KBRT - Peta investasi di Kabupaten Trenggalek belum banyak berubah hingga 2025. Alih-alih dipenuhi investor besar, geliat penanaman modal di daerah ini masih ditopang kuat oleh usaha mikro dan kecil (UMK), yang sejak lama menjadi ciri khas ekonomi lokal.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Trenggalek, Edi Santoso, menyebut dominasi UMK dalam struktur investasi daerah bukanlah hal baru. Kondisi tersebut sudah terbentuk sejak bertahun-tahun lalu dan masih bertahan hingga sekarang.
“Kalau terkait prestasi investasi sendiri, Trenggalek memang masih didominasi oleh sektor UMK, usaha mikro dan kecil. Ini sudah menjadi karakter investasi di Trenggalek dari dulu,” ujar Edi Santoso.
Menurutnya, komposisi investasi sepanjang 2025 juga relatif sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tidak ada lonjakan signifikan dari sektor usaha besar maupun menengah.
“Hampir sama dengan tahun kemarin. Komposisinya sekitar 70-an persen UMK dan 30 persen usaha menengah serta besar,” jelasnya.
Edi kemudian menjelaskan bahwa pengelompokan UMK dalam investasi mengacu pada besaran modal usaha. Dalam perhitungan tersebut, usaha mikro memiliki total modal hingga Rp 1 miliar, sementara usaha kecil berada di rentang Rp 1 miliar sampai Rp 5 miliar.
“Kalau UMK itu, usaha mikro modalnya di bawah nol sampai satu miliar rupiah, sementara usaha kecil antara satu sampai lima miliar. Modal ini termasuk peralatan, uang, dan aset usaha lainnya jika ditotal,” terangnya.
Dominasi UMK ini menunjukkan bahwa roda investasi di Trenggalek masih sangat bergantung pada pelaku usaha lokal dengan skala kecil. Meski begitu, kondisi ini juga mencerminkan kuatnya basis ekonomi rakyat yang tersebar di berbagai sektor.
Pemerintah daerah, kata Edi, terus berupaya mendorong UMK agar tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas. Harapannya, UMK di Trenggalek bisa semakin kompetitif dan memberi kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah ke depan.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor: Zamz





















