TRENGGALEK - Program Sekolah Rakyat (SR) yang digagas pemerintah pusat mulai berjalan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Trenggalek. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, rekrutmen siswa di program ini tidak melalui tes akademik, melainkan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga.
Model seleksi ini membuat SR menjadi ruang pendidikan alternatif bagi anak-anak dari kelompok rentan, termasuk mereka yang sempat putus sekolah atau bahkan belum bisa membaca.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyebut hingga saat ini sudah ada 166 titik Sekolah Rakyat yang beroperasi dengan total sekitar 16 ribu siswa. Namun, sebagian besar masih memanfaatkan bangunan milik pemerintah daerah.
"104 titik yang dibangun tahap pertama. Ini tahap pertama sudah dalam proses termasuk salah satunya adalah Kabupaten Trenggalek. Tadi sudah saya tampilkan kan melihat kan bagaimana sekolah ini nanti, jadi ya ada side plan-nya," kata Saifullah Yusuf, Minggu (29/3/2026) malam.
Di Trenggalek sendiri, pembangunan Sekolah Rakyat dilakukan di area samping Pasar Basah. Hingga kini, progres pembangunan fisik baru mencapai sekitar 13 persen dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2026.
Program ini dirancang sebagai bentuk intervensi negara untuk memastikan akses pendidikan bagi masyarakat miskin. Seluruh kebutuhan siswa, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal, hingga konsumsi sehari-hari, ditanggung pemerintah.
"Ini dalam rangka memenuhi amanah Undang-undang, fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara," ujarnya.
Gus Ipul menjelaskan, proses penjaringan siswa dilakukan melalui penelusuran langsung oleh tim terpadu, bukan melalui pendaftaran terbuka. Kriteria utama adalah kondisi ekonomi keluarga, bukan kemampuan akademik.
Ia menyebut, siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 (SRT 50) Trenggalek berasal dari berbagai latar belakang. Bahkan, ada yang sudah duduk di jenjang SMA namun belum bisa membaca.
"Ada yang pintar Bahasa Inggris, ada yang pintar Bahasa Arab, ada yang pintar Bahasa Jepang, tapi ada yang tidak bisa baca. Kelas 1 SMA tidak bisa membaca. Banyak sekali, karena tidak ada tes akademik," ujarnya.
"Siapapun selama dia miskin, selama dia kurang mampu, selama dia keluarga sesuai target, dia boleh masuk," imbuhnya.
Meski berasal dari kondisi awal yang beragam, perkembangan siswa dinilai cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Perubahan itu tidak hanya terlihat dari sisi akademik, tetapi juga kepercayaan diri.
"Makanya ketika mereka bisa naik ke atas panggung ini, saya terus terang ya nangis karena saya tahu bagaimana awalnya mereka dulu. Sekarang sudah diberikan seragam oleh Pak Presiden, dikasih baret," kata Gus Ipul.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz





.jpeg)













