WATULIMO, TRENGGALEK - Hunian Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Watulimo, Trenggalek, belum ramai peminat. Dari total 51 unit yang tersedia, baru 17 kamar yang terisi meski sudah kembali dibuka pasca pandemi Covid-19.
Kondisi ini terjadi di tengah upaya pemerintah daerah yang terus menawarkan hunian tersebut ke masyarakat, terutama di wilayah pesisir Watulimo.
Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Disperkimhub Trenggalek, Subyantoro Retno Pamuji, mengakui tingkat hunian masih rendah meski promosi sudah dilakukan ke sejumlah desa.
“Sampai saat ini ada 17 unit yang disewa dari total 51 unit yang tersedia,” ujarnya.
Rusunawa yang dibangun oleh Kementerian PUPR pada 2016 itu sempat tidak difungsikan, sebelum akhirnya dipakai sebagai asrama Covid-19 saat pandemi. Setelah kondisi membaik, fasilitas tersebut kembali dibuka untuk umum.
Namun, respons masyarakat belum sesuai harapan. Sosialisasi ke desa seperti Prigi, Karanggandu, hingga Tasikmadu belum mampu mendongkrak jumlah penyewa secara signifikan.
“Sudah kami tawarkan ke beberapa desa di Kecamatan Watulimo seperti Prigi, Karanggandu, dan Tasikmadu, tapi belum banyak yang mendaftar,” jelasnya.
Saat ini, penghuni didominasi warga lokal, terutama pasangan muda dan pekerja pabrik. Hunian di lantai dua dan tiga menjadi pilihan utama, sementara lantai empat masih kosong.
“Dari 17 penghuni itu paling banyak ada di lantai dua, disusul lantai tiga, dan lantai empat masih kosong. Untuk lantai satu memang tidak ada kamar yang disewakan karena rencananya untuk toko perlengkapan dan kantor,” imbuhnya.
Dari sisi harga, rusunawa ini tergolong sangat terjangkau. Tarif sewa berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per bulan, jauh di bawah harga kos di sekitar Watulimo.
“Kalau dibandingkan kos di sekitar sini yang bisa sampai Rp 500 ribu per bulan, ini jauh lebih murah,” jelasnya.
Fasilitas yang disediakan juga cukup lengkap, mulai dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi dalam, hingga perabot dasar seperti ranjang dan lemari.
Meski begitu, karakter pekerjaan warga pesisir menjadi tantangan tersendiri. Banyak nelayan membutuhkan ruang lebih luas untuk aktivitas sehari-hari, termasuk menyimpan peralatan melaut yang cenderung basah.
“Karakter pekerjaan warga juga berpengaruh. Banyak nelayan yang butuh ruang lebih untuk aktivitasnya,” terangnya.
Pemerintah daerah kini berupaya memperluas jangkauan promosi, tidak hanya di Watulimo, tetapi juga ke kecamatan lain bahkan luar daerah. Sistem sewa yang fleksibel hingga lima tahun juga diharapkan bisa menarik minat masyarakat.
“Kami masih terus berproses. Harapannya ke depan semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan rusunawa ini,” tandas Subik.
Kabar Trenggalek - Peristiwa
Editor: Zamz





















