KBRT - Dunia gaming Indonesia, baru-baru ini dikejutkan dengan munculnya peringatan "Not fit for distribution" pada sejumlah game populer di platform Steam.
Banyak gamer melaporkan bahwa judul-judul besar seperti Skyrim, Yakuza, hingga Expedition 33 mulai memunculkan label klasifikasi konten tertentu.
Penyebab utama masalah ini, adalah implementasi penuh IGRS. Namun, apa itu IGRS sebenarnya? Mengapa regulasi ini mendadak menjadi perbincangan hangat dan bagaimana dampaknya bagi ekosistem gaming di Indonesia? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini:
Daftar Isi [Show]
IGRS atau Indonesia Game Rating System, adalah sistem klasifikasi permainan interaktif elektronik berdasarkan kelompok usia pengguna. Secara sederhana, IGRS adalah Lembaga Sensor khusus untuk video game yang beroperasi di Indonesia, mirip dengan ESRB di Amerika Utara atau PEGI di Eropa.
IGRS, diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) dengan tujuan utama untuk melindungi konsumen, khususnya anak-anak, dari konten game yang tidak sesuai dengan perkembangan usia mereka.
Dasar Hukum IGRS
Implementasi IGRS, diperkuat melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 2 Tahun 2024 tentang Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik. Regulasi ini mewajibkan setiap penerbit (publisher) game yang memasarkan produknya di Indonesia untuk melakukan klasifikasi mandiri atau mendaftarkan game mereka ke sistem IGRS.
Kategori Usia dalam IGRS
IGRS membagi klasifikasi game ke dalam 5 kelompok usia utama, berikut adalah rincian lengkapnya:
- Kelompok Usia 3 Tahun ke Atas: Tidak menampilkan konten kekerasan, rokok, miras, narkoba, hingga bahasa kasar.
- Kelompok Usia 7 Tahun ke Atas: Boleh menampilkan sedikit kekerasan namun tidak secara visual eksplisit (kartun).
- Kelompok Usia 13 Tahun ke Atas: Boleh menampilkan kekerasan ringan dan bahasa yang sedikit kasar.
- Kelompok Usia 15 Tahun ke Atas: Boleh menampilkan kekerasan yang lebih jelas dan unsur horor.
- Kelompok Usia 18 Tahun ke Atas: Dewasa. Boleh menampilkan konten yang lebih kompleks, namun tetap dalam koridor hukum Indonesia.
Mengapa IGRS Menjadi Kontroversial di Steam?
Munculnya label IGRS di platform Steam, memicu kekhawatiran besar di kalangan hardcore gamer. Berikut adalah beberapa poin yang menjadi pusat keresahan para gamer:
- Banyak game AAA yang tiba-tiba mendapat label tidak layak distribusi. Hal ini terjadi jika publisher belum mendaftarkan klasifikasi usia secara resmi ke sistem pemerintah Indonesia atau jika konten dianggap melanggar hukum nasional.
- Gamer, khawatir game yang sudah dibeli dengan harga mahal tidak akan bisa dimainkan di masa depan atau akses pembelian game baru akan ditutup total bagi IP Indonesia.
- Banyak yang berpendapat, bahwa sistem rating internasional (ESRB/PEGI) sebenarnya sudah cukup. Kehadiran IGRS dianggap sebagai hambatan birokrasi bagi pengembang luar negeri untuk masuk ke pasar Indonesia.
Dampak Implementasi IGRS bagi Gamer
Berdasarkan situasi terkini di lapangan, berikut adalah dampak yang mulai dirasakan oleh para gamer di Indonesia:
- Beberapa judul game mulai tidak bisa diproses ke dalam keranjang belanja (Cart) jika dianggap tidak memenuhi standar klasifikasi.
- Sejauh ini, game yang sudah dibeli dan ada di Library masih bisa diunduh dan dimainkan. Kebijakan ini biasanya bersifat tidak berlaku surut untuk kepemilikan barang.
- Gamer khawatir jika akses membeli game orisinal dipersulit, dan akhirnya masyarakat akan kembali ke budaya pembajakan yang merugikan pengembang.
Bagaimana Nasib Developer Lokal?
Di satu sisi, IGRS bertujuan untuk menata industri game nasional agar lebih terstruktur. Bagi developer lokal, memiliki rating IGRS bisa menjadi nilai tambah saat memasarkan produk di dalam negeri atau melalui bantuan pemerintah.
Tantangan terbesar sistem ini, adalah sinkronisasi standar rating, agar tidak terjadi standar ganda antara pasar lokal dan global.
Kabar Trenggalek - Edukasi
Editor: Zamz





















