Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini

Press ESC / Click X icon to close

Kabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari iniKabar Trenggalek - Informasi Berita Trenggalek Terbaru Hari ini
LoginKirim Artikel
ADVERTISEMENT
ITB

Dunia Memandang Perempuan dalam Film A Normal Woman

Resensi Film A Normal Woman, menceritakan seorang ibu rumah tangga yang hidup dalam kesempurnaan tiba-tiba menemukan dirinya terjangkit penyakit misterius yang akan mengungkap sisi gelap masa lalunya.

Dunia Memandang Perempuan dalam Film A Normal Woman

Poin Penting

  • Film ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi
  • Naskah film ditulis oleh Andry Cung
  • Film ini sempat menduduki posisi pertama dalam daftar Top 10 Movies in Indonesia

A Normal Woman adalah film drama yang rillis pada Juli 2025 di Netflix dengan genre drama psikologis. Film ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi berdasarkan naskah Andry Cung, dengan perusahaan produksi Soda Machine Film. A Normal Woman demikian populer, hingga mampu menduduki posisi pertama dalam daftar Top 10 Movies in Indonesia. Selain itu, film ini juga mampu bersaing dalam jajaran film dari berbagai negara yang tayang di layanan streaming Netflix. A Normal Women menyuguhkan kisah drama psikologis tentang perempuan dengan berbagai tuntutan, peran dalam keluarga, standar kecantikan, standar ideal pendamping hidup, hingga upaya pencarian jati diri.

A Normal Woman menjadi film yang berani tampil berbeda, dengan alur yang tidak biasa. Alur tidak terduga dalam film ini mampu membuat penonton bertanya-tanya bagaimana akhir dari kisah dalam film ini. Sebagai film psikologis, A Normal Woman mampu menampilkan tontonan yang menyegarkan ingatan, tidak klise, serta tidak mudah ditebak seperti kebanyakan drama dalam film arus utama keluarga Indonesia. Sehingga kehadiran film ini mampu menjadi langkah maju dalam perfilman Indonesia.

Dengan mengambil latar kelas sosialita, film ini dibintangi oleh Marissa Anita( Milla), Dion Wiyoko (Jonathan), Gisella Anastasia (Erika) dan Widyawati (Liliana)sebagai pemeran utama. Film ini mengangkat kisah mengenai Milla dengan peran sebagai ibu rumah tangga. Ia hadir dengan wajah perempuan kelas sosialita dengan berbagai gambaran kesempurnaan yang tercitra dalam kehidupan nyata maupun unggahan di sosial media. Sebagai seorang ibu rumah tangga, Milla tinggal bersama suami, seorang anak perempuan dan ibu mertua dengan prinsip martriarki. Sehingga dalam keluarga ini, ibu mertua Milla menggambil kendali rumah, pola berkeluarga serta pola hidup bersosial kalangan sosialita untuk keluarga anaknya.

***

A Normal Women mampu menghadirkan sajian yang segar dengan penghormatan bagi kebertubuhan perempuan. Bagimanapun ketidakstabilan emosi, mampu mempengaruhi aspek psikologi bahkan berdampak pada fisik seseorang. Kecenderungan ini kerap dialami oleh perempuan dengan berbagai tekanan sosial di masyarakat dan tuntutan hidup dalam keluarga. Dalam kisah Milla, citra Couple Goal menjadi tuntutan hidup yang memberinya belenggu harus tampil sempurna di hadapan khalayak umum. Hal tersebut memiliki signifikasi berbagai rentetan nilai dan label yang disandangnya. Iya, tampil sempurna dalam berbagai kesempatan.

Dalam bagian awal, film ini mengangkat isu yang umum dialami oleh pasangan berkeluarga. Milla mengalami kegamangan dan stress tersebab berada dalam keluarga dengan dominasi kendali oleh ibu mertua dengan beragam aturan yang mengikat, perundungan siber yang dialami anaknya yang beranjak remaja, dan upaya menormalisasi berbagai tuntutan hidup yang sempurna bagi keluarga sosialita dengan kelas elit yang kerap tampil di media. Kondisi tersebut masih diperparah dengan tuntutan hidup yang hadir dari ibunya yang menempatkan posisi Milla sebagai menantu dari keluarga terpandang sebagai investasi bagi finansial keluarga.

Lebih jauh film ini hadir dengan gambaran bagaimana kebergelimpangan harta, tingginya status sosial, dan kehormatan yang diperoleh Milla sebagai istri dari seorang suami dengan privilege tinggi tak membuatnya lepas dari tekanan hidup. Sebagai ibu rumah tangga di kalangan sosial atas, tuntutan hidup juga ikut membawanya pada standar yang demikian tinggi. Dalam film ini digambarkan dari latar keluarga mertua yang menuntut Milla untuk selalu tampil sempurna, baik dalam mejadi ibu rumah tangga dalam mengelola keluarga, ibu bagi anaknya yang beranjak dewasa, menjadi istri dalam mendampingi pasangan, serta kemampuan menegerial dalam mengelola keuangan dan menata rumah.

Tuntutan demi tuntutan tersebut pada akhirnya berdampak pada kondisi psikis dan juga fisik Milla. Secara fisik, ketidaksehatan Milla ditandai dengan munculnya ruam-ruam gatal pada tubuhnya, sebuah efek samping dari efek psikologi yang menumpuk. Kondisi ini membuat Milla menghadapi banyak stigma dari kalangan sosialitanya serta label kurang religius dating dari ibu mertuanya. Sehingga kondisi ini membuat keluarga sosialita ini menjadi retak karena aspek nilai dalam ruang sosial adalah utama sebagai public figure. 

***

Grace Camilla adalah sosok di masa lalu Milla. Ia adalah transformasi secara fisik dan upaya penghilangan identitas yang dilakukan oleh ibu Grace bersamaan dengan dilakukannya operasi plastik selepas kecelakaan yang menimpa anaknya. Upaya ini diambil dengan harapan masa depan yang lebih baik, dengan berlandaskan penampilan fisik yang dianggap mampu menjawab nilai komunal masyarakat urban bagi perempuan. Film ini menggambarkan setidaknya bahwa kecantikan dapat mengambil peran yang strategis bagi celah keberuntungan hidup. Sebuah gambaran mengenai posisi perempuan dan tubuhnya berhadapan dengan benturan kebutuhan dan standar. Kondisi yang menempatkan perempuan kerap mengalami krisis eksistensi, sehingga ada dorongan pemenuhan ekspektasi nilai guna berkesempatan memperoleh ruang apresiasi.

ADVERTISEMENT

Di masa depan, transformasi Grace menjadi Milla menempatkan posisinya sebagai seorang istri dengan suami sukses bernama Jonathan. Ia juga dianugerahi anak perempuan bernama Angel yang dinilai sosial memiliki paras yang tidak secantik dirinya hari ini. Berbagai bullying media sosial yang diterimanya, membuat Angel punya krisis kepercayaan diri. Bahkan kondisi ini juga berpengaruh pada tekanan terhadap keluarga sosialita yang menginisiasi neneknya untuk memberi saran dilakukannya operasi plastik. Saran tersebut membuat Milla yang tidak setuju menjadi stress dan menyebabkan timbulnya gatal-gatal di tengkuk lehernya.

Ruam menjadi semakin parah dan membuat Milla terkadang berhalusinasi. Milla berobat ke dokter dan diberikan obat untuk meredakan penyakit tersebut. Liliana, ibu kandung Jonathan berpendapat bahwa penyakit tersebut diakibatkan Milla yang jarang ke gereja. Ruam Milla menyebar sampai ke sepertiga wajahnya. Pada saat berbincang-bincang dengan Irah pembantunya, secara tidak sengaja Irah mengatakan bahwa di masa kecilnya, ibunya menyebutnya dengan nama Grace. Milla yang terkejut langsung pergi ke rumah ibunya untuk mencari dokumen-dokumen yang membuktikan bahwa dia dulu bernama Grace. Jonathan datang menjemput Milla dan membawanya pulang. Seorang pendeta kemudian didatangkan untuk membersihkan jiwa Milla dengan cara menyelupkannya di kolam, tapi Milla terus berpikir tentang Grace. Ibu Milla mengingatkan Milla agar jangan terus berperilaku seperti itu bila tidak ingin kehilangan segalanya.

Dalam plot berikutnya, seorang perias bernama Erika diminta Liliana datang ke rumah Jonathan. Ia rupanya mengenali Irah sebagai pembantu salah satu temannya yang bernama Grace, tapi Liliana mengatakan bahwa mungkin dia salah mengenali orang. Setelah mendandani Angel, Erika masuk ke kamar Milla dan mengenali Milla sebagai Grace. Erika mengingatkannya tentang pertemanan mereka di masa kecil. Kemudian saat Erika berbincang-bincang dengan Liliana dan Jonathan, terungkap bahwa Milla pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan wajahnya rusak parah dan kemudian pindah dari Surabaya ke Jakarta di usia 14 tahun silam.

Di hari ulang tahun Liliana, Erika yang memakai baju yang dipinjamkan oleh Milla tampil memukau dan membuat banyak orang mengaguminya. Saat acara potong kue, Milla tiba-tiba muncul di depan para tamu dan merusak kue ulang tahun. Aksi tersebut direkam dan menjadi viral di sosial media, sehingga menyebabkan citra dari brand perusahaan yang merupakan kerja sama Jonathan dengan salah satu teman Liliana tercoreng. Jonathan membuat video untuk klarifikasi kepada para viewer dari brand Eternity Life dengan menjelaskan bahwa istrinya mempunyai penyakit mental.

Dampak dari aksi Milla tersebut membuat Irah dan Hatta (tukang kebun, sekaligus anak Irah) diberhentikan dan memutuskan untuk pulang kampung. Mendengar itu, Milla ingin mengikuti mereka dan meninggalkan kehidupannya. Milla mencoba mengajak Angel, tapi Angel menolaknya karena menganggap bahwa dia hanya mengenal kehidupannya yang sekarang dan berjanji akan menemukan ibunya suatu hari nanti.

Di akhir kisah, Milla akhirnya kabur naik dalam truk angkut yang dikendarai Hatta dan Irrah. Gambaran kehidupan desa nan asri dengan penghidupan khas pedesaan menjadi petani menjadi sugguhan akhir kisah ini. Masih menjadi misteri, gambaran ini merupakan kehidupan Milla setelah sampai desa, atau gambaran imaginatif perempuan yang merindukan ketentraman hidup lepas dari standar masyarakat ibu kota yang membelenggu.

***

Dalam umumnya kisah keluarga, berbagai permasalahan dalam keluarga Jonathan adalah umum. Kisah ini menjadi pelik dan menarik karena berangkat dari status keluarga tingkat atas dengan standar sempurna yang melekat padanya. Masalah dalam keluarga ini menjadi rumit karena adanya aspek yang tidak terpenuhi dalam berpasangan, tak lain adalah keserasian dan kesamaan frekuensi berpikir. Di lain sisi perbedaan latar belakang keluarga dari pihak Milla dan Jonathan juga menjadi salah satu pemicu terjadinya perbedaan sikap dalam menghadapi permasalahan hidup. Selain tumpang tindih kebutuhan dan upaya memenuhi harapan hidup dari keduanya, ketidakjujuran dan penyembunyian identitas adalah aspek yang sangat dihindari utamanya kelas sosialita.

Sekalipun hal tersebut dalam prakteknya dapat diselesaikan dengan upaya berkompromi, namun kesamaan frekuensi sebagai pondasi awal mampu meminimalisir hadirnya konflik karena perbedaan satu sama lain. Hal tersebut menjadi lumrah, utamanya dalam keluarga sosialita yang memandang pentingnya aspek kualitas, sebagaimana adagium terdahulu yaitu pentingnya pertimbangan bibit, bobot, bebet dalam memilih pasangan hidup.

A Normal Woman patut diapresiasi karena berani keluar dari zona nyaman dan mengeksplorasi tema-tema yang lebih kompleks dan gelap kehidupan masyarakat Indonesia utamanya dalam memandang dan menempatkan perempuan dalam keluarga. Hal tersebut menempatkan film ini yang tidak biasa dan membuatnya layak ditonton. Sebuah film yang sulit ditebak akhir ceritanya, namun berani dan jarang disadari runtutan permasalahan yang komplek dan membuat resah. Film ini tidak berusaha menyenangkan semua orang, dan itulah mengapa film ini menonjol. Jika Anda menyukai thriller psikologis dan dinamika keluarga yang kompleks, film ini mungkin kurang "nyaman" untuk ditonton, tetapi pasti akan membekas di ingatan dengan akhir yang masih misteri. Selamat menikmati.

Kabar Trenggalek - Hiburan

Editor: Tri