KBRT - Paparan polusi udara, asap rokok, hingga kebiasaan mengonsumsi makanan instan diminta untuk lebih diwaspadai masyarakat Trenggalek. Kombinasi faktor tersebut dinilai berisiko memicu gangguan kesehatan saluran pernapasan jika terjadi secara terus-menerus.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan polusi dari asap kendaraan, pembakaran, dan rokok, ditambah asupan makanan instan yang mengandung bahan pengawet, bisa memberi tekanan berlebih pada tubuh.
“Pengawet dalam dosis kecil mungkin masih dalam batas toleransi tubuh. Namun jika dikonsumsi berulang-ulang, dapat menimbulkan respons tubuh yang berbeda, salah satunya reaksi hipersensitif,” jelasnya.
Ia menerangkan, zat berbahaya yang masuk melalui saluran pernapasan dapat melemahkan sistem pertahanan alami tubuh. Padahal, pada kondisi normal, saluran napas manusia memiliki silia atau rambut halus yang berfungsi mendorong keluar zat asing lewat refleks batuk.
“Ketika seseorang merokok, silia ini menjadi tumpul, bahkan bisa diibaratkan gundul. Akibatnya, kuman bisa langsung masuk ke dalam tubuh dan pertahanan tubuh menjadi tidak optimal,” ungkap dr. Sunarto.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang munculnya berbagai penyakit paru, termasuk tuberkulosis (TBC). Risiko akan semakin besar jika paparan berlangsung dalam jangka panjang dan berulang.
“Paparan berulang akan memengaruhi saluran napas seperti bronkus dan bronkiolus, bahkan parenkim atau jaringan paru-paru. Alveoli sebagai tempat pertukaran oksigen juga tidak berkembang dengan baik,” terangnya.
Kerusakan yang terjadi secara perlahan itu dapat menurunkan fungsi paru-paru dan berujung pada Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Penyakit ini ditandai dengan produksi lendir berlebih serta terganggunya proses pertukaran oksigen.
“Penderitanya akan mengalami sesak napas yang berulang. Semakin sering terjadi, fungsi paru-paru semakin menurun dan menjadi tidak optimal,” kata dr. Sunarto.
Ia menambahkan, penderita PPOK membutuhkan penanganan jangka panjang, mulai dari pengobatan rutin hingga latihan pernapasan untuk membantu mempertahankan fungsi paru-paru yang tersisa.
Terkait asap rokok, dr. Sunarto menyebut penderita PPOK masih didominasi oleh laki-laki, seiring tingginya jumlah perokok aktif. Namun, dampak rokok tidak berhenti pada perokok itu sendiri.
“Perokok tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya yang ikut terpapar asap rokok,” ucap dia.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi paparan polusi, berhenti merokok, serta membiasakan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan penyakit paru kronis sejak dini.
Kabar Trenggalek - Kesehatan
Editor: Zamz





















