menyediakan ruang dan dukungan kelembagaan untuk mewujudkannya.
Dalam perspektif yang lebih luas, buku ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pembangunan daerah. Dari pembangunan yang bersifat top-down menuju pendekatan kolaboratif yang mengakui peran pengetahuan lokal dan praktisi lapangan. Biodiversitas tidak lagi dipandang sebagai isu sektoral, melainkan sebagai fondasi pembangunan lintas sektor.
Dengan latar belakang tersebut, profil penulis dan konteks lahirnya buku ini menjadi bagian penting dalam memahami keseluruhan pesan yang ingin disampaikan. Buku ini bukan hanya tentang keanekaragaman hayati Trenggalek, tetapi juga tentang bagaimana ide-ide warga dapat menjadi kebijakan publik yang berdampak nyata. Di sinilah letak kekuatan sekaligus signifikansi buku Biodiversitas Trenggalek 2025 dalam wacana pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah.
Legitimasi Ilmiah dan Kebijakan Publik
Salah satu persoalan klasik dalam pembangunan daerah adalah jurang yang lebar antara pengetahuan ilmiah dan kebijakan publik. Banyak riset berhenti di rak perpustakaan, sementara kebijakan sering disusun tanpa basis data yang memadai. Dalam konteks lingkungan hidup, jurang ini kerap berujung pada kebijakan yang tidak sensitif terhadap daya dukung dan daya tampung ekosistem. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 hadir di titik temu dua dunia tersebut: ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
Legitimasi ilmiah buku ini dibangun melalui pendekatan berbasis data lapangan yang terukur. Inventarisasi biodiversitas yang dilakukan penulis bukan sekadar kompilasi literatur, melainkan hasil pengamatan langsung di berbagai lokasi strategis di Kabupaten Trenggalek. Pendekatan ini memberikan bobot ilmiah yang kuat karena data yang dihasilkan merepresentasikan kondisi riil ekosistem di tingkat tapak. Dalam konteks perencanaan pembangunan, data semacam ini sangat penting untuk menghindari kebijakan berbasis asumsi.
Di sisi lain, legitimasi kebijakan buku ini diperkuat melalui keterlibatan langsung pemerintah daerah dalam proses penyusunannya. Dukungan resmi yang ditunjukkan melalui sambutan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, SE., M.PSDM, Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc, serta dr. Ratna Sulistyowati, M.Kes Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Trenggalek menandakan bahwa buku ini diakui sebagai dokumen strategis. Sambutan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan pernyataan sikap bahwa data biodiversitas menjadi bagian penting dalam arah pembangunan daerah.
Keberadaan sambutan Bupati Trenggalek memiliki makna politis yang signifikan. Dalam sistem pemerintahan daerah, komitmen kepala daerah merupakan faktor kunci dalam menentukan arah kebijakan. Dengan memberikan pengantar pada buku ini, Bupati Trenggalek secara simbolik dan substantif menempatkan isu biodiversitas sebagai bagian dari agenda pembangunan. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan lingkungan tidak diposisikan sebagai isu pelengkap, tetapi sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Legitimasi serupa juga ditunjukkan oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur, yang merepresentasikan otoritas teknis konservasi di tingkat regional. Dukungan ini menunjukkan bahwa data dan pendekatan yang digunakan dalam buku ini sejalan dengan kerangka konservasi nasional. Dengan demikian, buku Biodiversitas Trenggalek 2025 tidak berdiri sendiri sebagai dokumen lokal, tetapi terhubung dengan kebijakan konservasi yang lebih luas.
Sementara itu, peran Bapperida Kabupaten Trenggalek menjadi kunci dalam menjembatani aspek ilmiah dan kebijakan. Sebagai institusi yang bertanggung jawab atas perencanaan pembangunan, riset, dan inovasi daerah, Bapperida memiliki mandat strategis untuk memastikan bahwa setiap kebijakan berbasis pada data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Keterlibatan Bapperida dalam Festival Gagasan dan Aksi serta dukungannya terhadap buku ini menunjukkan adanya transformasi dalam praktik perencanaan pembangunan daerah menuju pendekatan berbasis bukti (evidence-based policy).
Buku ini juga memperoleh legitimasi kebijakan melalui mekanisme implementasi gagasan yang dibiayai melalui PAK-APBD 2025. Integrasi gagasan ke dalam dokumen anggaran daerah menandakan bahwa buku ini tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi memiliki implikasi langsung terhadap alokasi sumber daya publik. Dalam konteks tata kelola pemerintahan, langkah ini sangat penting karena menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata.
Lebih jauh, legitimasi kebijakan buku ini dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola lingkungan yang lebih adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. Agenda Net Zero Carbon membutuhkan data yang akurat mengenai potensi serapan karbon alami, termasuk hutan, perkebunan, dan mangrove. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 menyediakan sebagian dari basis data tersebut, sehingga dapat menjadi rujukan awal dalam menyusun kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di tingkat daerah.
Dalam perspektif perencanaan pembangunan, legitimasi ilmiah dan kebijakan yang melekat pada buku ini membuka peluang integrasi lintas sektor. Data biodiversitas tidak hanya relevan bagi sektor lingkungan hidup, tetapi juga bagi sektor tata ruang, pariwisata, pertanian, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, buku ini memiliki potensi untuk mendorong pendekatan pembangunan yang lebih holistik dan terintegrasi.
Namun, legitimasi kebijakan juga membawa tantangan tersendiri. Ketika sebuah buku atau dokumen ilmiah telah diadopsi sebagai rujukan kebijakan, maka tuntutan terhadap kualitas dan keberlanjutan data menjadi semakin tinggi. Buku ini harus dipahami sebagai langkah awal yang memerlukan pembaruan berkala agar tetap relevan dengan dinamika ekosistem dan pembangunan. Dalam hal ini, legitimasi kebijakan seharusnya diikuti dengan komitmen institusional untuk memperbarui dan memperluas database biodiversitas secara berkelanjutan.
Penting pula dicatat bahwa legitimasi kebijakan tidak boleh menghilangkan sifat kritis ilmu pengetahuan. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 perlu dibaca sebagai dokumen terbuka yang dapat dikritisi, dikembangkan, dan disempurnakan. Justru dengan membuka ruang kritik dan pengembangan, legitimasi ilmiah buku ini akan semakin kuat.
Dalam konteks demokrasi lokal, buku ini juga memiliki makna sebagai instrumen akuntabilitas. Dengan adanya data biodiversitas yang terdokumentasi secara terbuka, masyarakat dapat mengawasi dan mengevaluasi kebijakan pembangunan yang berpotensi berdampak pada lingkungan. Dengan demikian, buku ini tidak hanya memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah, tetapi juga memperkuat posisi masyarakat sebagai pengawas pembangunan.
Legitimasi ilmiah dan kebijakan publik yang melekat pada buku Biodiversitas Trenggalek 2025 menunjukkan bahwa integrasi antara sains dan kebijakan bukanlah hal yang mustahil. Ketika pemerintah daerah bersedia membuka ruang partisipasi, dan praktisi lapangan mampu menyajikan data yang relevan, maka kebijakan berbasis bukti dapat diwujudkan.
Pada akhirnya, buku ini menjadi contoh bagaimana data dapat berfungsi sebagai bahasa bersama antara ilmuwan, birokrat, dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kebijakan lingkungan yang kuat harus bertumpu pada pengetahuan yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam menghadapi krisis iklim dan tantangan pembangunan berkelanjutan, legitimasi ilmiah dan kebijakan semacam inilah yang dibutuhkan oleh daerah-daerah di Indonesia.
Arsitektur Pengetahuan yang Mudah Diakses Publik
Salah satu tantangan terbesar dalam publikasi ilmiah dan kebijakan lingkungan hidup adalah bagaimana menyajikan pengetahuan yang kompleks secara sistematis, kredibel, dan tetap dapat diakses oleh publik luas. Tidak sedikit buku bertema lingkungan yang jatuh pada dua ekstrem: terlalu teknis sehingga sulit dipahami masyarakat umum, atau terlalu populer sehingga kehilangan kekuatan ilmiahnya. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 menunjukkan upaya sadar untuk keluar dari jebakan tersebut melalui struktur penulisan yang terencana, desain visual yang komunikatif, serta penguatan fondasi akademik melalui rujukan ilmiah yang otoritatif.
Secara struktural, buku ini disusun dalam tujuh bab yang membentuk alur berpikir logis dan progresif. Penyusunan ini mencerminkan pendekatan perencanaan yang sistematis, dimulai dari pengantar konseptual, dilanjutkan dengan penyajian data dan hasil lapangan, hingga refleksi dan rekomendasi. Struktur semacam ini penting karena memudahkan pembaca dari berbagai latar belakang baik birokrat, akademisi, praktisi lingkungan, maupun masyarakat umum untuk memahami pesan buku secara utuh tanpa harus memiliki latar keilmuan khusus di bidang ekologi.
Bab pertama, Pendahuluan, berfungsi sebagai fondasi konseptual. Pada bagian ini, penulis memaparkan latar belakang pentingnya biodiversitas dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan krisis iklim. Isu Net Zero Carbon diletakkan sebagai bingkai besar yang menjelaskan mengapa data keanekaragaman hayati memiliki posisi strategis dalam perencanaan pembangunan daerah. Bab ini disusun secara ringkas namun efektif, cukup untuk membangun kesadaran pembaca tentang urgensi isu tanpa membebani dengan terminologi teknis yang berlebihan. Bagi pembaca awam, bab ini menjadi pintu masuk yang ramah; bagi pembuat kebijakan, bab ini memberikan kerangka berpikir awal.
Bab kedua, Hasil dan Pembahasan, menjadi jembatan penting antara konsep dan realitas lapangan. Di sinilah pembaca mulai diperkenalkan dengan hasil inventarisasi biodiversitas yang dilakukan penulis. Data tidak disajikan secara mentah, melainkan disertai penjelasan kontekstual yang membantu pembaca memahami makna di balik temuan tersebut. Struktur bab ini menunjukkan kehati-hatian penulis dalam mengelola data agar tidak terjebak pada sekadar daftar spesies, tetapi diarahkan untuk memberikan gambaran kondisi ekologis Kabupaten Trenggalek secara umum.
Bab ketiga hingga bab keenam merupakan inti utama buku dan disusun berdasarkan pendekatan berbasis lokasi (site-based approach). Keempat bab ini membahas Hutan Kota (HUKO) Trenggalek, Perkebunan Dilem Wilis, Jalur Pendakian Boto Putih, dan Mangrove Cengkrong. Pendekatan ini menjadi kekuatan struktural buku karena memungkinkan pembaca memahami keragaman biodiversitas dalam konteks ekosistem yang berbeda-beda. Setiap lokasi diperlakukan sebagai unit analisis dengan karakter ekologis, tantangan, dan potensi yang khas.
Bab ketiga, tentang Hutan Kota Trenggalek, menempatkan ruang hijau perkotaan sebagai bagian penting dari sistem ekologis daerah. Struktur bab ini membantu pembaca melihat bahwa biodiversitas tidak hanya berada di kawasan konservasi yang jauh dari aktivitas manusia, tetapi juga hadir dan berperan penting di tengah kota. Penekanan pada fungsi ekologis hutan kota sebagai penyerap karbon dan penyangga kualitas lingkungan memperkuat relevansi bab ini dengan agenda pembangunan perkotaan berkelanjutan.
Bab keempat, Perkebunan Dilem Wilis, menawarkan perspektif berbeda dengan menempatkan kawasan produksi sebagai bagian dari lanskap ekologis. Struktur pembahasan bab ini menunjukkan upaya penulis untuk keluar dari dikotomi konservasi versus ekonomi. Perkebunan diposisikan sebagai ruang yang masih memiliki nilai biodiversitas dan dapat dikelola secara lebih ramah lingkungan. Pendekatan ini penting dalam konteks daerah yang menggantungkan sebagian perekonomiannya pada sektor perkebunan.
Bab kelima, Jalur Pendakian Boto Putih, mengangkat isu interaksi langsung antara manusia dan alam melalui aktivitas wisata. Struktur pembahasan diarahkan untuk menunjukkan keseimbangan antara akses publik dan upaya konservasi. Jalur pendakian dipahami tidak hanya sebagai fasilitas wisata, tetapi juga sebagai koridor ekologis yang memiliki fungsi penting bagi pergerakan flora dan fauna. Penataan struktur bab ini membantu pembaca memahami risiko ekologis yang muncul jika aktivitas wisata tidak dikelola secara berkelanjutan.
Bab keenam, Mangrove Cengkrong, menjadi penutup rangkaian pembahasan berbasis lokasi sekaligus menegaskan pentingnya ekosistem pesisir dalam agenda mitigasi perubahan iklim. Struktur bab ini secara jelas mengaitkan biodiversitas mangrove dengan konsep blue carbon, perlindungan pesisir, dan ketahanan masyarakat terhadap bencana iklim. Penempatan bab mangrove di bagian akhir bukan tanpa alasan, karena secara simbolik menegaskan posisi strategis ekosistem pesisir dalam menghadapi krisis iklim global.
Bab ketujuh, Penutup, berfungsi sebagai ruang sintesis dan refleksi. Pada bagian ini, penulis merangkum temuan utama sekaligus menegaskan kembali urgensi data biodiversitas sebagai dasar kebijakan. Meskipun relatif singkat, bab ini memainkan peran penting dalam menghubungkan keseluruhan isi buku dengan agenda pembangunan daerah dan komitmen Net Zero Carbon.
Selain struktur bab yang sistematis, desain visual buku ini juga menjadi aspek penting yang memperkuat daya komunikasinya. Buku disajikan dalam format full color dengan foto-foto biodiversitas yang diambil langsung dari lokasi penelitian. Visual tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai alat bantu pemahaman. Foto-foto tersebut membantu pembaca membangun imajinasi ekologis dan memperkuat hubungan emosional dengan objek yang dibahas.
Penggunaan bahasa bilingual (Indonesia dan Inggris) merupakan strategi komunikasi yang cerdas. Bahasa Indonesia memastikan keterbacaan bagi publik lokal, sementara bahasa Inggris membuka peluang buku ini menjadi referensi di tingkat nasional maupun internasional. Pendekatan ini menunjukkan bahwa isu biodiversitas Trenggalek ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, tidak terisolasi sebagai persoalan lokal semata.
Yang tidak kalah penting, buku ini juga dilengkapi dengan daftar pustaka yang sangat kaya dan kredibel. Tercatat sekitar 80 rujukan ilmiah digunakan sebagai dasar penyusunan buku, yang bersumber dari literatur otoritatif seperti publikasi ilmiah, laporan lembaga pemerintah, dokumen kebijakan nasional, serta referensi internasional yang relevan dengan biodiversitas dan perubahan iklim. Keberadaan daftar pustaka ini menunjukkan bahwa buku Biodiversitas Trenggalek 2025 tidak hanya kuat secara visual dan naratif, tetapi juga memiliki fondasi akademik yang kokoh.
Daftar pustaka yang memadai ini memperkuat legitimasi ilmiah buku sekaligus membuka ruang bagi pembaca untuk melakukan penelusuran lebih lanjut. Bagi akademisi dan peneliti, rujukan tersebut menjadi pintu masuk untuk pengembangan riset lanjutan. Bagi pembuat kebijakan, daftar pustaka ini memberikan jaminan bahwa rekomendasi yang disajikan memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dari sisi tata letak, buku ini dirancang dengan cukup rapi dan konsisten. Penggunaan heading, subheading, serta pemisahan antarbagian memudahkan navigasi pembaca. Hal ini penting mengingat buku ini berpotensi digunakan sebagai rujukan kerja oleh birokrat dan praktisi yang membutuhkan akses cepat terhadap informasi tertentu.
Meski demikian, struktur dan desain buku ini tetap memiliki ruang pengembangan. Penyajian peta spasial berbasis Geographic Information System (GIS) dan infografik kuantitatif dapat lebih diperkuat untuk meningkatkan daya analisis visual. Namun, keterbatasan ini tidak mengurangi nilai utama buku sebagai database awal biodiversitas daerah.
Secara keseluruhan, struktur dan desain Biodiversitas Trenggalek 2025 mencerminkan arsitektur pengetahuan yang dirancang dengan kesadaran penuh akan kebutuhan pembaca yang beragam. Buku ini berhasil memadukan sistematika ilmiah, desain komunikatif, dan fondasi akademik yang kuat. Ia tidak hanya layak dibaca, tetapi juga layak dijadikan rujukan dalam perencanaan pembangunan berbasis lingkungan.
Biodiversitas sebagai Basis Pengetahuan dan Kebijakan
Kekuatan utama buku Biodiversitas Trenggalek 2025 terletak pada substansi data yang disajikan. Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai narasi tentang pentingnya keanekaragaman hayati, tetapi secara konkret memposisikan dirinya sebagai database awal biodiversitas Kabupaten Trenggalek. Dalam konteks perencanaan pembangunan daerah, keberadaan database semacam ini memiliki nilai strategis yang sangat besar, karena menyediakan pijakan ilmiah yang selama ini kerap absen dalam pengambilan kebijakan.
Selama bertahun-tahun, isu lingkungan hidup di tingkat daerah sering kali ditangani secara sektoral dan reaktif. Kebijakan dibuat untuk merespons persoalan yang muncul, bukan berdasarkan pemetaan menyeluruh terhadap kondisi ekologis wilayah. Buku ini mencoba membalik pola tersebut dengan menyajikan data biodiversitas sebagai fondasi awal perencanaan. Dengan kata lain, buku ini tidak dimaksudkan sebagai laporan akhir, melainkan sebagai baseline data yang dapat dikembangkan, diperbarui, dan diperdalam seiring waktu.
Substansi data yang disajikan dalam buku ini dikumpulkan dari empat lokasi utama yang dipilih secara strategis karena merepresentasikan variasi ekosistem di Kabupaten Trenggalek. Pemilihan lokasi ini menunjukkan bahwa penulis tidak sekadar mengejar kuantitas data, tetapi juga mempertimbangkan representativitas ekologis. Keempat lokasi tersebut mencerminkan lanskap perkotaan, kawasan pegunungan, wilayah aktivitas manusia, hingga ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Lokasi pertama, Hutan Kota Trenggalek, memberikan gambaran tentang bagaimana biodiversitas hadir dan bertahan di tengah tekanan urbanisasi. Data yang disajikan dalam bab ini menunjukkan bahwa ruang hijau perkotaan tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika kota, tetapi juga sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna. Keberadaan spesies tertentu di hutan kota menjadi indikator penting kualitas lingkungan perkotaan. Dari sudut pandang kebijakan, data ini sangat relevan untuk mendukung pengembangan kota yang berwawasan lingkungan dan berorientasi pada kesehatan masyarakat.
Hutan kota juga memiliki fungsi strategis dalam agenda Net Zero Carbon. Vegetasi di kawasan perkotaan berkontribusi dalam menyerap emisi karbon, menurunkan suhu udara, dan memperbaiki kualitas udara. Dengan mendokumentasikan biodiversitas hutan kota, buku ini memberikan dasar ilmiah bagi pemerintah daerah untuk mempertahankan dan memperluas ruang hijau sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim.
Lokasi kedua, Perkebunan Dilem Wilis, menghadirkan perspektif yang berbeda. Kawasan ini merepresentasikan lanskap produksi yang sering kali dipandang bertentangan dengan konservasi. Namun, data yang disajikan dalam buku ini menunjukkan bahwa perkebunan masih menyimpan nilai biodiversitas yang signifikan. Keberadaan berbagai jenis flora dan fauna di kawasan ini menegaskan bahwa lanskap produksi dapat berfungsi sebagai bagian dari mosaik ekosistem jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Substansi data di Perkebunan Dilem Wilis membuka ruang diskusi penting tentang integrasi antara ekonomi dan ekologi. Bagi perencanaan pembangunan daerah, temuan ini memberikan dasar untuk merumuskan kebijakan pengelolaan perkebunan yang lebih ramah lingkungan. Dalam konteks Net Zero Carbon, perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan juga memiliki potensi sebagai penyerap karbon, sekaligus penyangga biodiversitas di kawasan pegunungan.
Lokasi ketiga, Jalur Pendakian Boto Putih, menghadirkan dimensi lain dari hubungan manusia dan alam. Jalur pendakian merupakan ruang interaksi langsung antara aktivitas wisata dan ekosistem alami. Data biodiversitas yang dihimpun di kawasan ini menunjukkan keberadaan berbagai spesies yang sensitif terhadap gangguan manusia. Informasi ini menjadi sangat penting untuk merumuskan kebijakan pengelolaan wisata alam yang berkelanjutan.
Melalui data yang disajikan, buku ini menegaskan bahwa jalur pendakian bukan sekadar fasilitas wisata, melainkan bagian dari koridor ekologis yang memiliki fungsi penting dalam menjaga konektivitas habitat. Dalam konteks pembangunan daerah, temuan ini relevan untuk memastikan bahwa pengembangan sektor pariwisata tidak dilakukan dengan mengorbankan keanekaragaman hayati. Kebijakan pembatasan akses, pengaturan jumlah pengunjung, dan edukasi wisatawan dapat dirancang berdasarkan data yang tersedia.
Lokasi keempat, Mangrove Cengkrong, menjadi salah satu bagian paling strategis dalam buku ini, terutama dalam kaitannya dengan agenda Net Zero Carbon. Ekosistem mangrove dikenal sebagai salah satu penyerap karbon paling efektif di dunia melalui mekanisme blue carbon. Data biodiversitas yang disajikan di kawasan ini tidak hanya mencatat kekayaan spesies, tetapi juga menegaskan fungsi ekologis mangrove sebagai pelindung pesisir dan penyangga kehidupan masyarakat.
Dalam konteks Trenggalek yang memiliki wilayah pesisir, data mangrove menjadi sangat penting untuk kebijakan adaptasi perubahan iklim. Mangrove berperan dalam meredam gelombang, mencegah abrasi, dan melindungi permukiman pesisir dari dampak cuaca ekstrem. Dengan mendokumentasikan biodiversitas mangrove, buku ini memberikan dasar ilmiah bagi penguatan kebijakan rehabilitasi dan perlindungan ekosistem pesisir.
Secara keseluruhan, substansi data yang disajikan dalam buku ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif dan kontekstual. Data tidak disajikan secara terpisah dari realitas sosial dan kebijakan, tetapi selalu dihubungkan dengan implikasinya bagi pembangunan daerah. Pendekatan ini menjadikan buku Biodiversitas Trenggalek 2025 relevan tidak hanya bagi kalangan akademisi, tetapi juga bagi pembuat kebijakan dan praktisi pembangunan.
Relevansi data dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan Net Zero Carbon menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh isi buku. Keempat lokasi yang dikaji menunjukkan bahwa biodiversitas memiliki peran langsung dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Hutan kota, perkebunan, jalur pendakian, dan mangrove masing-masing memiliki kontribusi spesifik dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menyerap emisi karbon.
Dalam perspektif perencanaan pembangunan, buku ini memberikan contoh konkret bagaimana data biodiversitas dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan lintas sektor. Data yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk perencanaan tata ruang, pengembangan pariwisata berkelanjutan, pengelolaan perkebunan ramah lingkungan, hingga strategi perlindungan pesisir.
Dengan demikian, buku ini berfungsi sebagai knowledge base yang mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Meski demikian, penting untuk menempatkan buku ini secara proporsional sebagai database awal. Data yang disajikan belum mencakup seluruh wilayah Kabupaten Trenggalek dan belum menggambarkan dinamika perubahan biodiversitas dalam jangka panjang. Namun, justru di sinilah nilai strategis buku ini. Ia membuka ruang bagi pengembangan riset lanjutan dan pemutakhiran data secara berkala.
Sebagai sebuah karya yang lahir dari proses partisipatif dan didukung oleh kebijakan daerah, buku Biodiversitas Trenggalek 2025 telah berhasil meletakkan fondasi penting bagi pembangunan berbasis lingkungan. Substansi dan kekayaan data yang disajikan menjadi langkah awal yang krusial untuk memastikan bahwa kebijakan pembangunan tidak berjalan di atas ketidaktahuan ekologis.
Pada akhirnya, kekuatan utama buku ini bukan hanya pada jumlah data yang disajikan, tetapi pada cara data tersebut diposisikan sebagai alat untuk merawat masa depan. Dengan menjadikan biodiversitas sebagai basis pengetahuan, Trenggalek menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan dan agenda Net Zero Carbon dapat dimulai dari langkah sederhana namun fundamental: mengenali, mendokumentasikan, dan memahami alam yang dimiliki.
Kelebihan Buku
Salah satu kelebihan paling menonjol dari buku Biodiversitas Trenggalek 2025 adalah kemampuannya memadukan tiga ranah yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri, yakni data ilmiah, praktik lapangan, dan kebijakan publik. Buku ini tidak berhenti pada tataran deskriptif tentang keanekaragaman hayati, tetapi secara sadar diposisikan sebagai instrumen pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan pembangunan daerah. Dalam konteks perencanaan berbasis lingkungan, integrasi semacam ini merupakan nilai tambah yang sangat signifikan.
Kelebihan pertama buku ini terletak pada basis data lapangan yang nyata dan kontekstual. Seluruh data biodiversitas yang disajikan merupakan hasil inventarisasi langsung di lapangan, bukan sekadar kompilasi dari sumber sekunder. Pendekatan ini memberikan keunggulan dari sisi validitas dan relevansi data. Pembaca tidak hanya disuguhkan daftar spesies, tetapi juga diajak memahami kondisi ekologis di lokasi-lokasi yang menjadi fokus kajian. Dalam dunia kebijakan, data berbasis lapangan semacam ini memiliki bobot yang jauh lebih kuat dibandingkan data generik yang tidak kontekstual.
Kelebihan kedua adalah pemilihan lokasi kajian yang representatif. Empat lokasi yang dikaji setidak-tidaknya mewakili spektrum ekosistem utama di Kabupaten Trenggalek. Pendekatan ini memungkinkan pembaca melihat variasi biodiversitas dalam konteks yang berbeda-beda: perkotaan, pegunungan, kawasan produksi, wisata alam, hingga pesisir. Representativitas ini menjadikan buku tidak terjebak pada satu jenis ekosistem saja, tetapi memberikan gambaran menyeluruh tentang lanskap ekologis daerah.
Kelebihan berikutnya adalah relevansi langsung buku ini dengan agenda Net Zero Carbon. Banyak buku biodiversitas berhenti pada aspek konservasi tanpa mengaitkannya dengan isu perubahan iklim. Buku ini justru secara eksplisit menempatkan biodiversitas sebagai bagian dari strategi mitigasi dan adaptasi iklim. Hutan kota, perkebunan, dan mangrove diposisikan sebagai penyerap karbon alami yang memiliki kontribusi nyata terhadap upaya penurunan emisi. Dengan pendekatan ini, buku Biodiversitas Trenggalek 2025 berhasil menghubungkan isu lokal dengan agenda global.
Dari sisi penulis, kelebihan lain yang patut dicatat adalah latar belakang praktisi konservasi yang dimiliki oleh Akhmad David Kurnia Putra. Sebagai Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, penulis memiliki pengalaman langsung dalam pengelolaan dan perlindungan sumber daya alam. Perspektif praktisi ini tercermin dalam cara buku disusun: realistis, aplikatif, dan tidak terjebak pada idealisme abstrak. Buku ini ditulis dengan kesadaran penuh terhadap tantangan implementasi kebijakan di lapangan, sehingga rekomendasi yang muncul terasa lebih membumi.
Kelebihan berikutnya adalah keterhubungan buku ini dengan proses kebijakan daerah. Buku ini bukan produk akademik yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem perencanaan pembangunan Kabupaten Trenggalek. Lahir dari Festival Galaksi 2025 dan diimplementasikan melalui PAK-APBD, buku ini memiliki legitimasi kebijakan yang kuat. Kelebihan ini menjadikan buku tidak hanya relevan untuk dibaca, tetapi juga potensial untuk digunakan sebagai rujukan kerja oleh pemerintah daerah.
Dari sisi penyajian, buku ini memiliki kelebihan dalam desain visual dan komunikasi ilmiah. Penyajian full color dengan foto-foto biodiversitas lapangan memperkuat daya tarik dan keterbacaan buku. Visualisasi ini tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga edukatif, membantu pembaca mengenali spesies dan ekosistem yang dibahas. Dalam konteks literasi lingkungan, pendekatan visual semacam ini sangat efektif untuk menjangkau pembaca non-akademik.
Penggunaan bahasa bilingual (Indonesia dan Inggris) juga menjadi kelebihan tersendiri. Strategi ini memperluas jangkauan pembaca sekaligus menunjukkan bahwa isu biodiversitas Trenggalek memiliki relevansi yang melampaui konteks lokal. Bagi pembaca lokal, bahasa Indonesia memastikan pemahaman yang baik, sementara bahasa Inggris membuka peluang buku ini untuk dijadikan referensi di tingkat nasional maupun internasional. Pendekatan ini mencerminkan visi penulis dan penyusun buku yang tidak sempit secara geografis.
Kelebihan penting lainnya adalah fondasi akademik yang kuat melalui daftar pustaka otoritatif. Buku ini disertai dengan sekitar 80 rujukan yang berasal dari sumber-sumber ilmiah dan kebijakan yang kredibel. Keberadaan daftar pustaka yang kaya ini menunjukkan bahwa buku tidak disusun secara serampangan, melainkan berangkat dari dialog dengan literatur ilmiah yang relevan. Hal ini memperkuat legitimasi ilmiah buku sekaligus membuka ruang bagi pengembangan riset lanjutan.
Kelebihan selanjutnya adalah posisi buku sebagai baseline data biodiversitas daerah. Meskipun belum mencakup seluruh wilayah Kabupaten Trenggalek, buku ini telah meletakkan fondasi penting bagi pengembangan database yang lebih komprehensif di masa depan. Dalam konteks perencanaan pembangunan, baseline data merupakan prasyarat utama untuk evaluasi kebijakan dan pemantauan perubahan lingkungan. Buku ini dengan demikian memiliki nilai strategis jangka panjang.
Buku ini juga unggul dalam kemampuan menjembatani kepentingan berbagai pemangku kepentingan.
Data dan narasi yang disajikan relevan bagi pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, hingga masyarakat umum. Pendekatan lintas sektor ini menjadikan buku sebagai titik temu berbagai kepentingan dalam pembangunan berkelanjutan. Kelebihan ini jarang ditemukan dalam publikasi lingkungan yang sering kali hanya menyasar satu kelompok pembaca tertentu.
Selain itu, buku ini memiliki kelebihan dalam membangun kesadaran ekologis lokal. Dengan fokus pada wilayah Trenggalek, pembaca diajak untuk melihat bahwa kekayaan biodiversitas bukan sesuatu yang abstrak atau jauh, melainkan hadir di sekitar kehidupan sehari-hari. Pendekatan lokal ini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan.
Kelebihan lain yang tidak kalah penting adalah nilai simbolik dan inspiratif buku ini. Sebagai produk dari proses partisipatif yang berhasil diimplementasikan, buku ini menjadi contoh bahwa gagasan warga dapat bertransformasi menjadi kebijakan nyata. Dalam konteks demokrasi lokal, keberhasilan ini memiliki makna penting karena menunjukkan bahwa partisipasi publik dapat menghasilkan dampak konkret.
Secara keseluruhan, kelebihan buku Biodiversitas Trenggalek 2025 tidak hanya terletak pada satu aspek tertentu, melainkan pada kombinasi berbagai elemen yang saling menguatkan: data lapangan yang valid, penyajian yang komunikatif, fondasi akademik yang kuat, serta keterhubungan dengan kebijakan publik. Buku ini berhasil melampaui fungsi dokumentasi semata dan tampil sebagai instrumen strategis dalam pembangunan berbasis lingkungan.
Dengan berbagai kelebihan tersebut, buku ini layak diapresiasi sebagai salah satu upaya serius dalam mengintegrasikan biodiversitas ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Ia menunjukkan bahwa menjaga alam tidak harus bertentangan dengan pembangunan, asalkan kebijakan disusun berdasarkan data dan pemahaman yang memadai. Dalam konteks krisis iklim dan tantangan Net Zero Carbon, kehadiran buku semacam ini menjadi sangat relevan dan dibutuhkan.
Kekurangan Buku
Sebagai sebuah karya yang lahir dari praktik lapangan, proses partisipatif, dan dukungan kebijakan daerah, buku Biodiversitas Trenggalek 2025 memiliki banyak kelebihan strategis. Namun demikian, untuk menempatkannya secara proporsional sebagai karya ilmiah dan dokumen kebijakan, penting pula mengemukakan sejumlah kekurangan yang melekat di dalamnya. Kritik dalam konteks ini tidak dimaksudkan untuk menafikan capaian buku, melainkan sebagai bagian dari evaluasi akademik yang justru dapat memperkuat relevansinya di masa depan.
Kekurangan pertama yang perlu dicatat adalah cakupan wilayah kajian yang masih terbatas. Buku ini memfokuskan inventarisasi biodiversitas pada empat lokasi utama yang secara ekologis memang strategis dan representatif. Namun, Kabupaten Trenggalek memiliki bentang alam yang jauh lebih luas dan beragam, mencakup kawasan hutan lindung, lahan pertanian rakyat, sungai, karst, serta ekosistem pesisir lainnya yang belum sepenuhnya terakomodasi. Akibatnya, data yang disajikan belum dapat merepresentasikan kondisi biodiversitas Kabupaten Trenggalek secara menyeluruh.
Keterbatasan cakupan ini sebenarnya dapat dipahami mengingat buku ini diposisikan sebagai baseline data awal, bukan inventarisasi komprehensif. Namun, dari sudut pandang kebijakan, keterbatasan wilayah kajian ini menuntut kehati-hatian dalam penggunaan data sebagai dasar pengambilan keputusan yang berskala luas. Ke depan, pengembangan buku ini memerlukan perluasan lokasi kajian agar dapat memberikan gambaran ekologis yang lebih utuh.
Kekurangan kedua berkaitan dengan kedalaman analisis kuantitatif. Data biodiversitas yang disajikan dalam buku ini cenderung bersifat deskriptif, dengan penekanan pada pencatatan jenis flora dan fauna. Pendekatan ini sangat penting sebagai langkah awal, tetapi belum sepenuhnya dilengkapi dengan analisis kuantitatif lanjutan seperti indeks keanekaragaman, kepadatan populasi, atau tren perubahan spesies. Padahal, analisis semacam ini sangat dibutuhkan untuk memahami dinamika ekosistem secara lebih mendalam.
Dalam konteks perencanaan pembangunan dan Net Zero Carbon, data kuantitatif yang lebih mendalam akan sangat membantu dalam melakukan proyeksi dan evaluasi kebijakan. Misalnya, penghitungan potensi serapan karbon berbasis spesies atau ekosistem akan memberikan gambaran yang lebih konkret tentang kontribusi biodiversitas terhadap mitigasi perubahan iklim. Ketiadaan analisis ini bukanlah kelemahan fatal, tetapi menunjukkan bahwa buku ini masih berada pada tahap fondasional.
Kekurangan berikutnya adalah belum optimalnya pemanfaatan peta spasial dan teknologi GIS. Buku ini memang menyajikan deskripsi lokasi dan dokumentasi visual berupa foto-foto lapangan, tetapi belum banyak menampilkan peta distribusi biodiversitas secara detail. Dalam era perencanaan berbasis data spasial, peta GIS memiliki peran krusial untuk memahami sebaran spesies, konektivitas habitat, serta potensi konflik pemanfaatan ruang.
Keterbatasan visualisasi spasial ini membuat pembaca, khususnya pembuat kebijakan, belum sepenuhnya dapat melihat hubungan antara biodiversitas dan tata ruang secara komprehensif. Pengembangan peta tematik, seperti peta hotspot biodiversitas atau peta kawasan prioritas konservasi, akan sangat memperkuat fungsi buku ini sebagai rujukan kebijakan.
Kekurangan keempat adalah minimnya eksplorasi dimensi sosial dan budaya masyarakat lokal yang hidup di sekitar lokasi kajian. Buku ini secara kuat menampilkan aspek ekologis dan teknis, tetapi relatif sedikit membahas bagaimana masyarakat berinteraksi dengan ekosistem tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, keberhasilan konservasi biodiversitas sangat bergantung pada praktik sosial, pengetahuan lokal, dan partisipasi masyarakat.
Ketiadaan analisis sosial-budaya ini membuat buku cenderung berfokus pada alam sebagai objek, bukan sebagai ruang hidup yang berkelindan dengan manusia. Ke depan, integrasi perspektif sosial-ekologis akan memperkaya buku ini dan menjadikannya lebih relevan dalam konteks pembangunan berbasis partisipasi yang selama ini menjadi semangat Festival Gagasan dan Aksi.
Kekurangan lain yang patut dicatat adalah belum tersedianya data longitudinal atau deret waktu (time-series). Data yang disajikan dalam buku ini merupakan potret kondisi biodiversitas pada satu rentang waktu tertentu. Tanpa data pembanding dari tahun-tahun sebelumnya, sulit untuk menilai apakah suatu spesies mengalami peningkatan, penurunan, atau stabilitas populasi. Padahal, informasi semacam ini sangat penting untuk evaluasi kebijakan konservasi dan adaptasi perubahan iklim.
Ketiadaan data time-series ini wajar mengingat keterbatasan sumber daya dan waktu, namun menjadi catatan penting untuk pengembangan selanjutnya. Pembaruan data secara berkala akan mengubah buku ini dari sekadar database statis menjadi instrumen pemantauan biodiversitas yang dinamis.
Kekurangan berikutnya adalah belum kuatnya pengukuran langsung kontribusi biodiversitas terhadap Net Zero Carbon. Meskipun buku ini secara konseptual mengaitkan biodiversitas dengan agenda Net Zero Carbon, pengukuran teknis seperti estimasi cadangan karbon atau potensi penyerapan emisi belum banyak disajikan. Akibatnya, hubungan antara data biodiversitas dan target penurunan emisi masih bersifat indikatif.
Untuk keperluan kebijakan iklim, penguatan aspek ini menjadi sangat penting. Integrasi data biodiversitas dengan perhitungan karbon akan memperjelas posisi ekosistem lokal dalam kontribusi terhadap target iklim daerah dan nasional.
Kekurangan lain yang bersifat teknis adalah belum adanya standarisasi metodologi yang dijelaskan secara rinci. Buku ini menyajikan hasil inventarisasi, tetapi penjelasan detail mengenai metode pengumpulan data, teknik sampling, dan keterbatasan metodologis belum sepenuhnya diuraikan. Bagi pembaca akademik, aspek metodologi ini penting untuk menilai validitas dan replikabilitas data.
Namun demikian, kekurangan ini juga dapat dipahami karena buku ini menyasar pembaca yang lebih luas, bukan semata komunitas akademik. Ke depan, penambahan lampiran metodologis atau dokumen pendukung akan sangat membantu memperkuat kredibilitas ilmiah buku.
Terakhir, buku ini juga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan data. Sebagai database awal, buku ini membutuhkan mekanisme kelembagaan yang memastikan data diperbarui dan digunakan secara konsisten dalam perencanaan pembangunan. Tanpa komitmen jangka panjang dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya, data yang telah dihimpun berisiko menjadi arsip statis.
Meski demikian, seluruh kekurangan yang ada tidak mengurangi nilai strategis buku Biodiversitas Trenggalek 2025. Justru sebaliknya, kekurangan-kekurangan tersebut menegaskan bahwa buku ini adalah titik awal, bukan titik akhir. Ia membuka ruang dialog, penelitian lanjutan, dan pengembangan kebijakan yang lebih matang.
Dalam tradisi akademik dan kebijakan yang sehat, sebuah karya yang baik adalah karya yang mampu memancing kritik dan pengembangan. Buku ini telah berhasil melakukan hal tersebut. Dengan memperhatikan dan menindaklanjuti berbagai catatan kritis di atas, Biodiversitas Trenggalek 2025 berpotensi berkembang menjadi rujukan utama biodiversitas daerah yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.
Dari Data Biodiversitas ke Arah Pembangunan Hijau
Salah satu nilai paling strategis dari buku Biodiversitas Trenggalek 2025 terletak pada kontribusinya terhadap kebijakan dan pembangunan daerah. Buku ini tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah atau laporan teknis, tetapi memiliki potensi nyata untuk digunakan sebagai rujukan awal dalam proses perencanaan pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan. Dalam konteks daerah, kontribusi semacam ini sangat penting karena kebijakan lingkungan sering kali tersisih oleh kepentingan pembangunan jangka pendek yang berorientasi ekonomi.
Keberadaan database biodiversitas daerah memberikan fondasi yang selama ini kerap hilang dalam penyusunan kebijakan. Banyak kebijakan lingkungan dibuat tanpa basis data ekologis yang memadai, sehingga rawan menghasilkan keputusan yang tidak sensitif terhadap daya dukung lingkungan. Buku ini menawarkan koreksi terhadap praktik tersebut dengan menyediakan informasi awal tentang kondisi keanekaragaman hayati di wilayah Trenggalek. Dengan demikian, kebijakan tidak lagi disusun berdasarkan asumsi atau intuisi semata, melainkan berdasarkan data empiris.
Sebagai rujukan awal kebijakan lingkungan, buku ini dapat memainkan peran penting dalam penyusunan dan evaluasi berbagai dokumen perencanaan daerah. Data biodiversitas yang disajikan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan perlindungan lingkungan, pengelolaan ruang terbuka hijau, serta strategi konservasi ekosistem kunci. Dalam konteks pemerintahan daerah, kehadiran dokumen semacam ini memperkuat argumen kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.
Kontribusi strategis buku ini akan memiliki makna strategis jika pemerintah Kabupaten Tenngalek menyusuk kebijakan RPJMD hijau. Konsep RPJMD hijau menekankan integrasi aspek lingkungan hidup ke dalam seluruh sektor pembangunan. Namun, implementasi konsep ini sering terkendala oleh keterbatasan data dan indikator lingkungan yang jelas. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 dapat menjadi salah satu sumber data awal yang membantu pemerintah daerah merumuskan indikator pembangunan berbasis lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan konservasi biodiversitas dan mitigasi perubahan iklim.
Dalam kerangka RPJMD hijau, data biodiversitas dapat digunakan untuk mengidentifikasi kawasan prioritas konservasi, menentukan target peningkatan ruang hijau, serta mengevaluasi dampak kebijakan pembangunan terhadap ekosistem. Dengan demikian, buku ini tidak hanya mendukung narasi pembangunan hijau, tetapi juga menyediakan instrumen praktis untuk mengimplementasikannya. Hal ini penting agar RPJMD hijau tidak berhenti sebagai jargon kebijakan, melainkan benar-benar terwujud dalam program dan kegiatan nyata.
Selain RPJMD, kontribusi buku ini juga relevan dalam perencanaan tata ruang wilayah. Perencanaan ruang merupakan arena strategis yang menentukan arah pembangunan jangka panjang suatu daerah. Tanpa mempertimbangkan data biodiversitas, tata ruang berpotensi mengabaikan kawasan bernilai ekologis tinggi dan membuka ruang bagi konflik pemanfaatan lahan. Buku ini memberikan dasar awal untuk mengidentifikasi area yang memiliki nilai ekologis penting, sehingga dapat dipertimbangkan dalam penetapan zonasi dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Data yang disajikan dalam buku ini memungkinkan perencana ruang untuk melihat hubungan antara aktivitas manusia dan kondisi ekosistem secara lebih utuh. Informasi tentang hutan kota, perkebunan, jalur pendakian, dan mangrove dapat digunakan untuk merumuskan kebijakan tata ruang yang lebih sensitif terhadap lingkungan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat mengurangi risiko degradasi lingkungan dan konflik sosial akibat alih fungsi lahan yang tidak terencana.
Kontribusi lain yang tidak kalah penting adalah potensi buku ini dalam mendukung pengembangan ekowisata dan ekonomi hijau. Kabupaten Trenggalek memiliki potensi wisata alam yang besar, mulai dari kawasan pegunungan hingga pesisir. Namun, pengembangan wisata yang tidak berbasis data ekologis berisiko merusak ekosistem yang justru menjadi daya tarik utama. Buku Biodiversitas Trenggalek 2025 menyediakan informasi awal yang dapat digunakan untuk merancang konsep ekowisata yang berkelanjutan.
Data biodiversitas memungkinkan pemerintah daerah dan pelaku wisata untuk memahami daya dukung lingkungan serta menentukan batas-batas pemanfaatan yang aman. Dengan demikian, ekowisata tidak hanya menjadi sumber pendapatan ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen konservasi dan edukasi lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi hijau yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Lebih jauh, kontribusi buku ini juga terlihat dalam konteks pembangunan berbasis partisipasi. Lahir dari Festival Galaksi, buku ini menjadi bukti bahwa gagasan masyarakat dapat bertransformasi menjadi kebijakan publik yang berdampak. Dalam konteks ini, buku Biodiversitas Trenggalek 2025 bukan hanya dokumen teknis, tetapi juga simbol keberhasilan mekanisme partisipatif dalam perencanaan pembangunan daerah.
Pengalaman ini memberikan pelajaran penting bagi pemerintah daerah lainnya bahwa partisipasi publik dapat menghasilkan kebijakan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan jika difasilitasi dengan mekanisme yang jelas dan berkomitmen pada implementasi. Dengan demikian, buku ini memiliki nilai lebih sebagai model praktik baik (best practice) dalam pembangunan daerah berbasis partisipasi dan bukti ilmiah.
Sebagai model praktik baik, buku ini menunjukkan bagaimana sinergi antara praktisi lapangan, masyarakat sipil, dan pemerintah daerah dapat menghasilkan produk kebijakan yang relevan dan aplikatif. Proses yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sejak awal menjadikan buku ini memiliki legitimasi sosial dan politik yang kuat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan lingkungan tidak hanya diterima secara formal, tetapi juga mendapatkan dukungan masyarakat.
Dalam perspektif yang lebih luas, kontribusi buku ini juga dapat dilihat sebagai upaya membangun budaya kebijakan berbasis data di tingkat daerah. Dengan menjadikan biodiversitas sebagai basis pengetahuan, pemerintah daerah didorong untuk lebih berhati-hati dan reflektif dalam mengambil keputusan pembangunan. Budaya semacam ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang semakin kompleks.
Namun, agar kontribusi buku ini benar-benar optimal, diperlukan komitmen lanjutan dari pemerintah daerah untuk mengintegrasikan data yang ada ke dalam berbagai dokumen perencanaan dan kebijakan sektoral. Buku ini harus diperlakukan sebagai dokumen hidup yang terus diperbarui dan dikembangkan, bukan sekadar arsip atau simbol keberhasilan program. Tanpa komitmen tersebut, potensi strategis buku ini berisiko tidak termanfaatkan secara maksimal.
Pada akhirnya, Biodiversitas Trenggalek 2025 memberikan kontribusi penting dalam mengarahkan pembangunan daerah menuju jalur yang lebih berkelanjutan. Dengan menyediakan basis data biodiversitas, buku ini membantu pemerintah daerah melihat pembangunan tidak hanya sebagai proses ekonomi, tetapi juga sebagai proses ekologis dan sosial. Dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan target Net Zero Carbon, kontribusi semacam ini menjadi semakin relevan.
Buku ini menunjukkan bahwa pembangunan hijau tidak harus dimulai dari kebijakan besar yang abstrak, tetapi dapat berangkat dari langkah konkret di tingkat lokal: mendokumentasikan, memahami, dan merawat kekayaan alam yang dimiliki. Jika pendekatan ini direplikasi dan dikembangkan, Trenggalek berpotensi menjadi contoh daerah yang berhasil mengintegrasikan biodiversitas ke dalam kebijakan dan pembangunan secara nyata.
Dari Buku ke Aksi Nyata
Pada akhirnya, Biodiversitas Trenggalek 2025 tidak dapat dibaca sekadar sebagai buku dokumentasi keanekaragaman hayati. Ia melampaui fungsi arsip ilmiah dan laporan teknis. Buku ini adalah penanda perubahan cara pandang dalam pembangunan daerah: bahwa alam bukan sekadar latar pembangunan, melainkan fondasi utama yang harus dikenali, dicatat, dan dijaga secara sadar melalui kebijakan publik yang berbasis data.
Keistimewaan buku ini terletak pada kemampuannya menjembatani dunia pengetahuan dan dunia kebijakan. Data biodiversitas yang dihimpun tidak berhenti sebagai informasi statis, tetapi dikontekstualisasikan dalam agenda besar pembangunan berkelanjutan dan Net Zero Carbon. Dalam konteks ini, buku tersebut menjadi contoh konkret bahwa data ekologis jika disusun dengan baik dan didukung oleh komitmen politik, dapat menggerakkan proses perencanaan dan pengambilan keputusan di tingkat daerah.
Lebih dari itu, buku ini juga menjadi bukti bahwa pembangunan berbasis partisipasi bukan sekadar slogan. Lahir dari Festival Galaksi yang diselenggarakan oleh Bapperida Kabupaten Trenggalek bekerja sama dengan Komunitas Bagimu Trenggalek, buku ini merepresentasikan titik balik dari pengalaman masa lalu. Jika festival gagasan pada 2018 dan 2020 berhenti pada tataran festival tanpa implementasi, maka Festival Galaksi 2025 menunjukkan komitmen baru pemerintah daerah untuk menindaklanjuti ide masyarakat hingga masuk ke dalam kebijakan nyata melalui PAK-APBD.
Dalam konteks tersebut, Biodiversitas Trenggalek 2025 bukan hanya produk intelektual penulisnya, tetapi juga hasil ekosistem partisipasi yang sehat antara masyarakat sipil, praktisi lapangan, dan pemerintah daerah. Buku ini menunjukkan bahwa gagasan warga—ketika difasilitasi dengan mekanisme yang tepat dan disertai komitmen implementasi—dapat bertransformasi menjadi instrumen kebijakan yang berdampak.
Dari sisi substansi, buku ini telah memberikan fondasi awal berupa database biodiversitas daerah yang selama ini kerap absen dalam perencanaan pembangunan. Meski masih memiliki keterbatasan cakupan dan kedalaman analisis, kehadirannya tetap penting sebagai baseline data. Dalam dunia kebijakan, langkah awal semacam ini sering kali jauh lebih berharga daripada menunggu kesempurnaan yang tak kunjung tiba.
Buku ini juga mengirimkan pesan kuat bahwa pembangunan hijau dan target Net Zero Carbon tidak harus dimulai dari konsep abstrak atau proyek besar berskala nasional. Ia dapat dimulai dari tingkat lokal, dari pencatatan spesies, pemetaan ekosistem, dan pengakuan terhadap nilai ekologis wilayah sendiri. Dalam konteks perubahan iklim global, pendekatan lokal berbasis data semacam ini justru menjadi kunci ketahanan jangka panjang.
Ke depan, tantangan utama bukan lagi pada ada atau tidaknya buku semacam ini, melainkan pada keberlanjutan pemanfaatannya. Data yang telah dihimpun perlu diperbarui, diperluas, dan diintegrasikan secara konsisten dalam dokumen perencanaan daerah. Tanpa keberlanjutan, buku ini berisiko menjadi monumen intelektual yang berhenti di rak, bukan alat transformasi kebijakan yang hidup.
Karena itu, resensi ini juga menjadi ajakan terbuka. Pertama, kepada pemerintah daerah agar menjadikan buku ini sebagai dokumen hidup dalam proses perencanaan dan evaluasi pembangunan. Kedua, kepada akademisi dan peneliti untuk melanjutkan, memperdalam, dan mengkritisi data yang telah disajikan. Ketiga, kepada masyarakat sipil untuk terus terlibat aktif dalam mengawal kebijakan lingkungan berbasis partisipasi.
Pada akhirnya, Biodiversitas Trenggalek 2025 adalah pengingat bahwa masa depan pembangunan daerah sangat ditentukan oleh keberanian hari ini untuk mendasarkan kebijakan pada pengetahuan ekologis. Buku ini telah membuka jalan. Tugas bersama selanjutnya adalah memastikan bahwa jalan tersebut tidak berhenti, tetapi terus diperluas dan diperkuat demi keberlanjutan Trenggalek dan generasi yang akan datang.
Kabar Trenggalek - Opini
Editor: Redaksi



















