TRENGGALEK — Minyak goreng subsidi pemerintah merek Minyakita masih jadi incaran warga di Pasar Basah Trenggalek. Meski stoknya masih tersedia dan harga relatif stabil, para pedagang mengaku pasokan belum mampu memenuhi tingginya permintaan pembeli.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Trenggalek, Saniran, memastikan harga Minyakita di pasar masih dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kami mencoba informasi bagaimana perkembangan Minyakita di Pasar Basah Trenggalek. Pertama stok masih ada, kedua harga masih tetap stabil sesuai HET,” ujar Saniran saat melakukan pengecekan pasar.
Menurutnya, kemasan dua liter rata-rata dijual Rp 31.400 atau sekitar Rp 15.700 per liter. Namun, ada juga pedagang yang menjual Rp 32 ribu karena disertai tambahan barang lain seperti bumbu penyedap.
“Tadi juga kami keliling ke pedagang, harga jualnya sesuai HET,” imbuhnya.
Saniran menjelaskan pedagang mendapatkan stok Minyakita dari Bulog dengan harga di bawah HET, sehingga masih ada margin keuntungan yang diperoleh penjual tanpa harus menaikkan harga secara berlebihan.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada minyak goreng non subsidi. Harga produk di luar Minyakita masih mengikuti mekanisme pasar dan belum bisa dikendalikan seperti minyak subsidi pemerintah.
Tak hanya soal minyak goreng, Diskomidag juga menyoroti harga plastik kemasan yang sampai sekarang belum turun. Bahkan, kenaikannya masih berada di kisaran 40 hingga 50 persen dibanding sebelumnya.
Kondisi itu berdampak langsung pada pelaku UMKM yang bergantung pada kemasan plastik untuk penjualan produk mereka.
“Akan tetapi mereka kami edukasi untuk menyesuaikan, meskipun dari volume penjualan,” kata Saniran.
Di sisi lain, pedagang Pasar Basah Trenggalek mengaku stok Minyakita yang diterima masih terbatas dibanding permintaan masyarakat.
Salah satu pedagang, Siti Fatimah, mengatakan saat ini dirinya hanya mendapat sekitar lima karton dalam satu kali distribusi.
“Stok masih kurang. Satu minggu lima karton, biasanya baru dua hari sudah habis,” ujarnya.
Ia menyebut distribusi Minyakita kini dilakukan dua minggu sekali. Jumlah pasokan juga menurun dibanding masa Ramadan lalu yang sempat mencapai puluhan karton.
“Puasa kemarin tiga kali distribusi sampai 20 karton, setelah Lebaran tinggal lima karton,” katanya.
Meski begitu, warga masih banyak memburu Minyakita karena harganya dinilai lebih terjangkau dibanding minyak goreng biasa yang terus mengikuti fluktuasi pasar.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor: Zamz





















