TRENGGALEK – Akses pendidikan tinggi di Kabupaten Trenggalek yang masih berada di angka 13,52 persen mendorong Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Trenggalek menggandeng Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Atma Jaya Jakarta menghadirkan pembelajaran berbasis industri melalui kuliah fintech.
Kolaborasi ini diwujudkan dalam kuliah bersama bertajuk Alternative Credit Scoring pada kelas Teknologi Finansial dan Keuangan Inklusif, Selasa (21/4/2026), dengan menghadirkan praktisi industri Dino Martin, Co-Founder & CEO Pendanaan.com.
Wakil Rektor I ITB Trenggalek, M. Zamroni, mengatakan kondisi rendahnya partisipasi pendidikan tinggi menjadi tantangan struktural yang harus dijawab dengan pendekatan baru.
“Data menunjukkan dari delapan anak usia kuliah di Trenggalek, hanya satu yang bisa mengakses perguruan tinggi. Ini adalah tantangan struktural yang kami jawab dengan menghadirkan pendidikan berkualitas global di tingkat lokal,” ujar Zamroni.
Berdasarkan data 2024, rata-rata lama sekolah di Trenggalek baru mencapai 7,9 tahun. Kondisi ini berdampak pada kualitas sumber daya manusia serta daya saing daerah, terutama di tengah pertumbuhan sektor industri pengolahan dan perdagangan.
Zamroni menjelaskan, kolaborasi dengan UNIKA Atma Jaya Jakarta dilakukan dalam skema program DiktisainTek Berdampak, di mana Atma Jaya berperan sebagai institusi mentor bagi ITB Trenggalek.
“Melalui kuliah bersama ini, mahasiswa kami belajar langsung dari praktisi bagaimana teknologi memungkinkan penilaian kredit bagi warga perdesaan yang tidak memiliki riwayat perbankan formal. Ini sangat relevan dengan kondisi Trenggalek,” katanya.
Selain kolaborasi eksternal, ITB Trenggalek juga menerapkan kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan capaian kompetensi lulusan.
“Dengan OBE, paradigma kita berubah dari ‘apa yang diajarkan’ menjadi ‘apa yang mampu dilakukan lulusan’. Mahasiswa Bisnis Digital harus mampu menyusun strategi marketing nyata, dan mahasiswa Ilmu Komputer harus mampu merancang solusi teknologi untuk masalah riil,” tegas Zamroni.
Saat ini, ITB Trenggalek memiliki tiga program studi terakreditasi “Baik” oleh BAN-PT, yakni S1 Ilmu Komputer, S1 Bisnis Digital, dan S1 Manajemen Ritel.
Di sisi lain, Trenggalek masih berada di peringkat ke-403 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia berdasarkan PDRB per kapita. Kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang teknologi dan bisnis pun dinilai semakin mendesak.
“Kami tidak ingin kampus menjadi menara gading. Kolaborasi dengan kampus bereputasi internasional seperti Atma Jaya dan penerapan standar industri adalah cara kami memastikan lulusan ITB Trenggalek siap menjadi solusi bagi kemajuan daerahnya sendiri,” pungkasnya.
Kabar Trenggalek - Pendidikan
Editor: Zamz
















