DURENAN, TRENGGALEK - Perayaan Lebaran Ketupat di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, kembali digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026. Tradisi yang berlangsung setiap H+7 Idul Fitri ini menjadi momen spesial bagi warga, karena selain kirab ketupat, masyarakat juga membuka rumah untuk siapa saja yang ingin bersilaturahmi dan menikmati hidangan secara gratis.
Bagi warga Durenan, Kupatan bukan sekadar tradisi, tapi sudah seperti “Lebaran kedua” setelah Idul Fitri. Momentum ini biasanya dirayakan usai menjalankan puasa Syawal selama enam hari.
"Kalau di Durenan hari raya nya dua kali, Idul Fitri sama kupatan (hari raya ketupat)," kata Mochamad Cholid Huda, warga Desa Durenan, Jumat (27/3/2026).
Suasana hangat terasa dari kebiasaan open house yang dilakukan hampir setiap rumah. Warga menyiapkan berbagai hidangan khas berbahan dasar ketupat untuk tamu yang datang, tanpa undangan khusus.
Huda sendiri mengaku sudah menyiapkan puluhan ketupat jauh-jauh hari. Ia bahkan membeli janur untuk membuat sendiri anyaman ketupat.
"Rencananya saya menyiapkan lebih kurang 80 ketupat," ucapnya.
Dalam tradisi ini, ada dua jenis ketupat yang umum disajikan, yakni ketupat bawang dan ketupat tompo. Perbedaannya terletak pada ukuran dan bentuk, meski isi keduanya sama-sama menggunakan beras.
"Ukurannya Ketupat Tompo ini lebih besar dibandingkan Ketupat Bawang. Isinya ya sama, sama-sama diisi menggunakan beras lalu direbus," ucapnya.
Proses memasaknya pun tidak instan. Ketupat harus direbus berulang kali hingga matang sempurna agar teksturnya pulen dan tidak mudah basi.
"Butuh waktu lama karena tidak sekali rebus. Bisa sampai 2-3 dan satu rebusan bisa sampai 3 jam. Memang bisa pakai cara yang lebih singkat tapi biasanya ketupatnya kurang pulen dan gampang basi," jelasnya.
Untuk melengkapi sajian, Huda menyiapkan beragam menu seperti sayur nangka muda (tewel), rica entok, bakso, hingga minuman. Semua disajikan bebas bagi tamu yang datang.
Tradisi ini, menurutnya, sudah diwariskan secara turun-temurun. Awalnya sederhana, hanya ketupat dengan sayur tewel dan taburan bubuk kedelai sangrai.
"Kalau yang asli dulu sangat sederhana. Cukup ketupat, sayur tewel, dan bubuk kedelai sangrai," ucap guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Durenan tersebut.
Namun seiring waktu, beberapa elemen mulai jarang ditemui, termasuk bubuk kedelai yang dulu menjadi ciri khas.
"Tapi seiring perkembangan zaman, bubuk kedelai itu sangat jarang sekali ditemukan. Keluarga saya sendiri juga sudah lama tidak membuat," kelakarnya.
Meski begitu, antusiasme warga justru semakin tinggi setiap tahun. Ketupat yang disiapkan biasanya habis dalam sehari, bahkan banyak pengunjung yang membawa pulang.
"Alhamdulillah, dari tahun ke tahun satu hari langsung habis. Selain makan ditempat boleh juga kalau ada yang mau bawa pulang, kami justru sangat senang," kata dia.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz




















