WATULIMO, TRENGGALEK - Di tengah kabar krisis bahan bakar minyak (BBM) dunia akibat konflik Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz, nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Trenggalek, justru masih bisa bernapas lega.
Hingga awal April 2026, stok solar untuk melaut disebut masih aman dan harga relatif stabil. Kondisi ini terjadi karena aktivitas melaut belum ramai, seiring belum masuknya musim ikan.
Seorang nelayan PPN Prigi, Sena, menyebut saat ini kebutuhan bahan bakar masih rendah karena banyak nelayan belum turun ke laut.
"Masih mudah untuk mencari solar. Karena belum musim ikan," kata Nelayan Trenggalek itu.
Ia juga memastikan harga solar belum mengalami kenaikan dan masih berada di kisaran normal. "Harga juga (solar) juga masih normal, Rp 6.800 per liter," ujarnya.
Pantauan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) setempat pun menunjukkan aktivitas yang cenderung sepi. Tidak tampak antrean atau lonjakan permintaan seperti yang biasanya terjadi saat musim tangkap.
Meski situasi saat ini tergolong aman, kekhawatiran justru muncul menjelang musim ikan yang diperkirakan mulai April hingga Mei. Pada periode itu, hampir semua nelayan melaut sehingga kebutuhan solar melonjak drastis.
"Musim ikan itu biasanya mulai bulan April - Mei. Saat itu sangat terasa sulitnya mencari solar karena semua nelayan berangkat mencari ikan sehingga kebutuhan solar pasti naik," tambahnya.
Dalam kondisi tersebut, nelayan bahkan harus berburu solar hingga ke luar daerah, seperti Tulungagung, Kediri, hingga Blitar.
Kebutuhan bahan bakar pun tidak sedikit. Untuk sekali melaut, kapal jenis purse seine bisa menghabiskan sekitar 400 liter solar, bahkan lebih jika lokasi tangkap berada jauh dari pantai.
"Kalau tidak dapat solar ya tidak bisa berangkat melaut. Jadi mau tidak mau harus mencari ke luar kota sampai dapat," ujarnya.
Kabar Trenggalek - Sosial
Editor: Zamz






















