TRENGGALEK - Menjelang Hari Raya Idul Adha, peternak kambing di Kabupaten Trenggalek justru menghadapi situasi yang bikin waswas. Harga kambing kurban tahun ini belum mampu menyamai harga tahun lalu, sementara pasar disebut masih lesu akibat daya beli masyarakat melemah.
Kondisi itu dirasakan Bagus Faturohman, peternak kambing asal Desa Jambu, Kecamatan Tugu. Dalam dua bulan terakhir, ia melihat harga kambing, terutama jenis domba, terus mengalami penurunan.
Menurut Bagus, banyak peternak mulai menjual ternaknya, tetapi jumlah pembeli tidak sebanding. Akibatnya, harga kambing ikut terkoreksi cukup dalam dibanding periode Idul Adha tahun lalu.
“Selama dua bulan terakhir harga kambing, khususnya kambing domba, mulai mengalami penurunan. Mungkin dampaknya dari daya beli masyarakat yang berkurang atau kondisi ekonomi masyarakat seperti sekarang,” ujar Bagus.
Meski begitu, mendekati Idul Adha harga kambing jantan yang layak kurban perlahan mulai bergerak naik. Saat ini, kambing kurban dibanderol mulai Rp3 juta per ekor.
“Kalau sekarang menjelang H-2 minggu Idul Adha, kambing untuk kurban sudah mulai stabil dan merangkak naik. Untuk kambing jantan yang pantas kurban harganya sekitar Rp3 juta ke atas,” katanya.
Harga tersebut masih berada di bawah pasaran tahun lalu. Pada momen yang sama di 2025, kambing kurban bisa laku Rp3,5 juta hingga Rp3,7 juta per ekor.
“Kalau tahun lalu harga Rp3,5 juta sampai Rp3,7 juta, tahun ini masih sekitar Rp3 jutaan. Penurunannya sekitar 20 persen dibanding tahun lalu,” jelasnya.
Bagus menyebut lesunya pasar bukan karena stok kambing sedikit. Justru sebaliknya, jumlah kambing yang dijual peternak meningkat cukup banyak.
“Peternak yang menjual banyak sekali, tapi pembelinya lesu,” ujarnya.
Di tengah kondisi itu, Bagus berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa membuka peluang baru bagi peternak kambing lokal. Ia mengusulkan agar menu MBG tidak hanya memakai daging sapi, tetapi juga daging kambing.
Menurutnya, hingga kini belum ada peternak kambing di Trenggalek yang terlibat sebagai pemasok daging untuk dapur MBG.
“Kalau bisa varian daging untuk MBG tidak cuma sapi, tapi juga kambing. Jadi peternak kambing di Kabupaten Trenggalek juga bisa merasakan dampaknya,” katanya.
“Sampai sekarang setahu saya belum pernah ada pengambilan daging kambing dari peternak Trenggalek untuk MBG,” lanjutnya.
Bagus menilai pelibatan peternak kambing dalam program MBG bisa membantu menjaga stabilitas harga sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat kecil. Sebab, peternakan kambing lebih banyak digeluti warga kalangan menengah ke bawah.
“Kalau sapi mungkin hanya kalangan tertentu yang bisa beternak. Tapi kambing banyak dipelihara masyarakat menengah ke bawah. Jadi kami berharap MBG juga memakai daging kambing agar peternak lokal ikut terbantu,” ujarnya.
Kabar Trenggalek - Ekonomi
Editor: Zamz



















