Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel
ADVERTISEMENT
ITB

Meriahnya Lebaran Ketupat Trenggalek, Tradisi Ratusan Tahun yang Masih Terjaga

Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek digelar H+8 Idul Fitri, tradisi turun-temurun sejak Mbah Mesir dengan open house dan kirab ketupat.

Poin Penting

  • Kupatan Durenan digelar H+8 Idul Fitri dan jadi puncak silaturahmi
  • Tradisi berasal dari puasa Syawal Mbah Mesir, sudah berjalan 2 abad
  • Open house dan kirab tumpeng ketupat jadi daya tarik utama

DURENAN, TRENGGALEK - Perayaan Lebaran Ketupat di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, berlangsung meriah pada H+8 Idul Fitri 2026. Tradisi yang telah bertahan sekitar dua abad ini menjadi puncak silaturahmi warga, ditandai dengan open house di setiap rumah serta kirab tumpeng ketupat keliling. 

Dari pantauan jurnalis Kabar Trenggalek di lapangan, suasana Durenan justru lebih padat dibanding hari pertama Lebaran. Warga dari berbagai daerah berdatangan untuk bersilaturahmi dengan keluarga maupun kerabat.

Ciri khas tradisi ini terlihat dari kebiasaan warga yang membuka rumah bagi siapa saja. Setiap tamu disambut dengan hidangan ketupat lengkap dengan sayur, tanpa perlu undangan.

Tradisi ini berakar dari sosok KH Mesir atau Mbah Mesir yang menjalankan puasa sunah Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri. Karena itu, momentum Lebaran bagi warga Durenan bergeser ke hari kedelapan.

“Dari kakek buyut kami, mbah yai mesir itu beliau langsung di undang oleh adipati ke Pendopo Trenggalek, beliau melaksanakan puasa syawal mulai hari raya ke 2 sampai ke 6,” ucap Gus M. Haidar.

“Sehingga H+8 melakukan open house, sehingga santri-santri dan masyarakat sowannya, lebaran dan meminta maafnya di hari ketupat itu, karena kakek kami setelah Idul Fitri melakukan Sunnah Syawal 6 hari,” lanjutnya.

ADVERTISEMENT

“Sampai saat ini tradisi cukup terjaga dengan umur yang lama tradisi ini terjaga dan berkembang di masyarakat sekitar,” katanya.

Warga kompak melakukan kirab tumpeng ketupat. KBRT/Zamz

Selain silaturahmi, warga juga menggelar kirab tumpeng ketupat. Tumpeng yang disusun dari ratusan ketupat diarak keliling desa, lalu singgah di Pondok Pesantren Babul Ulum untuk doa bersama.

Setelah didoakan, arak-arakan kembali dilanjutkan hingga titik akhir. Tumpeng ketupat kemudian diperebutkan warga sebagai simbol berkah dan rasa syukur.

Ramainya perayaan berdampak pada kepadatan lalu lintas, terutama di jalur antar desa hingga jalan nasional Trenggalek–Tulungagung. Petugas dari Polres Trenggalek turut dikerahkan untuk pengamanan dan pengaturan arus kendaraan.

Tradisi ini tidak hanya menjaga nilai religius, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga yang tetap lestari dari generasi ke generasi.

Kabar Trenggalek - Makin Tahu Indonesia

Editor: Zamz