POGALAN, TRENGGALEK - Di tengah banyak peternak yang sempat terpukul wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), Mujadi justru punya cerita berbeda. Peternak asal Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek itu berhasil membawa sapi peliharaannya menjadi hewan kurban Presiden RI Prabowo Subianto pada Iduladha 2026.
Yang bikin kisah ini menarik, sapi jenis simmental milik Mujadi ternyata bukan sapi biasa. Hewan berbobot 1,37 ton itu pernah dua kali terserang PMK, penyakit yang sempat membuat banyak peternak merugi besar.
Namun sapi tersebut berhasil bertahan setelah dirawat intensif selama berbulan-bulan.
Mujadi mengatakan, sapi itu dibelinya sekitar satu setengah tahun lalu dengan harga Rp35 juta. Saat pertama datang, ukuran sapi belum sebesar sekarang.
“Ternyata sempat dua kali kena PMK. Tapi alhamdulillah sapi ini kuat. Kalau sapi lain biasanya kakinya sudah tidak kuat berdiri, yang ini masih bertahan,” ujar Mujadi.
Pengalaman itu membuat Mujadi makin telaten merawat sapi peliharaannya. Ia bahkan sempat bernazar akan membesarkan sapi tersebut jika berhasil sembuh total dari PMK.
Perawatan yang dilakukan pun tidak asal. Setiap pagi sapi dimandikan agar tetap bersih dan nyaman. Pakan diberikan dua kali sehari berupa combor, jagung rebus, katul, ampas, hingga rumput hijau segar.
Hasilnya, sapi simmental berusia empat tahun itu tumbuh dengan ukuran jumbo. Panjang tubuhnya mencapai sekitar 2,5 meter dengan tinggi sekitar 167 sentimeter.
Setelah melalui proses seleksi, pemerintah akhirnya membeli sapi tersebut dengan harga Rp98 juta untuk kebutuhan kurban presiden di Trenggalek.
Bagi Mujadi, ini bukan pengalaman pertama. Tahun sebelumnya, ternaknya juga pernah dipilih menjadi hewan kurban presiden.
Pria yang mengaku sudah senang beternak sejak kecil itu mengatakan dirinya tetap bertahan di dunia peternakan meski sering diremehkan orang lain.
“Banyak yang bilang rugi kalau beli sapi sudah besar. Tapi saya memang senang ternak sejak kecil,” katanya.
Menjelang Iduladha, Mujadi juga melihat harga sapi kurban mengalami kenaikan cukup tinggi. Menurutnya, harga naik sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per ekor dibanding tahun sebelumnya.
Ia menduga kondisi itu terjadi karena stok sapi mulai berkurang. Banyak peternak disebut berhenti memelihara sapi setelah wabah PMK sempat menghantam sektor peternakan beberapa waktu lalu.
Kabar Trenggalek - Peristiwa
Editor: Zamz


















