KBRT - Menjelang azan Magrib, satu sudut simpang empat Jalan Wachid Hasyim, Kelurahan Ngantru, Kabupaten Trenggalek, selalu berubah jadi lautan pemburu takjil. Di pojok jalan itu, warung sederhana dengan menu kuliner trenggalek tahu lontong telur milik Hariadi nyaris tak pernah sepi, apalagi saat Ramadan.
Lokasinya cuma sekitar 100 meter di barat Alun-Alun Trenggalek. Strategis banget buat yang habis ngabuburit atau baru pulang kerja dan pengin buka puasa tanpa ribet.
Kalau datang mepet azan, siap-siap antre. Soalnya, tempat ini jadi salah satu destinasi wajib buat warga lokal yang doyan kuliner tradisional rasa juara.
Dari balik meja kayu, tangan Hariadi bergerak cepat. Potong lontong, siram bumbu kacang, ulek sambal, goreng telur, semua dilakukan tanpa jeda karena pesanan terus berdatangan.
"Kalau untuk Bulan Ramadan bukanya tetap seperti hari biasa, jam 4 sore (16.00 WIB) sampai jam 1 malam (01.00 WIB)," kata Hariadi, Sabtu (21/2/2026).
Di sini pembeli bebas pilih: mau pakai lontong atau nasi. Lauknya bisa telur dadar, atau ditambah aneka botok yang bikin makin mantap.
"Kalau tidak pakai telur Rp 11 ribu kalau pakai telur Rp 13 ribu," lanjut pria yang akrab disapa Pak Kedek ini.
Soal level pedas? Aman. Mau tanpa cabai, sedang, atau pedas nampol, tinggal bilang. Bumbu kacangnya gurih, ditambah tauge segar, taburan kacang goreng, dan irisan seledri yang bikin aromanya makin menggoda.
Meski tampilannya sederhana, warung ini dikenal luas. Tak cuma warga biasa, sejumlah pejabat daerah disebut-sebut juga pernah mampir, mulai dari Bupati hingga Kapolres Trenggalek.
Dalam sehari, ratusan porsi bisa terjual. Tapi soal stok, Pak Kedek memastikan pembeli tak perlu khawatir.
"Tidak ada habisnya, pokoknya sekitar jam 1 ya tutup," ujarnya. rtinya, selama belum lewat jam tutup, peluang dapat seporsi tahu lontong hangat masih terbuka.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz






















