Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel
ADVERTISEMENT
ITB

Fakta Trenggalek yang Perlu Disadari: Tak Masuk 10 Daerah Termiskin, Tapi 72 Ribu Warga Masih Miskin

Meski tak masuk 10 daerah termiskin di Jatim, Trenggalek masih punya 72 ribu warga miskin, di atas rata-rata nasional

Poin Penting

  • Trenggalek tak masuk 10 termiskin Jatim
  • 72 ribu warga masih miskin
  • Persentase di atas nasional

TRENGGALEK - Kabupaten Trenggalek memang tidak masuk dalam daftar 10 daerah termiskin di Jawa Timur. Tapi di balik “prestasi” itu, ada angka yang sulit diabaikan: sekitar 72 ribu warganya masih hidup dalam kemiskinan.

Fakta itu disampaikan langsung Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat berpidato di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf pada 29 Maret 2026 lalu.

"Kalau lihat data 10 Kabupaten paling miskin di Jawa Timur, nama Trenggalek tidak ada, jadi saya ingin melaporkan ke Pak Menteri, begitu hebatnya gotong royong di Trenggalek, bahkan di tahun 2024 tim koordinasi penanggulangan kemiskinan, yang dulu Sekretariatnya di Wakil Presiden, mungkin sekarang masih iya," kata Arifin.

Ia menyebut, Trenggalek juga masuk dalam sembilan daerah di Jawa Timur yang berhasil menekan angka kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada 2024.

"Di tahun 2024 melalui rilis hanya ada 9 kota dan kabupaten di Jawa Timur yang Kemiskinan Ekstremnya sudah 0 persen, salah satunya Kabupaten trenggalek," ujarnya.

Namun, capaian itu belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan. Jumlah penduduk miskin di Trenggalek masih cukup tinggi dan bahkan berada di atas rata-rata nasional.

"Sekarang jumlah penduduk miskin kami di Trenggalek itu ada 72 ribu, kalau secara prosentase 10 sekian persen, memang turun, tapi masih diatas rata-rata nasional," jelasnya.

Sejak 2016, Pemkab Trenggalek telah mengembangkan berbagai strategi untuk menekan angka kemiskinan, salah satunya melalui Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT).

"Apa yang sebenarnya yang sudah kami lakukan di Trenggalek, sejak tahun 2016 Trenggalek sudah memiliki Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT), waktu itu langsung diresmikan oleh Ibu Menteri Sosial waktu itu Ibu Khofifah Indar Parawansa," katanya.

ADVERTISEMENT

Program tersebut kemudian dikenal dengan nama Gertak, yang awalnya berkantor di rumah dinas wakil bupati.

"Kantor pertama SLRT kami, yang kami namakan Gertak itu di Rumah Dinas Wakil Bupati, karena waktu itu kami sebagai tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah," imbuhnya.

Dalam pelaksanaannya, SLRT mengusung tiga pendekatan utama yang disebut sebagai “sedekah”.

"Nah, di SLRT itu apa yang dilakukan, kami melakukan tiga sedekah, pertama sedekah informasi, karena data kemiskinan hidup, kalau potretnya tiga bulanan, satu tahunan, jangankan seperti itu per hari bisa berubah," ungkapnya.

Selain itu, ada sedekah partisipasi yang melibatkan gotong royong masyarakat dalam program bedah rumah.

"Sedekah partisipasi jadi biasanya kami punya fiskal terbatas, mau membangun bedah rumah, rumah yang tidak layak huni kami jadikan layak huni, kami biasanya beli material sampai 10 juta, kalau ada kamar dan kamar mandi itu 15 juta, nah biaya tukangnya yang membangun siapa, akhirnya masyarakat kami minta sedekah partisipasi, ya kita gotong royong," terangnya.

Terakhir, ada sedekah rezeki yang melibatkan Baznas untuk membantu warga di luar jangkauan anggaran pemerintah.

"Kemudian kami terakhir melakukan sedekah rezeki, sedekah rezeki ini kami bekerjasama dengan Badan Amil Zakat (Baznas) Trenggalek. Hal ini yang kami gunakan untuk membantu warga yang belum tercover APBD, karena Baznas mampu menghimpun 6 Miliar sampai rekor tertinggi 13 Miliar," ujarnya. 

Kabar Trenggalek - Sosial

Editor: Zamz