TRENGGALEK - Ratusan siswa kelas IX MTsN 1 Trenggalek memilih menenangkan diri dengan cara yang tak biasa menjelang ujian. Bukan sekadar belajar tambahan, mereka justru berkumpul bersama orang tua di Gedung Olahraga madrasah, Selasa (07/04/2026), untuk berdoa dan meminta restu secara langsung.
Momen paling menyentuh terjadi ketika para siswa bergantian bersimpuh di hadapan orang tua dan wali kelas. Tanpa banyak kata, suasana berubah menjadi penuh haru—air mata jatuh, pelukan menguatkan, seolah jadi bekal terakhir sebelum menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Kepala MTsN 1 Trenggalek, Jamaluddin Malik, menjelaskan kegiatan ini memang sengaja dirancang untuk memperkuat kesiapan siswa secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada akademik.
“Untuk anak-anak kelas IX ini memang ada dua agenda akhir, yaitu TKA dan ujian madrasah. Kita siapkan mereka secara maksimal, baik dari materi pelajaran, tambahan pendalaman, hingga try out untuk memetakan kemampuan awal siswa,” terangnya.
Ia menyebut, meskipun TKA bukan penentu kelulusan, hasilnya tetap berpengaruh sebagai bahan pertimbangan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
“Kita ingin, meskipun hanya sebagai persyaratan, anak-anak tetap mendapatkan hasil terbaik,” terang Jamaluddin.
Menurutnya, persiapan ujian tidak cukup hanya dengan latihan soal. Ada sisi mental dan keyakinan yang juga perlu dibangun.
“Kita tidak hanya membekali materi, tetapi juga menguatkan mental dan hati mereka. Harus seimbang antara usaha dan doa. Dengan begitu, anak-anak memiliki keyakinan bahwa Allah akan membersamai langkah mereka,” tambahnya.
Kehadiran orang tua dalam kegiatan ini menjadi penegas bahwa proses pendidikan tidak berhenti di sekolah. Restu dan doa keluarga dianggap sebagai bagian penting dari perjalanan siswa.
“Rida orang tua adalah pembuka rida Allah. Kalau orang tua merestui, insyaallah Allah juga menurunkan rida-Nya. Anak-anak tidak bisa berjalan sendiri tanpa doa dan restu orang tua,” terang Jamaluddin.
Rangkaian doa dimulai dari tawasul, pembacaan Al-Fatihah, dilanjutkan istighosah hingga lantunan surat-surat pilihan. Namun bagi banyak siswa, momen yang paling membekas justru saat mereka menundukkan kepala di pangkuan orang tua.
Madrasah berharap, suasana seperti ini tidak berhenti di satu acara saja, tetapi terus berlanjut menjadi kebiasaan di rumah.
“Mudah-mudahan doa ini bisa istiqomah dilanjutkan. Harapan kami, apa yang dicita-citakan anak-anak dan orang tua bisa tercapai. Jika mereka sukses melanjutkan ke jenjang berikutnya, maka itu juga menjadi kebanggaan bagi madrasah,” ujarnya.
Kabar Trenggalek - Pendidikan
Editor: Zamz





.jpeg)
















